Penyelenggara dan Pendukung Community Center surabaya
Yayasan Unilever Indonesia bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya serta LSM Wehasta
5 Pilar Program Community Centre Surabaya
5 Pilar tersebut diantaranya Lingkungan, Ekonomi, Komunikasi, Sanitasi dan Nutrisi.
Focus Group Discussion
Focus Group Discussion sistem bank sampah di wilayah Community Centre Surabaya, oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya.
Workshop IT dan Penulisan Kreatif
Seorang ibu anggota kelompok kerja pilar komunikasi saat “Workshop IT dan Penulisan Kreatif” di Ruang Pertemuan Kampoeng Ilmu Surabaya, 22 Oktober 2011.
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan dan Pengembangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan dan Pengembangan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 31 Januari 2015
Sabtu, 10 Januari 2015
Selasa, 15 Mei 2012
”Berpikir Global, Memetakan Lokal” Dengan Green Map, Ansos dan PRA
Setelah dua
hari (12,13/05/2012) Workshop "Pengenalan Green Map, Ansos dan PRA" di Villa Nasta Inn, Trawas, Mojokerto, niscaya
kapasitas Pengurus Paguyuban Fasilitator Lingkungan Surabaya akan meningkat. Fasilitator seakan diajak “berpikir global melalui pemetaan lokal”, dalam "meracik" program lingkungan.
Hal ini sejalan dengan kebutuhan
fasilitator sesuai perannya di Program Community Centre 2012, dimana
fasilitator masuk dalam struktur pelaksana program. Ia lah yang akan “mengawal”
program sejak awal, hingga pendampingan maupun monitoring dan evaluasi.
“Green Map” sangat membantu dalam
pemetaan wilayah binaan. Terlebih, sistem bank sampah, sebagai bagian dari
Pilar Lingkungan di Program Community Centre, akan direplikasi ke seluruh
wilayah Surabaya.
Green Map sendiri merupakan peta tentang
potensi alam, budaya dan elemen kehidupan keberlanjutan suatu kawasan. Baik yang bersifat positif maupun negatif dan dibuat oleh komunitas atau masyarakat
setempat, dengan menggunakan ikon peta
hijau (green map).
"Saya
pikir, fasilitator lingkungan adalah orang yang tepat untuk membuat Green Map
Surabaya dengan tema lingkungan. Tidak ada
yang lebih memahami wilayah, dibandingkan Bapak/Ibu sekalian. Dari banyak pengalaman, Green Map bisa dijadikan
dasar dan rekomendasi dari komunitas, untuk menyusun sebuah program”, ujar Catur,
dari PPLH Bali sekaligus anggota komunitas Green Map Indonesia yang kala itu
menjadi narasumber.
Materi Green Map semakin lengkap saat narasumber
berikutnya Abyz Wigati, seorang aktivis
pemberdayaan masyarakat dari Institut Pertanian Malang, memaparkan tentang
Ansos dan PRA. Disini para fasilitator diajarkan membuat dua macam tools (baca : alat, Red), yaitu Diagram Venn
dan Kalender Musim.
“Tools” yang
pertama, yaitu Dengan Diagram Venn. Disini kita bisa melihat seberapa “besar”
dan seberapa “dekat” kontribusi lembaga-lembaga yang ada di masyarakat,
terhadap sebuah komunitas. Semua disimbolkan dengan gambar lingkaran.
Komunitas, disimbolkan dengan gambar lingkaran yang terbesar.
Sedangkan lembaga yang ada di
komunitas, disimbolkan dengan lingkaran yang lebih kecil dari lingkaran
komunitas. Makin besar lingkaran sebuah lembaga, artinya makin besar kontribusinya terhadap komunitas dan sebaliknya. Makin dekat jarak peletakannya, artinya
makin dekat pula keberadaan program dari sebuah lembaga terhadap komunitas. “Melalui
Diagram Venn, kita akan lebih mudah dan cermat melihat potensi yang ada di
sekeliling kita”, ujar Wigati.
