Penyelenggara dan Pendukung Community Center surabaya
Yayasan Unilever Indonesia bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya serta LSM Wehasta
5 Pilar Program Community Centre Surabaya
5 Pilar tersebut diantaranya Lingkungan, Ekonomi, Komunikasi, Sanitasi dan Nutrisi.
Focus Group Discussion
Focus Group Discussion sistem bank sampah di wilayah Community Centre Surabaya, oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya.
Workshop IT dan Penulisan Kreatif
Seorang ibu anggota kelompok kerja pilar komunikasi saat “Workshop IT dan Penulisan Kreatif” di Ruang Pertemuan Kampoeng Ilmu Surabaya, 22 Oktober 2011.
Sabtu, 31 Januari 2015
Sabtu, 10 Januari 2015
Minggu, 17 Agustus 2014
Senin, 23 Juni 2014
Bank Sampah Kawanku
Pada hari Minggu 22 Juni 2014 ada aktivitas mencolok di Bank Sampah Kawanku. Ibu-ibu dan warga sedang melakukan penimbangan sampah. Yuk kita liat sekilas aktifitas mereka lewat foto.
Rabu, 29 Agustus 2012
Surabaya Dilanda "Demam" Bank Sampah
“Demam” ini disebabkan oleh “virus” yang penyebarannya sangat cepat. Ditandai gejala omset meningkat dan menurunnya volume sampah. Jika “demam” berlanjut, segera hubungi fasilitator setempat agar ditangani menggunakan “Sistem Bank Sampah”
Bak jamur di musim hujan. Program Bank Sampah makin digemari oleh warga Surabaya. Pasca dilakukan Sosialisasi Program Lingkungan dan Bank Sampah 2012 sekitar April lalu, hingga pertengahan tahun ini, telah terbentuk puluhan bank sampah baru di Surabaya.
Bahkan, jumlah bank sampah tersebut, niscaya akan terus bertambah. Mengingat, beberapa perusahaan dan instansi di Surabaya juga memiliki program bank sampah, sebagai bagian dari kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) nya.
Hal ini tidak terlepas dari inisiasi Yayasan Unilever Indonesia (YUI), yang pada 2011 lalu menggagas Program Community Centre. Program kerjasama YUI dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh LSM Wehasta serta Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya tersebut, menjadikan sistem bank sampah sebagai “pintu masuk” program.
Capaian dan keberhasilan program bank sampah di 10 wilayah percontohan Program Community Centre, sepertinya mampu “menggelitik” wilayah lain di Surabaya untuk mengembangkan program serupa.
Lalu, apa menariknya program bank sampah, hingga begitu digemari ? Ya, salah satu alternatif solusi penanganan sampah an organik ini, telah terbukti manfaatnya. Tidak hanya dampak signifikannya bagi reduksi sampah, namun manfaat ekonomisnya yang nyata.
Sebagai contoh, dari sekian bank sampah di wilayah Community Centre misalnya. Selama kurun waktu sekitar setahun berjalan, dari sedikitnya 100 nasabah mereka mampu mereduksi + 6 ton sampah an organik dan meraup omset sedikitnya Rp 6 juta ! Hal ini tidak berlebihan, manakala tiap bulannya mereka mampu mereduksi sedikitnya 500 kg sampah an organik dengan hasil penjualan + Rp 500 ribu.
Seperti pada Bank Sampah Manyar Mandiri. Bank sampah berlokasi di RW 3, Kelurahan Manyar Sabrangan, Kecamatan Mulyorejo itu, hingga Agustus 2012, telah memiliki 214 nasabah. Sesuai kesepakatan, pembagian uang tabungan sampah akan dilakukan menjelang Lebaran. “Belum genap setahun, total hasil penjualan sampah di Manyar Mandiri, ada sekitar 19 juta rupiah”, ujar Puji, Fasilitator Kelurahan Manyar Sabrangan.
Dyah Katarina, selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya menyampaikan, “Sistem bank sampah merupakan salah satu cara menangani sampah an organik, yang mudah dilakukan dan memberi keuntungan bagi warga. Hasilnya pun nyata, yaitu berkurangnya volume sampah dan menambah saldo tabungan warga”.
Nah, dengan merebaknya “virus” bank sampah di Surabaya, bagaimana cara penanganannya ? Hal ini harus ditangani dengan baik, agar keberlangsungan program tetap terjaga. Beruntungnya, di Surabaya telah terbentuk bank sampah percontohan di wilayah Community Centre. Bank sampah di wilayah tersebut, menerapkan yang namanya “sistem bank sampah”. Inilah “resep mujarab”, sehingga mereka sukses meraup omset dan mereduksi sampah dari rumah tangga hingga kini.
Sistem Bank Sampah inilah yang menjadi standarisasi atau konsep dasar pengembangan Program Bank Sampah. Seperti yang diutarakan Wihartuti Dwi Rahayu, selaku Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. “Banyaknya bank sampah, berkontribusi untuk mereduksi jumlah sampah yang dibuang ke LPA (Lahan Pembuangan Akhir, Red). Yang penting, secara sistem, bisa berjalan secara seragam”, ujar wanita yang akrab dipanggil Bu Agus itu.
Menurutnya, makin banyak pihak yang mengembangkan Program Bank Sampah adalah hal yang bagus. Ia berharap, program tersebut bisa disinergikan dengan Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. Hal ini akan memudahkan fasilitator melakukan pendampingan serta monitoring dan evaluasi bank sampah yang ada di Surabaya.
Nah, jika saja “virus” bank sampah sudah menyebar ke seluruh wilayah Surabaya, bisa dibayangkan berapa banyak reduksi sampah juga nilai ekonomis yang dihasilkan ?
Bak jamur di musim hujan. Program Bank Sampah makin digemari oleh warga Surabaya. Pasca dilakukan Sosialisasi Program Lingkungan dan Bank Sampah 2012 sekitar April lalu, hingga pertengahan tahun ini, telah terbentuk puluhan bank sampah baru di Surabaya.
Bahkan, jumlah bank sampah tersebut, niscaya akan terus bertambah. Mengingat, beberapa perusahaan dan instansi di Surabaya juga memiliki program bank sampah, sebagai bagian dari kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) nya.
