Selasa, 26 Juni 2012

Belajar Nulis ? Pakai Rumus ATM Saja

Dewi, Ibu berusia sekitar 60 tahun itu akhirnya berhasil membuat sebuah karya tulis” dari sebuah peraga berupa bunga plastik di atas pot. Dengan menerapkan "Rumus ATM", di atas secarik kertas, dalam waktu 10 menit, Ia pun berhasil merangkai sedikitnya 4 paragraf tulisan.

Ia bersama perwakilan dari 10 wilayah Community Centre Surabaya lainnya, Kamis (14/06/2012), mengikuti Pelatihan Blog dan Penulisan Kreatif. Development Kelompok Kerja Pilar Komunikasi dalam Program Community Centre ini, ditujukan agar tiap wilayah bisa intens mengembangkan blog yang dimiliki. Selama ini, pengelola blog Community Centre kerap mengalami kendala tentang bagaimana cara mengawali membuat tulisan.
Seperti halnya Dewi, menulis adalah pengalaman baru bagi ibu rumah tangga paruh baya itu. Ada juga Sutanto, pria yang akrab dipanggil Kung Tanto lantaran seluruh rambutnya telah memutih ini, juga "berhasil" merangkai tulisan. Rumus ATM, membuat Koordinator Fasilitator Wilayah Surabaya Timur ini, mampu membukukan empat paragraf tulisan. Menariknya, Ia membaca tulisannya dengan nada, alias di-lagu-kan. Jadilah seluruh peserta ikut dalam lantunan "lagu" Kung Tanto.
Dengan "rumus ATM", baik Dewi, Sutanto maupun peserta lainnya, menemukan cara mudah membuat sebuah tulisan. Lalu, seperti apa sebenarnya "Rumus ATM" itu? ATM, diartikan sebagai Amati, Tulis dan Modifikasi.
Bunga plastik di atas pot itulah yang dijadikan "obyek" latihan menulis. Ia di-Amati dari berbagai sudut, baik ciri fisik seperti warna, bentuk, kegunaan, asal-usul dan lain sebagainya. Kemudian, hasil pengamatan di-Tulis kata perkata sebagai data awal penyusunan tulisan. Data-data itulah yang kemudian di-Modifikasi dan dirangkai menjadi sebuah tulisan.
“Hanya dari hal sederhana, seperti bunga plastik di atas pot pun bisa disusun sebuah tulisan. Bayangkan jika kita menerapkan Rumus ATM untuk kegiatan bank sampah di wilayah Bapak/Ibu, akan ada banyak data yang bisa ditulis untuk menjadi inspirasi baru bagi pembaca tulisan Bapak/Ibu", ujar Fajar Ramdhani dari Environment Team Yayasan Unilever Indonesia yang kala itu menjadi narasumber penulisan kreatif.
Menurut Fajar, menulis adalah selera dan orisinilitas. Setiap orang memiliki gagasan dan cara menulis yang berbeda-beda, semua adalah proses. "Bagus atau jelek itu relatif, yang penting Bapak/Ibu harus mencoba dulu, karena jika tidak, maka tidak akan lahir sebuah tulisan. Kita tak pernah tahu, manakala orang lain mendapat inspirasi dari tulisan kita, bukan?", ujar Fajar.
Bertolak dari pelatihan ini, setiap blog di wilayah Community Centre akan dikompetisikan. Rubrik yang ada di tiap blog, akan diseragamkan, juga akan diamati blog yang sering berkomentar atau dikomentari. Ini ditujukan, agar tiap pengelola blog Community Centre terpacu memanfaatkan media online sebagai salah satu sarana "promosi" kampungnya.
Kita tunggu karya-karya tulis berikutnya ya..

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More