“Tools” berikutnya adalah “Kalender Musim”, bentuknya seperti
tabel yang berisi kegiatan atau kebiasaan di suatu wilayah dalam setahun dan dilakukan secara rutin, sehingga membentuk pola kebiasaan masyarakat di suatu
wilayah. Kalender Musim, akan bermanfaat ketika kita merencanakan
program atau kegiatan di suatu wilayah, termasuk penjadwalannya.
“Workshop
kali ini merupakan hal baru bagi fasilitator dan sangat bermanfaat untuk
menyusun program yang lebih terencana dan terarah”, ujar Wihartuti Dwi Rahayu
selaku Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. Ia pun
mengutarakan keinginannya dapat membuat Green Map bertema Bank Sampah Surabaya.
Jumat, 04 Mei 2012
Melajulah Kencang Program Bank Sampah Surabaya
Replikasi
Program Bank Sampah di Surabaya, sepertinya akan melaju kencang di tahun 2012.
Tak berlebihan kiranya, saat melihat antusias fasilitator Surabaya di acara
"Sosialisasi Pengembangan Program Lingkungan dan Bank Sampah Surabaya
2012".
Terlebih,
adanya Program Community Centre 2011 lalu, telah memberi "bekal"
cukup, dengan terbentuknya 10 wilayah percontohan dengan penerapan sistem bank
sampah yang cukup baik. Banyak wilayah di Surabaya yang ingin mengembangkan
sistem bank sampah, juga merujuk ke 10 wilayah Community Centre tersebut.
Acara
yang merupakan rangkaian Program Community Centre 2012 ini, sengaja
mengumpulkan seluruh fasilitator Kota Surabaya untuk menyamakan persepsi
tentang pengembangan bank sampah di Surabaya. Selain fasilitator, hadir pula
Dyah Katarina, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan Aditya Waskita,
Sekretaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya.
Dalam
sambutannya, Dyah menyampaikan dukungannya terhadap Program Bank Sampah maupun
Community Centre. "Program bank sampah sejalan dan bisa disinergikan
dengan program kerja PKK di Pokja 3 dan 4 yang membidangi program lingkungan
dan kesejahteraan masyarakat. PKK Kota sangat mendukung program ini", ujar
Dyah.
Saat
ini di Surabaya memang banyak yang mengembangkan Program Bank Sampah. Sejalan
dengan hal itu, Wihartuti Dwi Rahayu, Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan
Kota Surabaya, menilai ini peluang yang bagus.
Menurut
wanita yang kerap dipanggil Bu Agus ini, bank sampah yang sudah ataupun yang
akan dibentuk, perlu diseragamkan sistemnya, sehingga memudahkan dalam
melakukan evaluasi. "Selama ini, banyak wilayah yang ingin mengembangkan
bank sampah, karenanya pendampingan fasilitator sangat penting, khususnya dalam
pembentukan sistem dan administrasi", ujar Bu Agus.
Pun
demikian yang disampaikan Aditya Waskita, "Administrasi sistem bank
sampah, akan memudahkan melihat capaian bank sampah, baik dari segi reduksi
sampah dan omset. Ini juga yang menjadi perhatian Tim Adipura".
Tak
ketinggalan, Sisyantoko, selaku Ketua Wehasta sebagai mitra Yayasan Unilever
Indonesia dalam menjalankan Program Community Centre Surabaya, memaparkan
tahapan pembentukan sistem bank sampah. Tak
ayal, di akhir kegiatan, para fasilitator
saling berebut form pengajuan pembentukan bank sampah yang dibagikan kala itu.
Kita
nantikan, akan melaju sekencang apa Program Bank Sampah Surabaya di 2012 ini.
Menanti “Sentuhan Dingin” Fasilitator di Community Centre 2012
Sebuah
program di masyarakat, niscaya akan berkelanjutan manakala program tersebut
sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Terlebih, masyarakat bisa memahami bahwa
program itu akan tumbuh dari, oleh dan untuk mereka.