Hal ini tidak terlepas dari inisiasi Yayasan Unilever Indonesia (YUI), yang pada 2011 lalu menggagas Program Community Centre. Program kerjasama YUI dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh LSM Wehasta serta Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya tersebut, menjadikan sistem bank sampah sebagai “pintu masuk” program.
Capaian dan keberhasilan program bank sampah di 10 wilayah percontohan Program Community Centre, sepertinya mampu “menggelitik” wilayah lain di Surabaya untuk mengembangkan program serupa.
Lalu, apa menariknya program bank sampah, hingga begitu digemari ? Ya, salah satu alternatif solusi penanganan sampah an organik ini, telah terbukti manfaatnya. Tidak hanya dampak signifikannya bagi reduksi sampah, namun manfaat ekonomisnya yang nyata.
Sebagai contoh, dari sekian bank sampah di wilayah Community Centre misalnya. Selama kurun waktu sekitar setahun berjalan, dari sedikitnya 100 nasabah mereka mampu mereduksi + 6 ton sampah an organik dan meraup omset sedikitnya Rp 6 juta ! Hal ini tidak berlebihan, manakala tiap bulannya mereka mampu mereduksi sedikitnya 500 kg sampah an organik dengan hasil penjualan + Rp 500 ribu.
Seperti pada Bank Sampah Manyar Mandiri. Bank sampah berlokasi di RW 3, Kelurahan Manyar Sabrangan, Kecamatan Mulyorejo itu, hingga Agustus 2012, telah memiliki 214 nasabah. Sesuai kesepakatan, pembagian uang tabungan sampah akan dilakukan menjelang Lebaran. “Belum genap setahun, total hasil penjualan sampah di Manyar Mandiri, ada sekitar 19 juta rupiah”, ujar Puji, Fasilitator Kelurahan Manyar Sabrangan.
Dyah Katarina, selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya menyampaikan, “Sistem bank sampah merupakan salah satu cara menangani sampah an organik, yang mudah dilakukan dan memberi keuntungan bagi warga. Hasilnya pun nyata, yaitu berkurangnya volume sampah dan menambah saldo tabungan warga”.
Nah, dengan merebaknya “virus” bank sampah di Surabaya, bagaimana cara penanganannya ? Hal ini harus ditangani dengan baik, agar keberlangsungan program tetap terjaga. Beruntungnya, di Surabaya telah terbentuk bank sampah percontohan di wilayah Community Centre. Bank sampah di wilayah tersebut, menerapkan yang namanya “sistem bank sampah”. Inilah “resep mujarab”, sehingga mereka sukses meraup omset dan mereduksi sampah dari rumah tangga hingga kini.
Sistem Bank Sampah inilah yang menjadi standarisasi atau konsep dasar pengembangan Program Bank Sampah. Seperti yang diutarakan Wihartuti Dwi Rahayu, selaku Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. “Banyaknya bank sampah, berkontribusi untuk mereduksi jumlah sampah yang dibuang ke LPA (Lahan Pembuangan Akhir, Red). Yang penting, secara sistem, bisa berjalan secara seragam”, ujar wanita yang akrab dipanggil Bu Agus itu.
Menurutnya, makin banyak pihak yang mengembangkan Program Bank Sampah adalah hal yang bagus. Ia berharap, program tersebut bisa disinergikan dengan Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. Hal ini akan memudahkan fasilitator melakukan pendampingan serta monitoring dan evaluasi bank sampah yang ada di Surabaya.
Nah, jika saja “virus” bank sampah sudah menyebar ke seluruh wilayah Surabaya, bisa dibayangkan berapa banyak reduksi sampah juga nilai ekonomis yang dihasilkan ?
Senin, 30 Juli 2012
“MITOS” Bank Sampah vs “SISTEM” Bank Sampah
Sebelum “sang
primadona” ditemukan dan disambut sorak sorai di atas “panggungnya” seperti
saat ini, Ia telah melalui beragam dinamika (sebut saja : proses pencarian
bentuk).
Ketika “sistem
bank sampah”, sebagai “formula” baru dapat berjalan selaras dengan kebutuhan
dan memberi nilai tambah ekonomis bagi masyarakat pelaku bank sampah, budaya
“Membuang Sampah Sembarangan” pun sendirinya akan usang oleh jaman. Ia
tergantikan oleh jargon “Sampah Jika Diolah, Akan Mendatangkan Berkah”.
Namun
demikian, Sistem
Bank Sampah masih harus dihadapkan dengan beragam “Mitos” Bank Sampah yang
kerap dijumpai di masyarakat. Berikut adalah beberapa "mitos" tentang bank sampah, yang niscaya
dapat terpatahkan oleh “Sistem” Bank Sampah.
***
1.
Bank Sampah adalah
“bangunan” tempat penampungan sampah terpilah.
Hal ini tidak sepenuhnya benar. Ini
adalah “Sistem Bank Sampah”, bukan sekedar “Bank Sampah” yang dipahami sebagai
bangunan fisik.
Adanya bangunan sifatnya hanya mendukung.
Jadi bukan berarti jika tidak memiliki bangunan, maka sistem bank sampah tidak
bisa dijalankan. Sekali lagi, ini adalah “sistem”. Niscaya bisa berjalan meski
tidak memilliki bangunan khusus untuk bank sampah.
Kuncinya adalah, dalam sistem bank
sampah, warga (nasabah) telah melakukan pemilahan sampah an organik menurut
jenisnya sejak dari rumah.
Ini penting, untuk memberi kemudahan
(mensiasati) tidak adanya bangunan (tempat) penampungan sampah terpilah,
diantaranya :
a. Setiap selesai sampah ditimbang
sesuai jenis, pada proses pengepakan/pengemasan sampah terpilah dari seluruh
nasabah, pengurus tinggal memasukkannya pada glangsing besar dan pengepul
tinggal mengangkut saja. Akan beda kondisinya jika sampah tidak terpilah sejak
dari rumah, akan memakan tempat dan waktu, sehingga sampah akan bertumpuk dalam
waktu relatif lebih lama.
b. Tidak adanya tempat
penampungan (bangunan fisik) juga terpecahkan oleh adanya pengepul dengan
jadwal pengambilan rutin dan terjadwal. Sehingga, lebih cepat sampah terangkut,
lebih baik.
