Selamat Datang di Blog Community Centre Surabaya

www.communitycentresby.blogspot.com.

Penyelenggara dan Pendukung Community Center surabaya

Yayasan Unilever Indonesia bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya serta LSM Wehasta

5 Pilar Program Community Centre Surabaya

5 Pilar tersebut diantaranya Lingkungan, Ekonomi, Komunikasi, Sanitasi dan Nutrisi.

Focus Group Discussion

Focus Group Discussion sistem bank sampah di wilayah Community Centre Surabaya, oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya.

Workshop IT dan Penulisan Kreatif

Seorang ibu anggota kelompok kerja pilar komunikasi saat “Workshop IT dan Penulisan Kreatif” di Ruang Pertemuan Kampoeng Ilmu Surabaya, 22 Oktober 2011.

Senin, 30 Juli 2012

“MITOS” Bank Sampah vs “SISTEM” Bank Sampah

Program Bank Sampah bak angin segar di tengah problematika sampah yang kerap dihadapi oleh kebanyakan kota besar di Indonesia. Adalah “sistem bank sampah” yang kini mencuat menjadi “primadona” baru program lingkungan berkelanjutan di beberapa daerah di Indonesia.
Sebelum “sang primadona” ditemukan dan disambut sorak sorai di atas “panggungnya” seperti saat ini, Ia telah melalui beragam dinamika (sebut saja : proses pencarian bentuk).
Ketika “sistem bank sampah”, sebagai “formula” baru dapat berjalan selaras dengan kebutuhan dan memberi nilai tambah ekonomis bagi masyarakat pelaku bank sampah, budaya “Membuang Sampah Sembarangan” pun sendirinya akan usang oleh jaman. Ia tergantikan oleh jargon “Sampah Jika Diolah, Akan Mendatangkan Berkah”.
Namun demikian, Sistem Bank Sampah masih harus dihadapkan dengan beragam “Mitos” Bank Sampah yang kerap dijumpai di masyarakat. Berikut adalah beberapa "mitos" tentang bank sampah, yang niscaya dapat terpatahkan oleh “Sistem” Bank Sampah.
***
1.   Bank Sampah adalah “bangunan” tempat penampungan sampah terpilah.
Hal ini tidak sepenuhnya benar. Ini adalah “Sistem Bank Sampah”, bukan sekedar “Bank Sampah” yang dipahami sebagai bangunan fisik.
Adanya bangunan sifatnya hanya mendukung. Jadi bukan berarti jika tidak memiliki bangunan, maka sistem bank sampah tidak bisa dijalankan. Sekali lagi, ini adalah “sistem”. Niscaya bisa berjalan meski tidak memilliki bangunan khusus untuk bank sampah.
Kuncinya adalah, dalam sistem bank sampah, warga (nasabah) telah melakukan pemilahan sampah an organik menurut jenisnya sejak dari rumah.
Ini penting, untuk memberi kemudahan (mensiasati) tidak adanya bangunan (tempat) penampungan sampah terpilah, diantaranya :
a.   Setiap selesai sampah ditimbang sesuai jenis, pada proses pengepakan/pengemasan sampah terpilah dari seluruh nasabah, pengurus tinggal memasukkannya pada glangsing besar dan pengepul tinggal mengangkut saja. Akan beda kondisinya jika sampah tidak terpilah sejak dari rumah, akan memakan tempat dan waktu, sehingga sampah akan bertumpuk dalam waktu relatif lebih lama.
b.   Tidak adanya tempat penampungan (bangunan fisik) juga terpecahkan oleh adanya pengepul dengan jadwal pengambilan rutin dan terjadwal. Sehingga, lebih cepat sampah terangkut, lebih baik.
Dengan begini, “mitos” bahwa program bank sampah bisa berjalan jika ada tempat (bangunan fisik) penampungan sampah pun, terpatahkan!
2.   Bank Sampah baru bisa berjalan jika ada lahan kosong yang luas
Ini juga “mitos” yang pemahamannya mirip dengan anggapan bahwa program bank sampah membutuhkan “bangunan fisik” sebagai bank sampah.
Nyatanya, di beberapa wilayah (di gang sempit sekalipun), bisa menerapkan “sistem bank sampah”. Solusinya yaitu dengan menutup gang sementara (hanya dalam hitungan jam saja), selama proses bank sampah berjalan.
Hal ini sangat memungkinkan, mengingat proses bank sampah kebanyakan dilakukan hanya dua kali dalam sebulan (2 minggu sekali). Dalam hitungan jam, jika sampah sudah terpilah sejak dari rumah, maka makin cepat pula sampah dapat terangkut oleh pengepul. Sampah tidak akan menumpuk terlalu lama.
Dengan begini, “mitos” bahwa program bank sampah bisa berjalan jika ada lahan kosong yang luas pun, terpatahkan!