Pemahaman
inilah yang ingin dikuatkan dalam Program Community Centre Surabaya di 2012
ini. Program yang di-inisiasi Yayasan Unilever Indonesia sejak 2011 ini,
bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya, dan didukung oleh LSM
Wehasta dan Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya.
"Kami
melihat, potensi yang ada di Surabaya cukup besar, terlebih dari segi peran
serta masyarakatnya. Hal ini terwakili melalui peran fasilitator dalam
Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya", ujar Ima Novita
Rachmasari, selaku Environment Project Officer Yayasan
Unilever Indonesia.
Program
Community Centre 2012 pun, akan memberikan porsi besar kepada fasilitator
melalui wadah Paguyuban, untuk meningkatkan peran dan kapasitasnya.
Sebenarnya, peran fasilitator telah nampak pada program yang sama di tahun
2011. Namun di tahun ini, fasilitator akan terlibat lebih dalam, yaitu masuk
struktur pelaksana Program Community Centre 2012.
"Kami
ingin mengajak fasilitator sejak tahap perencanaan, pelaksanaan hingga
monitoring dan evaluasi program. Ini seiring dengan kapasitas fasilitator yang
terus meningkat dari waktu ke waktu", ujar Ima.
Jadilah
struktur "pengurus" Program Community Centre terbentuk dari hasil
diskusi dengan 35 Pengurus Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. Di
jajaran penasehat program, adalah Wihartuti Dwi Rahayu yang notabene adalah
Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya.
Koordinator
Program Community Centre, adalah M Tohir, yang saat ini menjabat Korwil
Fasilitator Surabaya Timur. Ia dan seorang wakilnya, akan berkoordinasi dengan
5 orang fasilitator yang masing-masing ditunjuk sebagai Penanggung Jawab
Program di tiap wilayah (Utara, Selatan, Pusat, Timur, Barat). Struktur
pengurus program juga dilengkapi dengan Humas yang bertanggung jawab sebagai
"jubir" program.
Seperti apa Program Community Centre 2012 dengan
“sentuhan dingin” fasilitator ? Kita nantikan.
Euforia Kerinduan di Penghujung Tahun 2011
Penghujung tahun 2011,
menjadi momen bagi Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya untuk “merapatkan barisan”,
menatap program lingkungan Surabaya di 2012.
Selama dua hari
(23,24/12/2011), Pengurus Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya,
seakan mendapat “refleksi akhir tahun” di acara develop yang dikemas outbond.
“Refleksi akhir tahun”
inipun terkemas ciamik. Diawali dialog
interaktif “Peran Sosial Di Masyarakat”, bersama
Dyah Katarina, Ketua Tim Pengrak PKK Kota Surabaya. Dialog pun menjadi tak
ubahnya “ajang curhat” lingkungan.
Disambung kemudian,
materi motivasi “Bekerja Dengan Hati” oleh Dhony Firmansyah, seorang Bio
Motivator. Di akhir materi, isak tangis pun pecah, seakan para fasilitator
meresapi betul bahwa yang mereka lakukan selama ini adalah “Bekerja Dengan Hati”.
Suasana makin akrab,
saat “motivator” berikutnya adalah Bambang Dwi Hartono, Wakil Walikota Surabaya.
Kehadiran figur yang selama ini punya andil besar dalam program lingkungan
berkelanjutan di Surabaya itu pun, ikut larut bersama fasilitator dalam riuh
lantunan bait lagu “kemesraan” hingga penghujung malam.
“Euforia kerinduan” pun tersaji
selama dua hari develop Pengurus Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya
itu. Seakan memberi energi baru bagi fasilitator, menatap program lingkungan
Surabaya di 2012.
Kamis, 03 Mei 2012
Aksi Ibu-Ibu "Girly" Di Hari Aksi Surabaya Selatan
![]() |
Di sisi
lain, "si bungsu" ini ternyata juga merupakan "saudara
tertua".
Bagaimana
bisa ?
Pasalnya,
di kawasan Surabaya Selatan yang terletak di sekitar Bantaran Sungai Brantas
inilah, sejak 2001 lalu, program lingkungan dan sampah mandiri bermula.