Dengan begini, “mitos” bahwa program
bank sampah bisa berjalan jika ada tempat (bangunan fisik) penampungan sampah
pun, terpatahkan!
2.
Bank Sampah baru bisa berjalan
jika ada lahan kosong yang luas
Ini juga “mitos” yang pemahamannya mirip
dengan anggapan bahwa program bank sampah membutuhkan “bangunan fisik” sebagai
bank sampah.
Nyatanya, di beberapa wilayah (di gang
sempit sekalipun), bisa menerapkan “sistem bank sampah”. Solusinya yaitu dengan
menutup gang sementara (hanya dalam hitungan jam saja), selama proses bank
sampah berjalan.
Hal ini sangat memungkinkan, mengingat
proses bank sampah kebanyakan dilakukan hanya dua kali dalam sebulan (2 minggu
sekali). Dalam hitungan jam, jika sampah sudah terpilah sejak dari rumah, maka
makin cepat pula sampah dapat terangkut oleh pengepul. Sampah tidak akan menumpuk
terlalu lama.
Dengan begini, “mitos” bahwa program
bank sampah bisa berjalan jika ada lahan kosong yang luas pun, terpatahkan!
3.
Masyarakat akan kesulitan atau
“malas” memilah sampah sesuai jenis sejak dari rumah.
Awalnya, hal ini (memilah sampah) sepertinya
hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki pemahaman, bahwa sampah dapat
diolah jika dipilah, sehingga tidak mencemari llingkungan.
Adanya sistem bank sampah, masyarakat
niscaya mendapat “dorongan” lebih untuk memilah sampah sejak dari rumah. Karena
hasil (Rp) penjualan sampah akan dikembalikan pada “si pemilik sampah”, dalam
bentuk tabungan.
Niscaya, nilai ekonomis yang didapat
oleh “si pemilik sampah”, sebanding dengan upaya yang “hanya” semudah
memasukkan sampah an organik ke wadah yang disediakan di tiap rumah. Daripada
dibuang, lebih baik diolah agar jadi uang, bukan?
Dengan begini, “mitos” bahwa masyarakat
akan kesulitan atau “malas” memilah sampah sesuai jenis sejak dari rumah pun,
terpatahkan!
4.
Menjadi pengurus Bank Sampah
adalah hal yang merepotkan
Anggapan demikian akan muncul, karena
Anda belum mencoba menerapkan sistem bank sampah. Sebelum ada sistem bank
sampah, masyarakat hanya mengumpulkan sampah an organik dalam kondisi tercampur.
Sehingga memberatkan pengurus untuk urusan memilah sampah seluruh warga.
Di sistem bank sampah, nasabah membawa
sampah sudah dalam kondisi terpilah (disendirikan menurut jenisnya). Niscaya,
akan menyederhanakan tugas pengurus dari segi waktu dan tenaga. Terlebih, ada
buku administrasi yang memudahkan pengurus mendata sampah yang ditabung.
“Mitos” bahwa, menjadi pengurus Bank
Sampah adalah hal yang merepotkan pun, terpatahkan!
5.
Administrasi Sistem Bank
Sampah sulit dipahami dan dijalankan
Sistem Bank Sampah menggunakan 3 macam
buku, yaitu Buku Tabungan Nasabah, Buku Besar dan Buku Register. Ketiganya
adalah bagian dari “Sistem”.
Buku Tabungan, bentuk dan isinya sama
dengan bank pada umumnya, plus catatan jenis sampah apa saja yang dibawa
nasabah ketika menabung. Jika Anda pernah menabung di bank, niscaya Anda akan
dengan mudah mengisi Buku Tabungan Bank Sampah. Sedangkan pengisian Buku Besar,
adalah tinggal memindahkan data di Buku Tabungan seluruh nasabah. Buku
Register, hanyalah buku yang berisi data seluruh nasabah (Nama, Alamat, Nomor
Induk, Jumlah Orang Tiap KK).
Itu saja, mudah bukan? Justru, adanya
bentuk administrasi semacam ini, niscaya dapat menjaga kepercayaan antara nasabah
dan pengurus.
Jadi, “mitos” bahwa, administrasi
Sistem Bank Sampah sulit dipahami dan dijalankan pun, terpatahkan!
6.
Ada kekhawatiran jika sampah
sudah terkumpul, lalu tidak ada yang mengambil
Pengepul sampah kering, niscaya tetap
ada, terlepas ada atau tidak sistem bank sampah. Karena jual beli sampah,
adalah “ladang bisnis” yang menguntungkan.
Menariknya sistem bank sampah, Ia
tidak hanya memberi manfaat bagi nasabah, namun juga “keuntungan berlipat” bagi
pengepul. Mengapa?
Karena dengan sistem bank sampah, akan
“menyederhanakan” pekerjaan pengepul, diantaranya :
- Sampah sudah terpilah dan
sudah terkumpul (di-packing) sesuai
jenis di Bank Sampah.
- Sampah hasil pemilahan warga
relatif kondisinya lebih bersih.
- Pengepul mendapatkan sampah
terpilah secara rutin, dalam skala besar pula.
Kondisi ini, niscaya menjadi “daya
tarik” pengepul untuk mendapat kesempatan mengangkut sampah di wilayah yang
menerapkan sistem bank sampah.
Jadi “mitos” bahwa, ada kekhawatiran
jika sampah sudah terkumpul, lalu tidak ada yang mengambil pun, terpatahkan!
***
Sistem
Bank Sampah, lebih pada bagaimana
sampah dikelola melalui alur yang sistematis. Mulai jejaknya dari hulu sampai
hilir, hingga kemanfaatannya bagi masyarakat, lingkungan dan dampak sosialnya.
Karena ini sebuah
"sistem", niscaya bisa “beradaptasi” dan diterapkan
secara efektif di berbagai kondisi
wilayah
yang beragam sekalipun.
Sistem Bank
Sampah, juga menegaskan
bahwa, “sampah” yang selama ini kerap dipandang sebelah mata, ternyata bisa
diolah menjadi berkah.
Nyatanya, beberapa anggapan
bahwa program bank sampah sulit dijalankan, semua hanyalah “mitos” belaka. Dapat terpatahkan oleh “sistem” bank sampah.
