Selamat Datang di Blog Community Centre Surabaya

www.communitycentresby.blogspot.com.

Penyelenggara dan Pendukung Community Center surabaya

Yayasan Unilever Indonesia bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya serta LSM Wehasta

5 Pilar Program Community Centre Surabaya

5 Pilar tersebut diantaranya Lingkungan, Ekonomi, Komunikasi, Sanitasi dan Nutrisi.

Focus Group Discussion

Focus Group Discussion sistem bank sampah di wilayah Community Centre Surabaya, oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya.

Workshop IT dan Penulisan Kreatif

Seorang ibu anggota kelompok kerja pilar komunikasi saat “Workshop IT dan Penulisan Kreatif” di Ruang Pertemuan Kampoeng Ilmu Surabaya, 22 Oktober 2011.

Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juli 2012

Menuai “Ceria” Hasil Tabungan Sampah Setahun

Sore itu (18/07/2012), Kantor Bank Sampah “Bersih Ceria”, di RW 2 Kelurahan Bulak Banteng, didatangi puluhan nasabahnya. Bukan lantaran ingin berdemo, namun para nasabah yang kebanyakan ibu-ibu itu, akan menerima tabungan sampahnya yang ditabung selama kurun waktu setahun belakangan.
Peristiwa ini baru pertama kali terjadi di Bank Sampah Bersih Ceria, salah satu bank sampah di wilayah Program Community Centre Surabaya. Sumringah, jelas itulah ekspresi yang terpancar di setiap raut wajah para nasabah. Sore itu, mereka benar-benar membuktikan jargon yang kerap mereka dengar, bahwa “Sampah Jika Dikelola, Akan Mendatangkan Berkah”. Jerih payah nasabah selama setahun memilah sampah sesuai jenis sejak dari rumah pun, terbayar lunas.
Seperti diketahui, sejak menjalankan sistem bank sampah, hasil penjualan sampah di Bank Sampah Bersih Ceria akan dikembalikan ke nasabah, setelah satu tahun sejak bank sampah berdiri. Terhitung saat pertama kali menjual sampah pada tanggal 17 Juli 2011, begitu sistem bank sampah dijalankan di RW 2 Bulak Banteng. Hal ini merupakan kesepakatan para nasabah.
“Waduh dapat berapa ya, semoga cukup untuk Megengan (budaya tasyakuran menjelang Bulan Suci Ramadhan, Red),ujar Wayan, salah seorang nasabah yang juga pengurus Bank Sampah Bersih Ceria. Ibu satu anak ini sudah menjadi nasabah sejak Bank Sampah Bersih Ceria berdiri.
Sejalan dengan Wayan, Ni G.A Made sang Manager mengamini. “Memang kebanyakan nasabah mengaku uangnya akan dipakai untuk belanja keperluan megengan, jadi kami sebagai pengurus memilih waktu yang tepat untuk membagikannya. Semua ini berdasarkan kesepakatan nasabah“, ujar Made.
Genap setahun, Bank Sampah Bersih Ceria telah meraup omzet sejumlah Rp 6 juta dan memiliki 82 nasabah. Tiap bulan, rata-rata mampu mereduksi sampah an organik sekitar 500 kg. Tabungan yang diperoleh nasabah pun beragam. Menurut Made, minimal seorang nasabah setidaknya mendapat Rp 40 ribu. Bahkan, ada juga yang meraup hingga ratusan ribu rupiah. Wow!
Heni Lestari, selaku pendamping Program Community Centre mengatakan, “Ibu-ibu, berapapun yang didapat oleh nasabah, itu adalah hasil kerja keras selama satu tahun. Bisa saja cukup, bisa juga sangat kurang. Namun yang utama disini adalah penyelamatan lingkungan. Uang yang diperoleh, hal itu adalah bonus bagi nasabah”.
Heni melanjutkan, yang terpenting dalam menjalankan sistem bank sampah, adalah adanya rasa saling percaya antara nasabah dan pengurus. Dengan begitu, program bisa berjalan dengan baik dan berkembang.
Seperti yang dirasakan Made selama setahun menjadi Manager Bank Sampah Bersih Ceria. Menurutnya, waktu satu tahun masih merupakan tahap pembelajaran, yang terpenting adalah kemauan untuk mencoba dan terus belajar. Awalnya, kebanyakan nasabah belum tahu cara memilah sampah. Tapi sekarang nasabah sudah pintar semua.
“Nah, sudah dapat ilmu, dapat uang tabungan dari sampah lagi. Terima kasih buat Unilever, PKK Kota, Wehasta dan Paguyuban Fasilitator yang selama setahun ini telah membimbing kami. Semoga Bank Sampah Bersih Ceria bisa terus eksis, nasabah dan reduksi sampah bertambah, lingkungan juga semakin bersih”, ujar Made penuh semangat.
Genap setahun berjalan, nasabah Bank Sampah Bersih Ceria pun akhirnya menuai ceria.
Tetap ceria ya!