Maka tak
heran, jika waktu dua bulan, cukup baginya untuk "merekrut" sekitar
30 nasabah dan omzet hampir mencapai 1 juta rupiah. Sistem bank sampah pun
dijalankan dengan membentuk Bank Sampah "Girly".
Menurut
Ibu Bakar, Sang Manager, nama tersebut sengaja dipilih karena pengurus bank
sampah kebanyakan dari kalangan ibu. "Lagi pula, wilayah
ini kan berada di pinggir kali, jadi
kami singkat menjadi Girly", ujar Bu Bakar saat simulasi sistem bank
sampah, di hadapan warga setempat, fasilitator Surabaya Selatan dan Dyah
Katarina, selaku Ketua Tim Penggeak PKK Kota Surabaya yang menghadiri Hari Aksi
ketika itu.
Diakuinya,
kegiatan pemilahan sampah awalnya memang sempat mengalami "pasang
surut". Namun, sejak adanya sistem bank sampah, dengan pencatatan
perorangan, warga kembali termotivasi menyetorkan sampahnya. "Kami sangat
terbantu Program Community Centre dan sistem bank sampah bisa diterima oleh
warga", ujar Bu Bakar.
Dalam
kesempatan tersebut, Dyah Katarina juga meninjau sekaligus meresmikan Bank
Sampah "Girly".
Selain
bank sampah, warga juga mengembangkan kreasi daur ulang dan minuman rosella sebagai produk unggulan. Dyah Katarina juga sempat
melihat blog Community Centre Jambangan. Blog beralamatkan
www.jambangan-community.blogspot.com ini dikembangkan oleh Karang Taruna setempat.
Di akhir
Hari Aksi, Dyah berpesan agar apapun yang dikembangkan disini, bisa terus
dipertahankan dan ditingkatkan demi memberi manfaat untuk warga.
Kamis, 05 Januari 2012
Hari Aksi Wilayah Surabaya Barat
Rangkaian Hari Aksi Community Centre, pungkas di RW 5 Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri. Sebagai pamungkas, sajian Hari Aksi wilayah Surabaya Barat itu memang cukup menarik.
Aula RW 5, sore (30/11/2011) itu pun dibuat sesak oleh fasilitator, kader lingkungan, lurah dan camat se-wilayah Surabaya Barat. Hadir juga Pengurus Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. Tak ketinggalan, pengurus bank sampah dari 9 wilayah Community Centre Surabaya lainnya. Mereka sengaja diundang untuk mensosialisasikan bank sampah, melalui aneka tampilan semacam parodi maupun parikan.
Dyah Katarina, selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya juga hadir sekaligus meresmikan “Bank Sampah Lidah Harapan”, Kelurahan Lidah Wetan. Di depan bank sampah, sepasang merpati diterbangkan oleh Dyah Katarina bersama pengurus bank sampah, menandai peresmian tersebut.
Wilayah yang terletak di kawasan Perumahan Lembah Harapan itu, memang sudah sejak lama melakukan pemilahan sampah. Namun, sejak enam bulan belakangan, adanya Program Community Centre membawa banyak perubahan. Sejak saat itu, setiap dua minggu sekali, warga (nasabah, Red) menyetorkan sampah kering yang sudah terpilah sesuai jenisnya dari rumah, ke bank sampah.
Kini, Bank Sampah Lidah Harapan memiliki tiga cabang, yaitu di RT 1, 2 dan 3. Dari ketiga cabang itu, jika dikomulatifkan, setiap bulan omzetnya sekitar 800 ribu rupiah. Bahkan tak jarang juga, mencapai satu juta lebih.
“Sejak menjalankan sistem bank sampah, tiap bulan nasabah bank kami selalu bertambah”, ujar Nurjali Sang Manager. Sejalan dengan Nurjali, saat simulasi sistem bank sampah, Ibu Suladi, dari divisi administrasi mengaku, bahwa Ia selalu mencatat setiap perkembangan bank sampah, baik itu hasil penjualan, omzet hingga berapa reduksi sampah dan apa saja jenisnya.