Menurut Anda, masih ada lagi kah "mitos" tentang bank sampah yang belum terpecahkan ?
Oleh :
Fajar
Ramdhani
(Environment
Program Team-Unilever Indonesia Foundation)
Jumat, 20 Juli 2012
Menuai “Ceria” Hasil Tabungan Sampah Setahun
Sore
itu (18/07/2012), Kantor Bank Sampah “Bersih Ceria”, di RW 2 Kelurahan Bulak
Banteng, didatangi puluhan nasabahnya. Bukan lantaran ingin berdemo, namun para
nasabah yang kebanyakan ibu-ibu itu, akan menerima tabungan sampahnya yang
ditabung selama kurun waktu setahun belakangan.
Peristiwa
ini baru pertama kali terjadi di Bank Sampah Bersih Ceria, salah satu bank
sampah di wilayah Program Community Centre Surabaya. Sumringah, jelas itulah ekspresi yang terpancar di setiap raut
wajah para nasabah. Sore itu, mereka benar-benar membuktikan jargon yang kerap
mereka dengar, bahwa “Sampah Jika
Dikelola, Akan Mendatangkan Berkah”. Jerih payah nasabah selama setahun
memilah sampah sesuai jenis sejak dari rumah pun, terbayar lunas.
Seperti
diketahui, sejak menjalankan sistem bank sampah, hasil penjualan sampah di Bank
Sampah Bersih Ceria akan dikembalikan ke nasabah, setelah satu tahun sejak bank
sampah berdiri. Terhitung saat pertama kali menjual sampah pada tanggal 17 Juli
2011, begitu sistem bank sampah dijalankan di RW 2 Bulak Banteng. Hal ini
merupakan kesepakatan para nasabah.
“Waduh
dapat berapa ya, semoga cukup untuk Megengan
(budaya tasyakuran menjelang Bulan Suci Ramadhan, Red),” ujar Wayan, salah
seorang nasabah yang juga pengurus Bank Sampah Bersih Ceria. Ibu satu anak ini sudah menjadi nasabah sejak Bank Sampah Bersih
Ceria berdiri.
Sejalan
dengan Wayan, Ni G.A Made sang Manager mengamini. “Memang kebanyakan nasabah mengaku uangnya akan dipakai untuk belanja keperluan
megengan, jadi kami sebagai pengurus memilih waktu yang tepat untuk
membagikannya. Semua ini berdasarkan kesepakatan nasabah“, ujar Made.
Genap
setahun, Bank Sampah Bersih Ceria telah meraup omzet sejumlah Rp 6 juta dan memiliki
82 nasabah. Tiap bulan, rata-rata mampu mereduksi sampah an organik sekitar 500
kg. Tabungan yang diperoleh nasabah pun beragam. Menurut Made, minimal seorang
nasabah setidaknya mendapat Rp 40 ribu. Bahkan, ada juga yang meraup hingga ratusan
ribu rupiah. Wow!
Heni
Lestari, selaku pendamping Program Community Centre mengatakan, “Ibu-ibu, berapapun
yang didapat oleh nasabah, itu adalah hasil kerja keras selama satu tahun. Bisa
saja cukup, bisa juga sangat kurang. Namun yang utama disini adalah
penyelamatan lingkungan. Uang yang diperoleh, hal itu adalah bonus bagi nasabah”.
Heni
melanjutkan, yang terpenting dalam menjalankan sistem bank sampah, adalah adanya
rasa saling percaya antara nasabah dan pengurus. Dengan begitu, program bisa
berjalan dengan baik dan berkembang.
Seperti
yang dirasakan Made selama setahun menjadi Manager Bank Sampah Bersih Ceria.
Menurutnya, waktu satu tahun masih merupakan tahap pembelajaran, yang
terpenting adalah kemauan untuk mencoba dan terus belajar. Awalnya, kebanyakan
nasabah belum tahu cara memilah sampah. Tapi sekarang nasabah sudah pintar
semua.
“Nah,
sudah dapat ilmu, dapat uang tabungan dari sampah lagi. Terima kasih buat
Unilever, PKK Kota, Wehasta dan Paguyuban Fasilitator yang selama setahun ini
telah membimbing kami. Semoga Bank Sampah Bersih Ceria bisa terus eksis,
nasabah dan reduksi sampah bertambah, lingkungan juga semakin bersih”, ujar
Made penuh semangat.
Genap
setahun berjalan, nasabah Bank Sampah Bersih Ceria pun akhirnya menuai ceria.
Tetap
ceria ya!
Selasa, 17 Juli 2012
Kecil-Kecil Jadi Nasabah Bank Sampah
“Aku
bisa bermain kapan saja. Tapi saat ada penimbangan di Bank Sampah Flamboyan, aku
akan datang dan membantu Ibu”.
Mungkin kalimat tersebut yang ada di benak Raihan kala itu.
Bocah berusia 7 tahun itu, tampak
menghampiri sang Ibu yang sedang “bertugas” di bank sampah. Disaat teman-teman
sebayanya sibuk bermain, Ia malah “ikut-ikutan
sibuk” di bank sampah.
“Awalnya saya kira Ia datang ke bank
sampah untuk minta uang jajan ke
ibunya, eh ternyata Ia membawa buku
tabungan dan sampah yang sudah terpilah dari rumah”, ujar Tri Mulyono,
pendamping program bank sampah dari LSM Wehasta.
Ibunda Raihan, Elly Indrawati adalah Sekretaris
Bank Sampah Flamboyan di RW 2 Ngaglik Baru, Kelurahan Kapasari, Kecamatan
Genteng. Mungkin saja, sifat peduli lingkungan Raihan lantaran mewarisi sifat sang
ibunda yang pengurus bank sampah.
Bank Sampah Flamboyan sendiri, baru
berjalan + satu bulan belakangan. Merupakan salah satu bank sampah baru
di Program Community Centre 2012. Penjualan dilakukan 2 minggu sekali dan kini
telah memiliki 43 nasabah. Dari situ, Bank Sampah Flamboyan telah mereduksi 400
kg sampah an organik dan berhasil meraup omset Rp 379.100,-.