Selasa, 17 Juli 2012

Kecil-Kecil Jadi Nasabah Bank Sampah

“Aku bisa bermain kapan saja. Tapi saat ada penimbangan di Bank Sampah Flamboyan, aku akan datang dan membantu Ibu”. Mungkin kalimat tersebut yang ada di benak Raihan kala itu. 

Bocah berusia 7 tahun itu, tampak menghampiri sang Ibu yang sedang “bertugas” di bank sampah. Disaat teman-teman sebayanya sibuk bermain, Ia malah “ikut-ikutan sibuk” di bank sampah.
“Awalnya saya kira Ia datang ke bank sampah untuk minta uang jajan ke ibunya, eh ternyata Ia membawa buku tabungan dan sampah yang sudah terpilah dari rumah”, ujar Tri Mulyono, pendamping program bank sampah dari LSM Wehasta.
Ibunda Raihan, Elly Indrawati adalah Sekretaris Bank Sampah Flamboyan di RW 2 Ngaglik Baru, Kelurahan Kapasari, Kecamatan Genteng. Mungkin saja, sifat peduli lingkungan Raihan lantaran mewarisi sifat sang ibunda yang pengurus bank sampah.
Bank Sampah Flamboyan sendiri, baru berjalan ­+ satu bulan belakangan. Merupakan salah satu bank sampah baru di Program Community Centre 2012. Penjualan dilakukan 2 minggu sekali dan kini telah memiliki 43 nasabah. Dari situ, Bank Sampah Flamboyan telah mereduksi 400 kg sampah an organik dan berhasil meraup omset Rp 379.100,-.
“Ikut sibuk” di bank sampah seperti ini, bukan pengalaman pertama bagi bocah yang duduk di kelas 2 SDN KAPASARI VIII ini. Setiap Bank Sampah Flamboyan buka, Ia selalu datang membawa buku tabungan dan sampah terpilah. Bahkan, Ia juga “turut andil” membantu pengurus mengemas sampah terpilah dari para nasabah. “Mau bantu ibu, biar rumah bersih, kampung juga bersih, nanti uangnya bisa untuk tambahan sekolah”, akunya polos saat ditanya alasan mengapa ikut sibuk di bank sampah.
Selama dua kali penjualan sampah, kebiasaan Raihan, setelah menyetor sampah Ia tak lantas pulang. Dibantunya para pengurus bank sampah, misalnya menempatkan sampah yang sudah ditimbang sesuai jenis hingga saat sampah dijual ke pengepul.
Diakui beberapa tetangga Raihan, bocah ini memang pintar, juara kelas pula. Saat penerimaan Rapor Kenaikan Kelas beberapa minggu lalu, Raihan mendapat Rangking 1 di kelasnya.
Apa yang dilakukan Raihan, tampak sederhana. Entah disadarinya atau tidak, Raihan telah menjadi bagian sebuah pekerjaan besar dan mulia, yaitu penyelamatan lingkungan.
Tetap semangat dan ajak teman-temanmu ya Han!
(Tri M)