“Jadi, kalau sewaktu-waktu ada yang ingin tahu perkembangan bank sampah, kita sudah siap dengan data-datanya”, ujar Ibu Heru, salah seorang pengurus bank sampah menambahkan. Kini, Bank Sampah Lidah Harapan telah memiliki 135 nasabah dan omzetnya lebih dari 4 juta rupiah.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang program lingkungan maupun Community Centre di Kelurahan Lidah Wetan itu, ada juga blog community centre, yaitu di www.lidahwetan-community.blogspot.com.
Di akhir Hari Aksi wilayah Surabaya Barat itu, Dyah Katarina menggambarkan kekagumannya atas Program Community Centre dan sistem bank sampah di kawasan perumahan tersebut. Di sebuah kanvas, Ia menulis “Ayo ubah sampah menjadi berkah. Mari berlomba-lomba menjaga lingkungan kita tetap bersih dan hijau. Ubah mindset, bahwa sampah harus dibuang, tapi harus dikelola dengan cerdas”.
Kunjungan Corporate Secretary PT Unilever Indonesia, Di Wilayah Community Centre Surabaya
"Tuku kelengkeng di pangan dewe, Community Centre Genteng memang oye", kalimat pantun ini terlontar dari Sancoyo Antarikso, Corporate Secretary PT Unilever Indonesia Tbk di tengah dialog bersama warga RW 8 Genteng Candirejo, Kelurahan Genteng, Surabaya.
Siang itu, Sabtu (10/12/2011), Ia bersama dr Leo Indarwahono, Manager Program Kesehatan Yayasan Unilever Indonesia berkunjung ke salah satu diantara 10 wilayah percontohan Program Community Centre Surabaya itu.
Senada dengan Sancoyo, dr Leo pun mengucap, "Luar biasa!" setelah keliling kampung, meninjau penerapan sistem bank sampah, proses pembuatan produk unggulan dan bagaimana wilayah itu mengolah sampah rumah tangga.
Di sela kedua "tamu istimewa" itu meninjau administrasi bank sampah, Wiwik, Manager Bank Sampah Gencar Mandiri menjelaskan bagaimana sistem bank sampah berjalan disitu.
"Pemilahan sampah, sudah kami lakukan sejak 2007. Saat itu, hasil pemilahan sampah masih dicatat secara global. Namun, sejak sekitar lima bulan belakangan, pemilahan sampah dicatat secara perorangan. Berapa kilogram dan rupiah yang dihasilkan nasabah, tercatat detil sesuai jenisnya. Tiap nasabah juga punya buku tabungan, jadi Ia tahu berapa nilai tabungan sampahnya di Bank Sampah Gencar Mandiri", ujar Wiwik.
Dijelaskannya, penjualan sampah dilakukan dua minggu sekali. Nasabah membawa sampah yang sudah terpilah sesuai jenis sejak dari rumah masing-masing. Wiwik juga mengakui, sejak adanya sistem baru ini, warga makin giat memilah sampah, nasabah juga bertambah tiap bulannya. Layaknya bank pada umumnya, nasabah pun mendapat "fasilitas". Untuk memenuhinya, pengurus bank adalah "memutar" dana tabungan para nasabah. Diwujudkan berupa simpan pinjam dan pelayanan kredit sembako maupun kebutuhan lain sesuai permintaan nasabah.
"Ini semua menggunakan uang hasil sampah. Ada bunganya juga, sehingga omzet bank sampah terus bertambah. Semua ini dari kesepakatan para nasabah", begitu ujar Wiwik.
Di sistem bank sampah seperti ini, juga diberlakukan Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib yang dibayarkan dengan hasil tabungan sampah. Hal ini lantaran, menurut Wiwik, ke depan, bank sampah ini ingin dijadikan koperasi.
Selepas meninjau bank sampah, "menu" berikutnya adalah proses pembuatan aneka makanan dan minuman olahan dari belimbing wuluh. Buah berwarna hijau ini, memang banyak ditanam oleh warga dan menjadi ikon Genteng Candirejo. Warga mengolahnya menjadi sirup, selai dan manisan. Ada juga sinom dan jamu produksi Kelompok Tani Candirejo.
