Bank
sampah ini, tak hanya namanya yang menarik. Namun, beberapa hal yang dilakukan
pengurus demi menjaga sistem bank sampah dapat berjalan dengan baik dan makin
bermanfaat pun, juga menarik dicermati.
Berlokasi
di RW 3 Kelurahan Jambangan, bank sampah ini dinamakan “Girly”. Diakui Sampuri,
salah seorang pengurusnya, nama ini dipilih lantaran keberadaan bank sampah
yang di pinggir kali (Sungai, Red).
Selain itu, motor penggerak bank sampah mayoritas adalah ibu-ibu. Jadilah bank
sampah ini dinamakan “Girly” alias
pinggir kali.
Menurut
Sampuri, pemilahan sampah sudah dilakukan sejak lama. Namun, dulu uang hasil
penjualan sampah dimasukkan kas RT atau kas lingkungan. “Kami juga pernah
rekreasi ke Jogja berkat tabungan sampah. Kala itu warga menyebutnya rekreasi
naik sampah”, kenang Sampuri.
Hingga
Yayasan Unilever Indonesia mengembangkan Program Community Centre pada 2011, dengan
tahap awal membentuk sistem bank sampah. Jambangan RW 3 pun menjadi salah satu
wilayah percontohan, meski masuknya belakangan dibanding wilayah Community
Centre lainnya.
Namun
begitu, perkembangan Bank Sampah Girly tak kalah dengan “saudara tua” Community
Centre lainnya. Jika dirata-rata, Bank Sampah Girly tiap bulan meraup omset 1
juta rupiah dan mereduksi + 700 kg sampah an organik.
“Kami menerima Program Community Centre di RW
3 Jambangan dengan senang hati. Terlebih, ini sifatnya bukan lomba namun
program pendampingan jangka panjang”, ujar Sri Suwati, Manager Bank Sampah
Girly. Ditambahkan oleh wanita yang akrab dipanggil Bu Bakar ini, warga senang
dan termotivasi sejak adanya sistem bank sampah, karena dalam setahun hasil
penjualan sampah akan dikembalikan ke warga.
Setelah
berjalan selama 8 bulan, pengurus berinisiatif “memutar” uang tabungan sampah
warga, yaitu melalui kegiatan simpan pinjam. “Selama ini, warga kerap didatangi
bank thitil (pinjaman dengan bunga
harian, Red) yang biasa memberi hutang pada warga dengan bunga yang tinggi dan
memberatkan.
Namun,
sejak adanya simpan pinjam dari Bank Sampah Girly, nasabah sangat senang. Pinjaman
bisa diangsur selama 12 minggu dengan bunga 10 %, dari hasil menabung sampah
pula”, ujar Bu Bakar penuh semangat.
Diakuinya,
selama ini operasional bank sampah dilakukan oleh pengurus secara sukarela. Ini
semua agar bank sampah bisa berjalan dengan baik dan warga terus semangat
memilah sampah.
Inilah
yang memantik ide dari Bu Bakar dan pengurus bank sampah membuka usaha catering “Girly”. “Alhamdulillaah, selama
dua bulan berjalan, keuntungannya lumayan. Bisa menambah uang belanja ibu-ibu
pengurus Bank Sampah Girly”, ujar Bu Bakar.
Ia
berharap, usaha catering Girly juga
bisa membantu ibu-ibu yang selama ini bekerja sosial menjadi pengurus bank
sampah. “Syukur alhamdulillaah, hingga kini Bank Sampah Girly tetap berjalan
dengan baik dan makin memberi manfaat, tak hanya bagi nasabah, namun juga bagi
pengurus”, pungkas Bu Bakar.



3 komentar:
klu di setiap penimbangan menggunakan seragam pasti keliatan kompak banget,, ayo mas-mas dan mbak-mbak yang dr unilever... bagi-bagi donk seragamnya untuk masing2 wilayah community center,,, hehehehe
haha itu ibu-ibu Girly pakai seragam PKK...Seragam teman2 di manyar yg kuning hijau itu jg ga kalah keren lhoo. Bank Sampah Manyar Mandiri jg ga galah keren. Semangaaaaattt
hahahah, siap ndan... 86
Semangat terus pokok'e...
Posting Komentar