Selasa, 10 Juli 2012

Si “Girly”, Tebar Manfaat Dari Pinggir Kali

Bank sampah ini, tak hanya namanya yang menarik. Namun, beberapa hal yang dilakukan pengurus demi menjaga sistem bank sampah dapat berjalan dengan baik dan makin bermanfaat pun, juga menarik dicermati.
Berlokasi di RW 3 Kelurahan Jambangan, bank sampah ini dinamakan “Girly”. Diakui Sampuri, salah seorang pengurusnya, nama ini dipilih lantaran keberadaan bank sampah yang di pinggir kali (Sungai, Red). Selain itu, motor penggerak bank sampah mayoritas adalah ibu-ibu. Jadilah bank sampah ini dinamakan “Girly” alias pinggir kali.
Menurut Sampuri, pemilahan sampah sudah dilakukan sejak lama. Namun, dulu uang hasil penjualan sampah dimasukkan kas RT atau kas lingkungan. “Kami juga pernah rekreasi ke Jogja berkat tabungan sampah. Kala itu warga menyebutnya rekreasi naik sampah”, kenang Sampuri.
Hingga Yayasan Unilever Indonesia mengembangkan Program Community Centre pada 2011, dengan tahap awal membentuk sistem bank sampah. Jambangan RW 3 pun menjadi salah satu wilayah percontohan, meski masuknya belakangan dibanding wilayah Community Centre lainnya.
Namun begitu, perkembangan Bank Sampah Girly tak kalah dengan “saudara tua” Community Centre lainnya. Jika dirata-rata, Bank Sampah Girly tiap bulan meraup omset 1 juta rupiah dan mereduksi + 700 kg sampah an organik.
 “Kami menerima Program Community Centre di RW 3 Jambangan dengan senang hati. Terlebih, ini sifatnya bukan lomba namun program pendampingan jangka panjang”, ujar Sri Suwati, Manager Bank Sampah Girly. Ditambahkan oleh wanita yang akrab dipanggil Bu Bakar ini, warga senang dan termotivasi sejak adanya sistem bank sampah, karena dalam setahun hasil penjualan sampah akan dikembalikan ke warga.
Setelah berjalan selama 8 bulan, pengurus berinisiatif “memutar” uang tabungan sampah warga, yaitu melalui kegiatan simpan pinjam. “Selama ini, warga kerap didatangi bank thitil (pinjaman dengan bunga harian, Red) yang biasa memberi hutang pada warga dengan bunga yang tinggi dan memberatkan.
Namun, sejak adanya simpan pinjam dari Bank Sampah Girly, nasabah sangat senang. Pinjaman bisa diangsur selama 12 minggu dengan bunga 10 %, dari hasil menabung sampah pula”, ujar Bu Bakar penuh semangat.
Diakuinya, selama ini operasional bank sampah dilakukan oleh pengurus secara sukarela. Ini semua agar bank sampah bisa berjalan dengan baik dan warga terus semangat memilah sampah.
Inilah yang memantik ide dari Bu Bakar dan pengurus bank sampah membuka usaha catering “Girly”. “Alhamdulillaah, selama dua bulan berjalan, keuntungannya lumayan. Bisa menambah uang belanja ibu-ibu pengurus Bank Sampah Girly”, ujar Bu Bakar.
Ia berharap, usaha catering Girly juga bisa membantu ibu-ibu yang selama ini bekerja sosial menjadi pengurus bank sampah. “Syukur alhamdulillaah, hingga kini Bank Sampah Girly tetap berjalan dengan baik dan makin memberi manfaat, tak hanya bagi nasabah, namun juga bagi pengurus”, pungkas Bu Bakar.

Jumat, 25 Mei 2012

Berkah Bank Sampah Bagi “Si Kumis Tipis”

Kreatif nian ibu-ibu kader lingkungan di RW 2 Kelurahan Jeruk, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya ini. Banyaknya budidaya lele yang dikembangkan oleh masyarakat sekitar, membuahkan ide bagi mereka untuk memanfaatkan “ikan berkumis tipis” itu, tidak sekedar menjadi lauk saat makan. Namun, mulai ujung kumis hingga ekornya, semua diolah menjadi aneka manakan ringan.