3.   Masyarakat akan kesulitan atau “malas” memilah sampah sesuai jenis sejak dari rumah.
Awalnya, hal ini (memilah sampah) sepertinya hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki pemahaman, bahwa sampah dapat diolah jika dipilah, sehingga tidak mencemari llingkungan.
Adanya sistem bank sampah, masyarakat niscaya mendapat “dorongan” lebih untuk memilah sampah sejak dari rumah. Karena hasil (Rp) penjualan sampah akan dikembalikan pada “si pemilik sampah”, dalam bentuk tabungan.
Niscaya, nilai ekonomis yang didapat oleh “si pemilik sampah”, sebanding dengan upaya yang “hanya” semudah memasukkan sampah an organik ke wadah yang disediakan di tiap rumah. Daripada dibuang, lebih baik diolah agar jadi uang, bukan?
Dengan begini, “mitos” bahwa masyarakat akan kesulitan atau “malas” memilah sampah sesuai jenis sejak dari rumah pun, terpatahkan!
4.   Menjadi pengurus Bank Sampah adalah hal yang merepotkan
Anggapan demikian akan muncul, karena Anda belum mencoba menerapkan sistem bank sampah. Sebelum ada sistem bank sampah, masyarakat hanya mengumpulkan sampah an organik dalam kondisi tercampur. Sehingga memberatkan pengurus untuk urusan memilah sampah seluruh warga.
Di sistem bank sampah, nasabah membawa sampah sudah dalam kondisi terpilah (disendirikan menurut jenisnya). Niscaya, akan menyederhanakan tugas pengurus dari segi waktu dan tenaga. Terlebih, ada buku administrasi yang memudahkan pengurus mendata sampah yang ditabung.
“Mitos” bahwa, menjadi pengurus Bank Sampah adalah hal yang merepotkan pun, terpatahkan!
5.   Administrasi Sistem Bank Sampah sulit dipahami dan dijalankan
Sistem Bank Sampah menggunakan 3 macam buku, yaitu Buku Tabungan Nasabah, Buku Besar dan Buku Register. Ketiganya adalah bagian dari “Sistem”.
Buku Tabungan, bentuk dan isinya sama dengan bank pada umumnya, plus catatan jenis sampah apa saja yang dibawa nasabah ketika menabung. Jika Anda pernah menabung di bank, niscaya Anda akan dengan mudah mengisi Buku Tabungan Bank Sampah. Sedangkan pengisian Buku Besar, adalah tinggal memindahkan data di Buku Tabungan seluruh nasabah. Buku Register, hanyalah buku yang berisi data seluruh nasabah (Nama, Alamat, Nomor Induk, Jumlah Orang Tiap KK).
Itu saja, mudah bukan? Justru, adanya bentuk administrasi semacam ini, niscaya dapat menjaga kepercayaan antara nasabah dan pengurus.
Jadi, “mitos” bahwa, administrasi Sistem Bank Sampah sulit dipahami dan dijalankan pun, terpatahkan!
6.   Ada kekhawatiran jika sampah sudah terkumpul, lalu tidak ada yang mengambil
Pengepul sampah kering, niscaya tetap ada, terlepas ada atau tidak sistem bank sampah. Karena jual beli sampah, adalah “ladang bisnis” yang menguntungkan.
Menariknya sistem bank sampah, Ia tidak hanya memberi manfaat bagi nasabah, namun juga “keuntungan berlipat” bagi pengepul. Mengapa?
Karena dengan sistem bank sampah, akan “menyederhanakan” pekerjaan pengepul, diantaranya :
-     Sampah sudah terpilah dan sudah terkumpul (di-packing) sesuai jenis di Bank Sampah.
-     Sampah hasil pemilahan warga relatif kondisinya lebih bersih.
-     Pengepul mendapatkan sampah terpilah secara rutin, dalam skala besar pula.
Kondisi ini, niscaya menjadi “daya tarik” pengepul untuk mendapat kesempatan mengangkut sampah di wilayah yang menerapkan sistem bank sampah.
Jadi “mitos” bahwa, ada kekhawatiran jika sampah sudah terkumpul, lalu tidak ada yang mengambil pun, terpatahkan!
***
Sistem Bank Sampah, lebih pada bagaimana sampah dikelola melalui alur yang sistematis. Mulai jejaknya dari hulu sampai hilir, hingga kemanfaatannya bagi masyarakat, lingkungan dan dampak sosialnya.
Karena ini sebuah "sistem", niscaya bisa “beradaptasi” dan diterapkan secara efektif di berbagai kondisi wilayah yang beragam sekalipun.
Sistem Bank Sampah, juga menegaskan bahwa, “sampah” yang selama ini kerap dipandang sebelah mata, ternyata bisa diolah menjadi berkah.
Nyatanya, beberapa anggapan bahwa program bank sampah sulit dijalankan, semua hanyalah “mitos” belaka. Dapat terpatahkan oleh “sistem” bank sampah.
Menurut Anda, masih ada lagi kah "mitos" tentang bank sampah yang belum terpecahkan ?