“Ikut sibuk” di bank sampah seperti
ini, bukan pengalaman pertama bagi bocah yang duduk di kelas 2 SDN KAPASARI
VIII ini. Setiap Bank Sampah Flamboyan buka, Ia selalu datang membawa buku
tabungan dan sampah terpilah. Bahkan, Ia juga “turut andil” membantu pengurus
mengemas sampah terpilah dari para nasabah. “Mau bantu ibu, biar rumah bersih,
kampung juga bersih, nanti uangnya bisa untuk tambahan sekolah”, akunya polos
saat ditanya alasan mengapa ikut sibuk di bank sampah.
Selama dua kali penjualan sampah, kebiasaan
Raihan, setelah menyetor sampah Ia tak lantas pulang. Dibantunya para pengurus
bank sampah, misalnya menempatkan sampah yang sudah ditimbang sesuai jenis hingga
saat sampah dijual ke pengepul.
Diakui beberapa tetangga Raihan, bocah ini memang pintar, juara kelas
pula. Saat penerimaan Rapor Kenaikan Kelas beberapa minggu lalu, Raihan mendapat
Rangking 1 di kelasnya.
Apa yang dilakukan Raihan, tampak
sederhana. Entah disadarinya atau tidak, Raihan telah menjadi bagian sebuah
pekerjaan besar dan mulia, yaitu penyelamatan lingkungan.
Tetap semangat dan ajak teman-temanmu
ya Han!
(Tri M)
Selasa, 10 Juli 2012
Si “Girly”, Tebar Manfaat Dari Pinggir Kali
Bank
sampah ini, tak hanya namanya yang menarik. Namun, beberapa hal yang dilakukan
pengurus demi menjaga sistem bank sampah dapat berjalan dengan baik dan makin
bermanfaat pun, juga menarik dicermati.
Berlokasi
di RW 3 Kelurahan Jambangan, bank sampah ini dinamakan “Girly”. Diakui Sampuri,
salah seorang pengurusnya, nama ini dipilih lantaran keberadaan bank sampah
yang di pinggir kali (Sungai, Red).
Selain itu, motor penggerak bank sampah mayoritas adalah ibu-ibu. Jadilah bank
sampah ini dinamakan “Girly” alias
pinggir kali.
Menurut
Sampuri, pemilahan sampah sudah dilakukan sejak lama. Namun, dulu uang hasil
penjualan sampah dimasukkan kas RT atau kas lingkungan. “Kami juga pernah
rekreasi ke Jogja berkat tabungan sampah. Kala itu warga menyebutnya rekreasi
naik sampah”, kenang Sampuri.
Hingga
Yayasan Unilever Indonesia mengembangkan Program Community Centre pada 2011, dengan
tahap awal membentuk sistem bank sampah. Jambangan RW 3 pun menjadi salah satu
wilayah percontohan, meski masuknya belakangan dibanding wilayah Community
Centre lainnya.
Namun
begitu, perkembangan Bank Sampah Girly tak kalah dengan “saudara tua” Community
Centre lainnya. Jika dirata-rata, Bank Sampah Girly tiap bulan meraup omset 1
juta rupiah dan mereduksi + 700 kg sampah an organik.
“Kami menerima Program Community Centre di RW
3 Jambangan dengan senang hati. Terlebih, ini sifatnya bukan lomba namun
program pendampingan jangka panjang”, ujar Sri Suwati, Manager Bank Sampah
Girly. Ditambahkan oleh wanita yang akrab dipanggil Bu Bakar ini, warga senang
dan termotivasi sejak adanya sistem bank sampah, karena dalam setahun hasil
penjualan sampah akan dikembalikan ke warga.
Setelah
berjalan selama 8 bulan, pengurus berinisiatif “memutar” uang tabungan sampah
warga, yaitu melalui kegiatan simpan pinjam. “Selama ini, warga kerap didatangi
bank thitil (pinjaman dengan bunga
harian, Red) yang biasa memberi hutang pada warga dengan bunga yang tinggi dan
memberatkan.
Namun,
sejak adanya simpan pinjam dari Bank Sampah Girly, nasabah sangat senang. Pinjaman
bisa diangsur selama 12 minggu dengan bunga 10 %, dari hasil menabung sampah
pula”, ujar Bu Bakar penuh semangat.
Diakuinya,
selama ini operasional bank sampah dilakukan oleh pengurus secara sukarela. Ini
semua agar bank sampah bisa berjalan dengan baik dan warga terus semangat
memilah sampah.
Inilah
yang memantik ide dari Bu Bakar dan pengurus bank sampah membuka usaha catering “Girly”. “Alhamdulillaah, selama
dua bulan berjalan, keuntungannya lumayan. Bisa menambah uang belanja ibu-ibu
pengurus Bank Sampah Girly”, ujar Bu Bakar.
Ia
berharap, usaha catering Girly juga
bisa membantu ibu-ibu yang selama ini bekerja sosial menjadi pengurus bank
sampah. “Syukur alhamdulillaah, hingga kini Bank Sampah Girly tetap berjalan
dengan baik dan makin memberi manfaat, tak hanya bagi nasabah, namun juga bagi
pengurus”, pungkas Bu Bakar.
Selasa, 26 Juni 2012
Belajar Nulis ? Pakai Rumus ATM Saja
Dewi, Ibu berusia sekitar 60 tahun itu akhirnya berhasil membuat sebuah “karya tulis” dari sebuah
peraga berupa bunga plastik di atas pot. Dengan menerapkan
"Rumus
ATM", di
atas secarik kertas, dalam waktu 10 menit, Ia pun berhasil merangkai sedikitnya 4 paragraf
tulisan.
Ia bersama perwakilan dari 10 wilayah Community Centre Surabaya lainnya,
Kamis (14/06/2012), mengikuti Pelatihan Blog dan Penulisan Kreatif. Development Kelompok Kerja Pilar Komunikasi dalam Program
Community Centre ini, ditujukan agar tiap wilayah bisa intens mengembangkan
blog yang dimiliki.
Selama ini, pengelola
blog Community Centre kerap mengalami kendala tentang bagaimana cara mengawali
membuat tulisan.
