Selamat Datang di Blog Community Centre Surabaya

www.communitycentresby.blogspot.com.

Penyelenggara dan Pendukung Community Center surabaya

Yayasan Unilever Indonesia bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya serta LSM Wehasta

5 Pilar Program Community Centre Surabaya

5 Pilar tersebut diantaranya Lingkungan, Ekonomi, Komunikasi, Sanitasi dan Nutrisi.

Focus Group Discussion

Focus Group Discussion sistem bank sampah di wilayah Community Centre Surabaya, oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya.

Workshop IT dan Penulisan Kreatif

Seorang ibu anggota kelompok kerja pilar komunikasi saat “Workshop IT dan Penulisan Kreatif” di Ruang Pertemuan Kampoeng Ilmu Surabaya, 22 Oktober 2011.

Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juni 2012

Belajar Nulis ? Pakai Rumus ATM Saja

Dewi, Ibu berusia sekitar 60 tahun itu akhirnya berhasil membuat sebuah “karya tulis” dari sebuah peraga berupa bunga plastik di atas pot. Dengan menerapkan "Rumus ATM", di atas secarik kertas, dalam waktu 10 menit, Ia pun berhasil merangkai sedikitnya 4 paragraf tulisan.
Ia bersama perwakilan dari 10 wilayah Community Centre Surabaya lainnya, Kamis (14/06/2012), mengikuti Pelatihan Blog dan Penulisan Kreatif. Development Kelompok Kerja Pilar Komunikasi dalam Program Community Centre ini, ditujukan agar tiap wilayah bisa intens mengembangkan blog yang dimiliki. Selama ini, pengelola blog Community Centre kerap mengalami kendala tentang bagaimana cara mengawali membuat tulisan.
Seperti halnya Dewi, menulis adalah pengalaman baru bagi ibu rumah tangga paruh baya itu. Ada juga Sutanto, pria yang akrab dipanggil Kung Tanto lantaran seluruh rambutnya telah memutih ini, juga "berhasil" merangkai tulisan. Rumus ATM, membuat Koordinator Fasilitator Wilayah Surabaya Timur ini, mampu membukukan empat paragraf tulisan. Menariknya, Ia membaca tulisannya dengan nada, alias di-lagu-kan. Jadilah seluruh peserta ikut dalam lantunan "lagu" Kung Tanto.
Dengan "rumus ATM", baik Dewi, Sutanto maupun peserta lainnya, menemukan cara mudah membuat sebuah tulisan. Lalu, seperti apa sebenarnya "Rumus ATM" itu? ATM, diartikan sebagai Amati, Tulis dan Modifikasi.
Bunga plastik di atas pot itulah yang dijadikan "obyek" latihan menulis. Ia di-Amati dari berbagai sudut, baik ciri fisik seperti warna, bentuk, kegunaan, asal-usul dan lain sebagainya. Kemudian, hasil pengamatan di-Tulis kata perkata sebagai data awal penyusunan tulisan. Data-data itulah yang kemudian di-Modifikasi dan dirangkai menjadi sebuah tulisan.
“Hanya dari hal sederhana, seperti bunga plastik di atas pot pun bisa disusun sebuah tulisan. Bayangkan jika kita menerapkan Rumus ATM untuk kegiatan bank sampah di wilayah Bapak/Ibu, akan ada banyak data yang bisa ditulis untuk menjadi inspirasi baru bagi pembaca tulisan Bapak/Ibu", ujar Fajar Ramdhani dari Environment Team Yayasan Unilever Indonesia yang kala itu menjadi narasumber penulisan kreatif.
Menurut Fajar, menulis adalah selera dan orisinilitas. Setiap orang memiliki gagasan dan cara menulis yang berbeda-beda, semua adalah proses. "Bagus atau jelek itu relatif, yang penting Bapak/Ibu harus mencoba dulu, karena jika tidak, maka tidak akan lahir sebuah tulisan. Kita tak pernah tahu, manakala orang lain mendapat inspirasi dari tulisan kita, bukan?", ujar Fajar.
Bertolak dari pelatihan ini, setiap blog di wilayah Community Centre akan dikompetisikan. Rubrik yang ada di tiap blog, akan diseragamkan, juga akan diamati blog yang sering berkomentar atau dikomentari. Ini ditujukan, agar tiap pengelola blog Community Centre terpacu memanfaatkan media online sebagai salah satu sarana "promosi" kampungnya.
Kita tunggu karya-karya tulis berikutnya ya..

