Selasa, 10 Juli 2012

Si “Girly”, Tebar Manfaat Dari Pinggir Kali

Bank sampah ini, tak hanya namanya yang menarik. Namun, beberapa hal yang dilakukan pengurus demi menjaga sistem bank sampah dapat berjalan dengan baik dan makin bermanfaat pun, juga menarik dicermati.

Berlokasi di RW 3 Kelurahan Jambangan, bank sampah ini dinamakan “Girly”. Diakui Sampuri, salah seorang pengurusnya, nama ini dipilih lantaran keberadaan bank sampah yang di pinggir kali (Sungai, Red). Selain itu, motor penggerak bank sampah mayoritas adalah ibu-ibu. Jadilah bank sampah ini dinamakan “Girly” alias pinggir kali.
Menurut Sampuri, pemilahan sampah sudah dilakukan sejak lama. Namun, dulu uang hasil penjualan sampah dimasukkan kas RT atau kas lingkungan. “Kami juga pernah rekreasi ke Jogja berkat tabungan sampah. Kala itu warga menyebutnya rekreasi naik sampah”, kenang Sampuri.
Hingga Yayasan Unilever Indonesia mengembangkan Program Community Centre pada 2011, dengan tahap awal membentuk sistem bank sampah. Jambangan RW 3 pun menjadi salah satu wilayah percontohan, meski masuknya belakangan dibanding wilayah Community Centre lainnya.
Namun begitu, perkembangan Bank Sampah Girly tak kalah dengan “saudara tua” Community Centre lainnya. Jika dirata-rata, Bank Sampah Girly tiap bulan meraup omset 1 juta rupiah dan mereduksi + 700 kg sampah an organik.
 “Kami menerima Program Community Centre di RW 3 Jambangan dengan senang hati. Terlebih, ini sifatnya bukan lomba namun program pendampingan jangka panjang”, ujar Sri Suwati, Manager Bank Sampah Girly. Ditambahkan oleh wanita yang akrab dipanggil Bu Bakar ini, warga senang dan termotivasi sejak adanya sistem bank sampah, karena dalam setahun hasil penjualan sampah akan dikembalikan ke warga.
Setelah berjalan selama 8 bulan, pengurus berinisiatif “memutar” uang tabungan sampah warga, yaitu melalui kegiatan simpan pinjam. “Selama ini, warga kerap didatangi bank thitil (pinjaman dengan bunga harian, Red) yang biasa memberi hutang pada warga dengan bunga yang tinggi dan memberatkan.
Namun, sejak adanya simpan pinjam dari Bank Sampah Girly, nasabah sangat senang. Pinjaman bisa diangsur selama 12 minggu dengan bunga 10 %, dari hasil menabung sampah pula”, ujar Bu Bakar penuh semangat.
Diakuinya, selama ini operasional bank sampah dilakukan oleh pengurus secara sukarela. Ini semua agar bank sampah bisa berjalan dengan baik dan warga terus semangat memilah sampah.
Inilah yang memantik ide dari Bu Bakar dan pengurus bank sampah membuka usaha catering “Girly”. “Alhamdulillaah, selama dua bulan berjalan, keuntungannya lumayan. Bisa menambah uang belanja ibu-ibu pengurus Bank Sampah Girly”, ujar Bu Bakar.
Ia berharap, usaha catering Girly juga bisa membantu ibu-ibu yang selama ini bekerja sosial menjadi pengurus bank sampah. “Syukur alhamdulillaah, hingga kini Bank Sampah Girly tetap berjalan dengan baik dan makin memberi manfaat, tak hanya bagi nasabah, namun juga bagi pengurus”, pungkas Bu Bakar.

3 komentar:

klu di setiap penimbangan menggunakan seragam pasti keliatan kompak banget,, ayo mas-mas dan mbak-mbak yang dr unilever... bagi-bagi donk seragamnya untuk masing2 wilayah community center,,, hehehehe

haha itu ibu-ibu Girly pakai seragam PKK...Seragam teman2 di manyar yg kuning hijau itu jg ga kalah keren lhoo. Bank Sampah Manyar Mandiri jg ga galah keren. Semangaaaaattt

hahahah, siap ndan... 86
Semangat terus pokok'e...

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More