Seperti halnya Dewi, menulis
adalah pengalaman baru bagi ibu rumah tangga paruh baya itu. Ada juga Sutanto, pria yang
akrab dipanggil Kung Tanto lantaran seluruh rambutnya telah memutih ini, juga
"berhasil" merangkai tulisan. Rumus ATM, membuat Koordinator
Fasilitator Wilayah Surabaya Timur ini, mampu membukukan empat paragraf tulisan. Menariknya,
Ia membaca tulisannya dengan nada, alias di-lagu-kan. Jadilah seluruh peserta
ikut dalam lantunan "lagu" Kung Tanto.
Dengan
"rumus ATM", baik
Dewi, Sutanto maupun peserta lainnya, menemukan cara mudah membuat
sebuah tulisan.
Lalu, seperti apa sebenarnya "Rumus ATM" itu? ATM, diartikan
sebagai Amati, Tulis dan Modifikasi.
Bunga plastik di atas pot itulah yang dijadikan "obyek"
latihan menulis. Ia di-Amati dari berbagai sudut, baik ciri fisik seperti
warna, bentuk, kegunaan,
asal-usul dan lain sebagainya. Kemudian, hasil pengamatan
di-Tulis kata perkata sebagai data awal penyusunan tulisan. Data-data itulah yang kemudian
di-Modifikasi dan dirangkai menjadi sebuah tulisan.
“Hanya
dari hal sederhana, seperti
bunga plastik di atas pot pun bisa disusun sebuah tulisan. Bayangkan jika kita
menerapkan Rumus ATM untuk kegiatan
bank sampah di wilayah Bapak/Ibu, akan ada banyak data yang bisa ditulis untuk
menjadi inspirasi baru bagi pembaca tulisan Bapak/Ibu", ujar Fajar
Ramdhani dari Environment Team
Yayasan Unilever Indonesia yang kala itu menjadi narasumber penulisan kreatif.
Menurut Fajar, menulis adalah selera dan orisinilitas. Setiap orang
memiliki gagasan dan cara menulis yang berbeda-beda, semua adalah proses.
"Bagus atau jelek itu relatif, yang penting Bapak/Ibu harus mencoba dulu,
karena jika tidak, maka tidak akan lahir sebuah tulisan. Kita tak pernah tahu,
manakala orang lain mendapat
inspirasi dari tulisan kita, bukan?", ujar Fajar.
Bertolak dari pelatihan ini, setiap blog di wilayah Community Centre
akan dikompetisikan.
Rubrik yang ada di tiap blog, akan diseragamkan, juga akan diamati blog yang
sering berkomentar atau dikomentari. Ini ditujukan, agar tiap pengelola blog
Community Centre terpacu memanfaatkan media online sebagai salah satu sarana
"promosi" kampungnya.
Kita tunggu karya-karya
tulis berikutnya ya..
Jumat, 25 Mei 2012
Berkah Bank Sampah Bagi “Si Kumis Tipis”
Kreatif nian ibu-ibu kader lingkungan
di RW 2 Kelurahan Jeruk, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya ini. Banyaknya
budidaya lele yang dikembangkan oleh masyarakat
sekitar, membuahkan ide bagi mereka untuk memanfaatkan “ikan berkumis tipis”
itu, tidak
sekedar menjadi lauk saat makan. Namun, mulai ujung kumis hingga
ekornya, semua
diolah menjadi aneka manakan ringan.
Dagingnya yang empuk, dijadikan bahan dasar membuat isi abon, lemper dan pastel. Sedangkan
kulitnya, dijadikan keripik. Dari sekian menu makanan itu, abon lele menjadi menu
andalan yang laku keras. Adalah Imron, Ketua RT 3
/ RW 2 Kelurahan Jeruk,
penggagas usaha aneka makanan
ringan dari lele tersebut. Bersama sang istri, usaha ini sebenarnya telah
digelutinya selama sekitar dua tahun belakangan.
Seiring waktu, usahanya pun terus berkembang. Terlebih,
sejak RW 2 Kelurahan Jeruk menjadi salah satu wilayah percontohan Program
Community Centre. Program inisiasi Yayasan Unilever Indonesia, bekerjasama
dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh LSM Wehasta dan
Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya itu, “singgah” di RW 2 Kelurahan
Jeruk, pertengahan 2011 lalu.
Terpilihnya RW 2 Jeruk menjadi wilayah percontohan, seakan
membawa berkah bagi “usaha rumahan” Imron dan istri tersebut. Sejak saat itu,
warga mengembangkan sistem bank sampah yang merupakan “pintu masuk” Program
Community Centre. Dalam kurun waktu dua bulan, Bank Sampah Jeruk Ceria mampu menjaring
lebih dari 100 nasabah, omset dan reduksi sampah pun kian meningkat dari waktu
ke waktu.
Moncernya bank sampah
di wilayah eks pedesaan di kawasan Surabaya Barat itu pun menarik perhatian
banyak kalangan. Bank Sampah Jeruk Ceria makin sering mendapat kunjungan dari
wilayah yang ingin mengembangkan sistem bank sampah. Makanan ringan dari lele
pun, selalu disajikan saat tamu berkunjung.
Hingga suatu hari, salah satu media televisi lokal datang
meliput profil Bank Sampah Jeruk Ceria. Sajian makanan ringan dari olahan lele yang
dikembangkan Imron, tak luput dari bidikan kamera dan ikut diliput pula. Tak
lama setelah tayang di televisi, Imron kebanjiran order. “Banyak orang yang memesan makanan lele saya, karena melihat
siaran profil di tv”, begitu ujar Imron.
Merasa usahanya makin berkembang, Ia pun mengajak warga
sekitar yang notabene nasabah Bank Sampah Jeruk Ceria untuk menjadi “karyawan”
nya. Omsetnya pun meningkat tajam. Sejak saat itu, penjualannya mencapai 3 – 4 juta
rupiah perbulan. “Lumayan, dalam sebulan bisa dapat laba bersih 1,5 – 2 juta rupiah
setelah dipotong biaya operasional dan gaji lima orang karyawan. Dalam
seminggu, kita membutuhkan sedikitnya 25 kg lele”, ujarnya.
Belakangan, usaha mengolah lele menjadi makanan ringan
itu menjadi usaha bersama warga sekitar. Makanan berbahan dasar “si kumis
tipis” itu, diberi merk “Abon Lele Jeruk Ceria”, sama dengan nama bank sampah
disitu. Selain menerima pesanan, Ia juga menjual ke toko, warung
dan pasar di sekitar Kelurahan Jeruk. “Alhamdulillaah, sejak adanya Program
Community Centre dan bank sampah, warga mendapat tambahan pemasukan”, pungkas
Imron. Saat ini, Ia juga mengembangkan krupuk lele, yang diakuinya terasa gurih
khas lele.