Dagingnya yang empuk, dijadikan bahan dasar membuat isi abon, lemper dan pastel. Sedangkan kulitnya, dijadikan keripik. Dari sekian menu makanan itu, abon lele menjadi menu andalan yang laku keras. Adalah Imron, Ketua RT 3 / RW 2 Kelurahan Jeruk, penggagas usaha aneka makanan ringan dari lele tersebut. Bersama sang istri, usaha ini sebenarnya telah digelutinya selama sekitar dua tahun belakangan.

Seiring waktu, usahanya pun terus berkembang. Terlebih, sejak RW 2 Kelurahan Jeruk menjadi salah satu wilayah percontohan Program Community Centre. Program inisiasi Yayasan Unilever Indonesia, bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh LSM Wehasta dan Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya itu, “singgah” di RW 2 Kelurahan Jeruk, pertengahan 2011 lalu.

Terpilihnya RW 2 Jeruk menjadi wilayah percontohan, seakan membawa berkah bagi “usaha rumahan” Imron dan istri tersebut. Sejak saat itu, warga mengembangkan sistem bank sampah yang merupakan “pintu masuk” Program Community Centre. Dalam kurun waktu dua bulan, Bank Sampah Jeruk Ceria mampu menjaring lebih dari 100 nasabah, omset dan reduksi sampah pun kian meningkat dari waktu ke waktu.

Moncernya bank sampah di wilayah eks pedesaan di kawasan Surabaya Barat itu pun menarik perhatian banyak kalangan. Bank Sampah Jeruk Ceria makin sering mendapat kunjungan dari wilayah yang ingin mengembangkan sistem bank sampah. Makanan ringan dari lele pun, selalu disajikan saat tamu berkunjung.

Hingga suatu hari, salah satu media televisi lokal datang meliput profil Bank Sampah Jeruk Ceria. Sajian makanan ringan dari olahan lele yang dikembangkan Imron, tak luput dari bidikan kamera dan ikut diliput pula. Tak lama setelah tayang di televisi, Imron kebanjiran order. “Banyak orang yang memesan makanan lele saya, karena melihat siaran profil di tv”, begitu ujar Imron.

Merasa usahanya makin berkembang, Ia pun mengajak warga sekitar yang notabene nasabah Bank Sampah Jeruk Ceria untuk menjadi “karyawan” nya. Omsetnya pun meningkat tajam. Sejak saat itu, penjualannya mencapai 3 – 4 juta rupiah perbulan. “Lumayan, dalam sebulan bisa dapat laba bersih 1,5 – 2 juta rupiah setelah dipotong biaya operasional dan gaji lima orang karyawan. Dalam seminggu, kita membutuhkan sedikitnya 25 kg lele”, ujarnya.

Belakangan, usaha mengolah lele menjadi makanan ringan itu menjadi usaha bersama warga sekitar. Makanan berbahan dasar “si kumis tipis” itu, diberi merk “Abon Lele Jeruk Ceria”, sama dengan nama bank sampah disitu. Selain menerima pesanan, Ia juga menjual ke toko, warung dan pasar di sekitar Kelurahan Jeruk. “Alhamdulillaah, sejak adanya Program Community Centre dan bank sampah, warga mendapat tambahan pemasukan”, pungkas Imron. Saat ini, Ia juga mengembangkan krupuk lele, yang diakuinya terasa gurih khas lele.

Berawal dari bank sampah, kini Kelurahan Jeruk memiliki produk unggulan baru hasil olahan “si kumis tipis”, guna membantu perekonomian masyarakat sekitar. Haha...