Melihat potensi yang ada di Genteng, tak salah jika Sancoyo sempat berucap pantun seperti di atas. Ia mengaku kagum. Menurutnya, apa yang dilakukan disini benar-benar luar biasa, warga pun mendapat manfaat.
Senada yang disampaikannya saat dialog, "Bahwa keberadaan sebuah perusahaan, selain menjalankan kegiatan usaha juga harus memperhatikan dampak dan manfaatnya bagi lingkungan serta pertumbuhan masyarakat. Dan ini adalah sebuah keniscayaan", begitu tegasnya.
Sebelum meninggalkan lokasi, Ia pun sempat menyaksikan blog community centre Genteng. Acara kunjungan yang baru saja berlangsung, saat itu juga sudah tampil di www.genteng-community.blogspot.comRabu, 23 November 2011
Hari Aksi Wilayah Surabaya Timur

Baru dua bulan berjalan, bank sampah ini sudah menghasilkan omzet sekitar Rp 1,8 juta dengan nasabah mencapai 75 orang.
Bagaimana bisa pengurus Bank Sampah Manyar Mandiri, Kelurahan Manyar Sabrangan mencapainya ?
Afifah, Sang Manager pun membeberkan berbagai trik, saat simulasi sistem bank sampah di Hari Aksi Community Centre wilayah Surabaya Timur, Rabu (16/11/2011).
Ini adalah Hari Aksi "edisi kedua", yaitu di wilayah Manyar Sabrangan. Dyah Katarina, selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya hadir kala itu. Hadir juga, fasilitator dan lurah maupun camat se-wilayah Surabaya Timur.
Dalam sambutannya, Dyah Katarina menyampaikan, "Kita layak berbangga memiliki masyarakat dengan jiwa partisipatif yang tinggi, seperti disini. Khususnya di bidang lingkungan, melalui bank sampah. Masyarakat pun mendapat keuntungan ekonomis dari sampah. Salut untuk warga Manyar Sabrangan".
Sejalan dengan itu, Afifah mengakui bahwa, kebiasaan memilah sampah sebenarnya sudah dilakukan sejak lama, tapi sifatnya masih global. "Sejak ada sistem bank sampah, hasilnya dikembalikan pada nasabah, sesuai sampah yang disetornya. Selain administrasinya juga makin rapi", ujar Afifah.
Lebih lanjut dijelaskannya, pengurus bank sampah Manyar Mandiri, selain dari kalangan ibu-ibu kader lingkungan, juga Karang Taruna. Kalangan muda usia ini pun, perannya cukup dominan. Tiap Hari Minggu, dua minggu sekali saat bank dibuka, Karang Taruna lah yang melakukan pencatatan dan penimbangan sampah. "Kadang hingga siang hari kita baru selesai, padahal bank sudah buka sejak jam 8 pagi", ujar Andik salah seorang pengurus dari Karang Taruna.
Karena inilah, nasabah sepakat jika hasil penjualan sampah, sejumlah 90% untuk nasabah dan 10% untuk kas Karang Taruna. Pihak bank juga memberi fasilitas pinjaman bagi nasabah. "Apa ada, bank memberi kredit, tapi bayarnya pakai larakan (baca : sampah,Red)?, adanya ya di bank sampah", ujar Afifah disambut tawa audiens.
Seusai simulasi, peserta digiring melihat display produk unggulan "asli bikinan" warga Manyar Sabrangan. Diantaranya, souvenir dan hiasan berbahan dasar sampah plastik yang dilelehkan, ada juga telur asin buatan warga setempat.
Berlanjut meninjau bank sampah. Disini, Dyah Katarina sempat menorehkan kalimat motivasi di atas kanvas.
Bertolak dari bank sampah, "menu" berikutnya adalah meninjau water treatment. Alat ini dimanfaatkan warga untuk mengolah air limbah rumah tangga, menjadi lebih bersih dan tak berbau. Gunanya untuk menyiram tanaman.