Berawal dari bank sampah, kini Kelurahan Jeruk memiliki
produk unggulan baru hasil olahan “si kumis tipis”, guna membantu perekonomian
masyarakat sekitar. Haha...
Info pemesanan hubungi : 03172619052
Selasa, 15 Mei 2012
”Berpikir Global, Memetakan Lokal” Dengan Green Map, Ansos dan PRA
Setelah dua
hari (12,13/05/2012) Workshop "Pengenalan Green Map, Ansos dan PRA" di Villa Nasta Inn, Trawas, Mojokerto, niscaya
kapasitas Pengurus Paguyuban Fasilitator Lingkungan Surabaya akan meningkat. Fasilitator seakan diajak “berpikir global melalui pemetaan lokal”, dalam "meracik" program lingkungan.
Hal ini sejalan dengan kebutuhan
fasilitator sesuai perannya di Program Community Centre 2012, dimana
fasilitator masuk dalam struktur pelaksana program. Ia lah yang akan “mengawal”
program sejak awal, hingga pendampingan maupun monitoring dan evaluasi.
“Green Map” sangat membantu dalam
pemetaan wilayah binaan. Terlebih, sistem bank sampah, sebagai bagian dari
Pilar Lingkungan di Program Community Centre, akan direplikasi ke seluruh
wilayah Surabaya.
Green Map sendiri merupakan peta tentang
potensi alam, budaya dan elemen kehidupan keberlanjutan suatu kawasan. Baik yang bersifat positif maupun negatif dan dibuat oleh komunitas atau masyarakat
setempat, dengan menggunakan ikon peta
hijau (green map).
"Saya
pikir, fasilitator lingkungan adalah orang yang tepat untuk membuat Green Map
Surabaya dengan tema lingkungan. Tidak ada
yang lebih memahami wilayah, dibandingkan Bapak/Ibu sekalian. Dari banyak pengalaman, Green Map bisa dijadikan
dasar dan rekomendasi dari komunitas, untuk menyusun sebuah program”, ujar Catur,
dari PPLH Bali sekaligus anggota komunitas Green Map Indonesia yang kala itu
menjadi narasumber.
Materi Green Map semakin lengkap saat narasumber
berikutnya Abyz Wigati, seorang aktivis
pemberdayaan masyarakat dari Institut Pertanian Malang, memaparkan tentang
Ansos dan PRA. Disini para fasilitator diajarkan membuat dua macam tools (baca : alat, Red), yaitu Diagram Venn
dan Kalender Musim.
“Tools” yang
pertama, yaitu Dengan Diagram Venn. Disini kita bisa melihat seberapa “besar”
dan seberapa “dekat” kontribusi lembaga-lembaga yang ada di masyarakat,
terhadap sebuah komunitas. Semua disimbolkan dengan gambar lingkaran.
Komunitas, disimbolkan dengan gambar lingkaran yang terbesar.
Sedangkan lembaga yang ada di
komunitas, disimbolkan dengan lingkaran yang lebih kecil dari lingkaran
komunitas. Makin besar lingkaran sebuah lembaga, artinya makin besar kontribusinya terhadap komunitas dan sebaliknya. Makin dekat jarak peletakannya, artinya
makin dekat pula keberadaan program dari sebuah lembaga terhadap komunitas. “Melalui
Diagram Venn, kita akan lebih mudah dan cermat melihat potensi yang ada di
sekeliling kita”, ujar Wigati.
“Tools” berikutnya adalah “Kalender Musim”, bentuknya seperti
tabel yang berisi kegiatan atau kebiasaan di suatu wilayah dalam setahun dan dilakukan secara rutin, sehingga membentuk pola kebiasaan masyarakat di suatu
wilayah. Kalender Musim, akan bermanfaat ketika kita merencanakan
program atau kegiatan di suatu wilayah, termasuk penjadwalannya.
“Workshop
kali ini merupakan hal baru bagi fasilitator dan sangat bermanfaat untuk
menyusun program yang lebih terencana dan terarah”, ujar Wihartuti Dwi Rahayu
selaku Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. Ia pun
mengutarakan keinginannya dapat membuat Green Map bertema Bank Sampah Surabaya.
Jumat, 04 Mei 2012
Alkisah Sistem Bank Sampah, Sejak Green and Clean Hingga Community Centre
Jika bank pada umumnya, dikenal sebagai
tempat untuk menabung uang. Jika bank sampah, apa yang ada dalam benak Anda?
Berawal pada tahun 2001 di Surabaya. Ketika itu, Yayasan Unilever Indonesia, menginisiasi sebuah program lingkungan berkelanjutan berbasis masyarakat, dengan membentuk satu wilayah percontohan. Ini merupakan implementasi Program CSR (Corporate Social Responsibility) PT Unilever Indonesia Tbk di bidang lingkungan.
Sistem bank sampah inilah yang menjadi "pintu masuk" Program Community Centre Surabaya. Ia akan bergulir dan menjadi "benang merah", hingga terbentuk sistem di semua pilar yang ada di Community Centre.
Berawal pada tahun 2001 di Surabaya. Ketika itu, Yayasan Unilever Indonesia, menginisiasi sebuah program lingkungan berkelanjutan berbasis masyarakat, dengan membentuk satu wilayah percontohan. Ini merupakan implementasi Program CSR (Corporate Social Responsibility) PT Unilever Indonesia Tbk di bidang lingkungan.
Program
ini kemudian lebih dikenal dengan nama Green and Clean. Program ini sarat
dengan kampanye dan edukasi lingkungan yang digulirkan melalui pendampingan. Ada tiga
prinsip yang diterapkan dalam setiap Program Yayasan Unilever Indonesia, yaitu
"Think Big, Start Small dan Move Fast".
Artinya, program diawali dengan mimpi
dan tujuan besar, lalu membentuk percontohan yang akan dijadikan model dan
bergerak cepat dengan melakukan replikasi program di berbagai wilayah. Hingga
awal 2012, Program Green and Clean pun telah dikembangkan di 10 kota besar di
Indonesia.