Info pemesanan hubungi : 03172619052

Jumat, 04 Mei 2012

Berkah Melimpah Di Bank Sampah Manyar Mandiri

Wajah Afifah nampak berbunga-bunga. Tak disangkanya, pagi itu Ia mendapat tawaran modal untuk pengembangan “bisnis” telur asin yang sudah Ia tekuni selama + setahun belakangan. Selama ini, setiap kali Ia “kulak” telur mentah, Ia harus “deposit” uang sejumlah 5 juta rupiah untuk mendapat jatah sekitar 3000 biji telur yang akan diolahnya menjadi telur asin.
Lalu, dari mana tawaran modal itu berasal ?
Pagi itu, Pudji, fasilitator Kelurahan Manyar Sabrangan, Mulyorejo, Surabaya bersama beberapa Pengurus Bank Sampah Manyar Mandiri, Manyar Sabrangan mendatangi rumah Afifah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut.
Menurut Pudji, inisiatif ini lahir karena melihat omset Bank Sampah Manyar Mandiri yang terus menanjak tiap bulannya. Bank Sampah yang baru berjalan selama + 5 bulan itu, sudah mampu mengumpulkan omset lebih dari 5 juta rupiah.
“Sebenarnya pengurus sempat menawarkan pinjaman kepada nasabah, tapi hanya sedikit yang berminat karena kebanyakan ingin uangnya ditabung. Daripada omsetnya nganggur, kan bisa memberi manfaat untuk pengembangan usaha Bu Afifah”, ujar Pudji.
Menariknya lagi, menurut Pudji, pinjaman modal tersebut tidak dikenakan bunga. Menurutnya, ini adalah salah satu cara untuk memotivasi warga, bahwa dengan menjadi nasabah Bank Sampah Mandiri, Ia akan mendapat banyak manfaat. Targetnya adalah membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.
Lalu, apa yang membuat omset Bank Sampah Manyar Mandiri melesat begitu cepat ? Ya, kebiasaan memilah sampah, sebenarnya telah lama dilakukan warga setempat. Terlebih, Bank Sampah Manyar Mandiri didukung penuh oleh berbagai kalangan yang ada. Tidak hanya dari kalangan ibu, aparat setempat seperti RT dan RW juga mendukung. Bahkan, remaja Karang Taruna (Kartar) ikut andil dalam program lingkungan maupun bank sampah.
Diutarakan Pudji, dulu, hasil penjualan sampah 70% masuk kas lingkungan, yang 30% masuk kas Kartar. Ini sudah menjadi kesepakatan warga, karena anak-anak Kartar ikut andil dalam pemilahan dan pengepakan sampah terpilah. Namun, setelah adanya Sistem Bank Sampah, yang mana hasil penjualan sampah dikembalikan pada nasabah, warga makin semangat. Ini merupakan buah dari terpilihnya RW 3 Kelurahan Manyar Sabrangan sebagai salah satu wilayah percontohan Program Community Centre Surabaya.
“Kami pun menyesuaikan pembagian hasil penjualan sampah, jadinya untuk nasabah 90%, untuk kas Kartar 10%. Bagi kami, ini tidak jadi masalah, karena didasarkan kesepakatan warga dan kegiatan Kartar juga tetap berjalan”.
Motivasi warga untuk menjadi nasabah pun berlipat. Hingga akhir Maret 2012, nasabah Bank Sampah Mandiri tercatat sejumlah 183 orang. Bahkan, kini Bank Sampah Mandiri memiliki cabang di salah satu RT.
Banyaknya nasabah, membuat Bank Sampah Manyar Mandiri kini buka seminggu sekali, tiap Hari Minggu. “Dulu, kami buka dua minggu sekali, sekarang seminggu sekali tiap Hari Minggu. Tak jarang, kami harus buka sampai jam 3 sore untuk melayani nasabah. Kami tidak ingin mengecewakan nasabah yang sudah semangat memilah sampah”, ujar Andik, salah satu anggota Kartar yang juga pengurus Bank Sampah Manyar Mandiri.
Hal ini, membuat kreatifitas Andik muncul. Untuk efisiensi waktu dan tenaga, Ia membuat sistem administrasi di komputer untuk memudahkan pencatatan data bank sampah. “Kini, semua proses bank sampah sudah komputerisasi. Pengurus cukup sekali saja mengisi data jenis dan berat sampah serta nama nasabah yang menabung, maka data sudah terintegrasi ke buku besar, data mingguan, bulanan”.
Diakui Andik, sistem komputerisasi ini memudahkan siapapun yang ingin mengetahui data detil Bank Sampah Manyar Mandiri, kapan pun juga, hanya dengan menulis nama nasabah. Bahkan, bank sampah ini kerap mendapat kunjungan dari wilayah lain di Surabaya maupun luar kota yang ingin belajar tentang sistem bank sampah.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More