Hingga sampai di "suguhan" terakhir, Karang Taruna menunjukkan blog milik Manyar Sabrangan. Begitu klik manyarsabrangan-community.blogspot.com, muncul acara Hari Aksi yang baru berlangsung. Tak ketinggalan, Dyah Katarina pun menulis komentar di blog tersebut.
Rabu, 16 November 2011
Hari Aksi Wilayah Surabaya Utara
Masih terbayang, begitu menggebu dan fasihnya Ibu Made, Manager Bank Sampah Bersih Ceria-Bulak Banteng bercerita tentang sistem bank sampah di wilayahnya. Masih terbayang juga, mimik serius ibu-ibu Tim Penggerak PKK Kota Surabaya menyimak simulasi sistem bank sampah. Belum lagi, antusias fasilitator se-Surabaya Utara mengerubuti pengurus Bank Sampah Bersih Ceria. Layaknya reporter, mereka menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang pembukuan dalam sistem bank sampah. Ada juga produk unggulan asli bikinan warga Bulak Banteng, seperti olahan makanan dari lele, keripik bayam dan sinom.
Hingga menjelang sore hari, mereka berkunjung meninjau Bank Sampah Bersih Ceria. Disitu pula, dari sebuah proyektor, pengunjung disuguhi blog yang memuat aktifitas di Bank Sampah Bersih Ceria. Acara Hari Aksi yang baru saja berlangsung pun, sudah diunggah ke www.bulakbanteng-community.blogspot.com milik wilayah Community Centre Bulak Banteng.
Itulah suasana Hari Aksi Community Centre "edisi perdana", yaitu di wilayah Surabaya Utara pada Rabu (9/11/2011).
Sejak dimulai pukul 3 sore, mendung kelam bergelayut, namun acara Hari Aksi Community Centre tetap bergulir begitu hangat dan asik. "Senang rasanya, saya jadi tahu tentang bank sampah. Saya akan coba lakukan di wilayah saya", ujar salah seorang fasilitator Surabaya Utara.
Hari Aksi Community Centre, digelar bergiliran sekali di 5 titik Surabaya (Utara, Selatan,Pusat, Timur, Barat). Disini, masyarakat bisa mempelajari bagaimana Program Community Centre berjalan di suatu wilayah, khususnya tentang sistem bank sampah.
Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya cukup apresiatif dengan diadakannya Hari Aksi. Seperti yang diutarakan Widya Wilopo, perwakilan TP PKK Kota Surabaya, "Di TP PKK Kota Surabaya juga terdapat Pokja yang membidangi lingkungan, karenanya PKK Kota Surabaya mendukung adanya Community Centre".
Jumat, 04 November 2011
Kembangkan Blog Inspiratif Community Centre
![]() |
| Ketua TP PKK saat membuka Workshop IT dan Penulisan Kreatif |
Bertempat di Kampoeng Ilmu Surabaya, selama dua hari (21-22/10/2011), para kelompok kerja pilar komunikasi Community Centre mengikuti Workshop Penulisan Kreatif dan IT. Sebagai narasumber penulisan kreatif adalah Diana AV Sasa, seorang penulis buku dan Hetty Palestina, salah seorang Redaktur Harian Radar Surabaya. Sedangkan workshop IT disampaikan oleh Putut Hermawan dari Jasawebsite.com.
Acara dibuka oleh Dyah Katarina, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya. Dalam sambutannya Ia mengatakan, "Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan secara bertanggung jawab dan efektif. Saya berharap melalui workshop ini, peserta bisa menulis hal positif tentang kampungnya agar menjadi inspirasi".
![]() |
| Seorang ibu saat Workshop IT dan penulisan kreatif |
Usai workshop, sepuluh wilayah Community Centre pun memiliki blog masing-masing. Blog ini akan dikelola oleh kelompok kerja pilar komunikasi. Besar harapan, perjalanan program Community Centre tiap wilayah bisa diakses dan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas. (fjr_kkek)


