Pentingnya
pendampingan oleh Yayasan Unilever Indonesia, yaitu menjadikan Program Green
and Clean, terasa begitu kental dengan partisipasi dan swadaya masyarakat.
Sebuah kontribusi sosial yang potensial untuk menyokong upaya peningkatan
kualitas lingkungan kota secara berkelanjutan.
Satu hal
yang menjadi perhatian Program Green and Clean, adalah permasalahan sampah. Ya,
sampah. Ia kerap dipandang sebelah mata dari sisi dampak negatif yang
ditimbulkannya. Ia pula salah satu problematika lingkungan yang kerap dihadapi
oleh kota-kota besar di Indonesia.
Namun,
pernahkan Anda berpikir, bahwa sampah bisa diolah menjadi berkah? Paradigma
inilah yang coba didorong oleh Yayasan Unilever Indonesia, melalui pendampingan
berkelanjutan. Stigma negatif tentang sampah pun, perlahan mulai bergeser.
Masyarakat lebih memaknai sampah secara lebih positif. Sampah
yang awalnya hanya dibuang begitu saja, kemudian dipilah agar bisa diolah dan
tidak mencemari lingkungan.
Seiring perjalanannya, Program Green and Clean
pun, menorehkan ragam inspirasi tentang pengelolaan sampah. Salah satu yang digagas adalah Sistem Bank
Sampah. Sebuah manajemen pengelolaan sampah, yang selain potensial mengurangi
timbulan sampah rumah tangga, juga berdampak ekonomis bagi masyarakat.Sistem bank sampah inilah yang menjadi "pintu masuk" Program Community Centre Surabaya. Ia akan bergulir dan menjadi "benang merah", hingga terbentuk sistem di semua pilar yang ada di Community Centre.
***
Sistem
bank sampah, kini seakan menjadi "primadona" baru program
lingkungan berkelanjutan di banyak kota di Indonesia. Terlebih, bank sampah menjadi program nasional Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Nah, di 10
kota besar dimana Yayasan Unilever Indonesia menggulirkan Program Green and Clean,
tengah dikembangkan sistem bank sampah, yang dibentuk di beberapa wilayah
percontohan.
Jika saja,
sistem bank sampah dikembangkan di seluruh kota di Indonesia. Program ini akan
memberi kontribusi signifikan pada sisi lingkungan juga ekonomis. Menariknya
lagi, program ini digerakkan oleh partisipasi masyarakat. Dengan begitu, sistem
bank sampah bisa memberi harapan bagi kelangsungan program lingkungan secara
jangka panjang.
Menarik bukan? Silakan mencoba...Tertarik Menjalankan Sistem Bank Sampah? Begini Caranya...
Apa yang ada dalam benak Anda, saat
mendengar kata "sampah"?
Apakah sampah selalu Anda identikkan
dengan efek negatif yang ditimbulkannya ?
Persepsi seseorang terhadap sesuatu, sangat
mempengaruhi cara seseorang memperlakukan sesuatu itu.
Begitu pula dengan "sampah".
Apapun yang dipersepsikan sebagai sampah, niscaya akan diperlakukan layaknya
sampah pula. Dibuang begitu saja dan tidak diolah, layaknya barang yang tidak
punya nilai guna.
Lain halnya, jika "sampah"
di-persepsi-kan sebagai barang berharga. Ia akan diperlakukan layaknya barang
bernilai guna yang memiliki nilai jual. Inilah yang terjadi pada Sistem Bank
Sampah. Sebuah manajemen atau alur pengelolaan sampah, khususnya an organik,
yang dilakukan sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Sampah dikelola secara
kolektif dan sistematis, sehingga bisa memberikan manfaat bagi lingkungan juga
berdampak ekonomis bagi masyarakat.
Sama halnya dengan bank pada umumnya,
bank sampah juga dikelola secara profesional. Ia pun memiliki nasabah,
pengurus, sistem administrasi dan aturan lainnya. Bedanya adalah, jika bank
pada umumnya yang ditabung adalah uang, maka di bank sampah, yang ditabung
adalah sampah.
***
Bagaimana cara menjalankan Sistem Bank
Sampah ?
Semua berawal dari pemilahan sampah.
Syaratnya, sampah kering, wajib dipilah atau disendirikan menurut jenisnya, sejak dari sumbernya,
yaitu rumah tangga. Maka itulah, tiap rumah wajib memiliki sarana untuk
menampung sampah terpilah. Semacam glangsing, plastik besar atau sejenisnya.
Dalam kurun waktu yang disepakati,
secara rutin, nasabah membawa sampahnya yang sudah terpilah, untuk disetorkan
ke bank sampah. Nasabah adalah warga atau masyarakat yang secara rutin menabung
sampahnya di bank sampah. Selain itu, Ia juga terikat dengan peraturan maupun
kesepakatan yang ada pada sistem bank sampah.
Buku yang dibawa nasabah, saat datang ke bank sampah, adalah Buku Tabungan Nasabah. Buku ini
berisi catatan berapa rupiah jumlah tabungannya di bank sampah, catatan jenis sampah apa saja yang dibawa beserta berat
masing-masing.
Sesampainya di bank sampah, nasabah
akan melalui proses TIGA LANGKAH. Langkah Pertama, nasabah absen terlebih dahulu sekaligus mencatat
jenis sampah apa saja yang dibawa. Kemudian di Langkah Kedua, sampahnya akan ditimbang sesuai
jenis, sembari itu pengurus bank mencatat berat tiap jenis sampah tersebut. Langkah Ketiga, nasabah membawa Buku Tabungannya ke
pengurus bank sampah, untuk dituliskan berapa rupiah sampah yang dihasilkan pada
penjualan saat itu. Di langkah ketiga pula, pada Buku Besar, pengurus
mencatat berapa kilogram dan rupiah yang dihasilkan dari sampah yang ditabung
tiap nasabah.
Proses di bank sampah selesai, nasabah
pulang. Ia pun sudah mengetahui berapa rupiah dan jenis maupun berat sampah
yang ditabung. Begitu juga, data tersebut sudah direkap oleh pengurus di Buku Besar.
Mudah bukan ? Selamat mencoba...



