Oleh :
Fajar Ramdhani
(Environment Program Team-Unilever Indonesia Foundation)

Jumat, 20 Juli 2012

Menuai “Ceria” Hasil Tabungan Sampah Setahun

Sore itu (18/07/2012), Kantor Bank Sampah “Bersih Ceria”, di RW 2 Kelurahan Bulak Banteng, didatangi puluhan nasabahnya. Bukan lantaran ingin berdemo, namun para nasabah yang kebanyakan ibu-ibu itu, akan menerima tabungan sampahnya yang ditabung selama kurun waktu setahun belakangan.
Peristiwa ini baru pertama kali terjadi di Bank Sampah Bersih Ceria, salah satu bank sampah di wilayah Program Community Centre Surabaya. Sumringah, jelas itulah ekspresi yang terpancar di setiap raut wajah para nasabah. Sore itu, mereka benar-benar membuktikan jargon yang kerap mereka dengar, bahwa “Sampah Jika Dikelola, Akan Mendatangkan Berkah”. Jerih payah nasabah selama setahun memilah sampah sesuai jenis sejak dari rumah pun, terbayar lunas.
Seperti diketahui, sejak menjalankan sistem bank sampah, hasil penjualan sampah di Bank Sampah Bersih Ceria akan dikembalikan ke nasabah, setelah satu tahun sejak bank sampah berdiri. Terhitung saat pertama kali menjual sampah pada tanggal 17 Juli 2011, begitu sistem bank sampah dijalankan di RW 2 Bulak Banteng. Hal ini merupakan kesepakatan para nasabah.
“Waduh dapat berapa ya, semoga cukup untuk Megengan (budaya tasyakuran menjelang Bulan Suci Ramadhan, Red),ujar Wayan, salah seorang nasabah yang juga pengurus Bank Sampah Bersih Ceria. Ibu satu anak ini sudah menjadi nasabah sejak Bank Sampah Bersih Ceria berdiri.
Sejalan dengan Wayan, Ni G.A Made sang Manager mengamini. “Memang kebanyakan nasabah mengaku uangnya akan dipakai untuk belanja keperluan megengan, jadi kami sebagai pengurus memilih waktu yang tepat untuk membagikannya. Semua ini berdasarkan kesepakatan nasabah“, ujar Made.
Genap setahun, Bank Sampah Bersih Ceria telah meraup omzet sejumlah Rp 6 juta dan memiliki 82 nasabah. Tiap bulan, rata-rata mampu mereduksi sampah an organik sekitar 500 kg. Tabungan yang diperoleh nasabah pun beragam. Menurut Made, minimal seorang nasabah setidaknya mendapat Rp 40 ribu. Bahkan, ada juga yang meraup hingga ratusan ribu rupiah. Wow!
Heni Lestari, selaku pendamping Program Community Centre mengatakan, “Ibu-ibu, berapapun yang didapat oleh nasabah, itu adalah hasil kerja keras selama satu tahun. Bisa saja cukup, bisa juga sangat kurang. Namun yang utama disini adalah penyelamatan lingkungan. Uang yang diperoleh, hal itu adalah bonus bagi nasabah”.
Heni melanjutkan, yang terpenting dalam menjalankan sistem bank sampah, adalah adanya rasa saling percaya antara nasabah dan pengurus. Dengan begitu, program bisa berjalan dengan baik dan berkembang.
Seperti yang dirasakan Made selama setahun menjadi Manager Bank Sampah Bersih Ceria. Menurutnya, waktu satu tahun masih merupakan tahap pembelajaran, yang terpenting adalah kemauan untuk mencoba dan terus belajar. Awalnya, kebanyakan nasabah belum tahu cara memilah sampah. Tapi sekarang nasabah sudah pintar semua.
“Nah, sudah dapat ilmu, dapat uang tabungan dari sampah lagi. Terima kasih buat Unilever, PKK Kota, Wehasta dan Paguyuban Fasilitator yang selama setahun ini telah membimbing kami. Semoga Bank Sampah Bersih Ceria bisa terus eksis, nasabah dan reduksi sampah bertambah, lingkungan juga semakin bersih”, ujar Made penuh semangat.
Genap setahun berjalan, nasabah Bank Sampah Bersih Ceria pun akhirnya menuai ceria.
Tetap ceria ya!