Jumat, 04 Mei 2012

Tertarik Menjalankan Sistem Bank Sampah? Begini Caranya...

Apa yang ada dalam benak Anda, saat mendengar kata "sampah"?
Apakah sampah selalu Anda identikkan dengan efek negatif yang ditimbulkannya ?
Persepsi seseorang terhadap sesuatu, sangat mempengaruhi cara seseorang memperlakukan sesuatu itu.
Begitu pula dengan "sampah". Apapun yang dipersepsikan sebagai sampah, niscaya akan diperlakukan layaknya sampah pula. Dibuang begitu saja dan tidak diolah, layaknya barang yang tidak punya nilai guna.
Lain halnya, jika "sampah" di-persepsi-kan sebagai barang berharga. Ia akan diperlakukan layaknya barang bernilai guna yang memiliki nilai jual. Inilah yang terjadi pada Sistem Bank Sampah. Sebuah manajemen atau alur pengelolaan sampah, khususnya an organik, yang dilakukan sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Sampah dikelola secara kolektif dan sistematis, sehingga bisa memberikan manfaat bagi lingkungan juga berdampak ekonomis bagi masyarakat.
Sama halnya dengan bank pada umumnya, bank sampah juga dikelola secara profesional. Ia pun memiliki nasabah, pengurus, sistem administrasi dan aturan lainnya. Bedanya adalah, jika bank pada umumnya yang ditabung adalah uang, maka di bank sampah, yang ditabung adalah sampah.
***
Bagaimana cara menjalankan Sistem Bank Sampah ?
Semua berawal dari pemilahan sampah. Syaratnya, sampah kering, wajib dipilah atau disendirikan menurut jenisnya, sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Maka itulah, tiap rumah wajib memiliki sarana untuk menampung sampah terpilah. Semacam glangsing, plastik besar atau sejenisnya.
Dalam kurun waktu yang disepakati, secara rutin, nasabah membawa sampahnya yang sudah terpilah, untuk disetorkan ke bank sampah. Nasabah adalah warga atau masyarakat yang secara rutin menabung sampahnya di bank sampah. Selain itu, Ia juga terikat dengan peraturan maupun kesepakatan yang ada pada sistem bank sampah.
Buku yang dibawa nasabah, saat datang ke bank sampah, adalah Buku Tabungan Nasabah. Buku ini berisi catatan berapa rupiah jumlah tabungannya di bank sampah, catatan jenis sampah apa saja yang dibawa beserta berat masing-masing.
Sesampainya di bank sampah, nasabah akan melalui proses TIGA LANGKAH. Langkah Pertama, nasabah absen terlebih dahulu sekaligus mencatat jenis sampah apa saja yang dibawa. Kemudian di Langkah Kedua, sampahnya akan ditimbang sesuai jenis, sembari itu pengurus bank mencatat berat tiap jenis sampah tersebut. Langkah Ketiga, nasabah membawa Buku Tabungannya ke pengurus bank sampah, untuk dituliskan berapa rupiah sampah yang dihasilkan pada penjualan saat itu. Di langkah ketiga pula, pada Buku Besar, pengurus mencatat berapa kilogram dan rupiah yang dihasilkan dari sampah yang ditabung tiap nasabah.
Proses di bank sampah selesai, nasabah pulang. Ia pun sudah mengetahui berapa rupiah dan jenis maupun berat sampah yang ditabung. Begitu juga, data tersebut sudah direkap oleh pengurus di Buku Besar.
Mudah bukan ? Selamat mencoba...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More