Selasa, 17 Juli 2012

Kecil-Kecil Jadi Nasabah Bank Sampah

“Aku bisa bermain kapan saja. Tapi saat ada penimbangan di Bank Sampah Flamboyan, aku akan datang dan membantu Ibu”. Mungkin kalimat tersebut yang ada di benak Raihan kala itu. 

Bocah berusia 7 tahun itu, tampak menghampiri sang Ibu yang sedang “bertugas” di bank sampah. Disaat teman-teman sebayanya sibuk bermain, Ia malah “ikut-ikutan sibuk” di bank sampah.
“Awalnya saya kira Ia datang ke bank sampah untuk minta uang jajan ke ibunya, eh ternyata Ia membawa buku tabungan dan sampah yang sudah terpilah dari rumah”, ujar Tri Mulyono, pendamping program bank sampah dari LSM Wehasta.
Ibunda Raihan, Elly Indrawati adalah Sekretaris Bank Sampah Flamboyan di RW 2 Ngaglik Baru, Kelurahan Kapasari, Kecamatan Genteng. Mungkin saja, sifat peduli lingkungan Raihan lantaran mewarisi sifat sang ibunda yang pengurus bank sampah.
Bank Sampah Flamboyan sendiri, baru berjalan ­+ satu bulan belakangan. Merupakan salah satu bank sampah baru di Program Community Centre 2012. Penjualan dilakukan 2 minggu sekali dan kini telah memiliki 43 nasabah. Dari situ, Bank Sampah Flamboyan telah mereduksi 400 kg sampah an organik dan berhasil meraup omset Rp 379.100,-.
“Ikut sibuk” di bank sampah seperti ini, bukan pengalaman pertama bagi bocah yang duduk di kelas 2 SDN KAPASARI VIII ini. Setiap Bank Sampah Flamboyan buka, Ia selalu datang membawa buku tabungan dan sampah terpilah. Bahkan, Ia juga “turut andil” membantu pengurus mengemas sampah terpilah dari para nasabah. “Mau bantu ibu, biar rumah bersih, kampung juga bersih, nanti uangnya bisa untuk tambahan sekolah”, akunya polos saat ditanya alasan mengapa ikut sibuk di bank sampah.
Selama dua kali penjualan sampah, kebiasaan Raihan, setelah menyetor sampah Ia tak lantas pulang. Dibantunya para pengurus bank sampah, misalnya menempatkan sampah yang sudah ditimbang sesuai jenis hingga saat sampah dijual ke pengepul.
Diakui beberapa tetangga Raihan, bocah ini memang pintar, juara kelas pula. Saat penerimaan Rapor Kenaikan Kelas beberapa minggu lalu, Raihan mendapat Rangking 1 di kelasnya.
Apa yang dilakukan Raihan, tampak sederhana. Entah disadarinya atau tidak, Raihan telah menjadi bagian sebuah pekerjaan besar dan mulia, yaitu penyelamatan lingkungan.
Tetap semangat dan ajak teman-temanmu ya Han!
(Tri M)

Selasa, 10 Juli 2012

Si “Girly”, Tebar Manfaat Dari Pinggir Kali

Bank sampah ini, tak hanya namanya yang menarik. Namun, beberapa hal yang dilakukan pengurus demi menjaga sistem bank sampah dapat berjalan dengan baik dan makin bermanfaat pun, juga menarik dicermati.
Berlokasi di RW 3 Kelurahan Jambangan, bank sampah ini dinamakan “Girly”. Diakui Sampuri, salah seorang pengurusnya, nama ini dipilih lantaran keberadaan bank sampah yang di pinggir kali (Sungai, Red). Selain itu, motor penggerak bank sampah mayoritas adalah ibu-ibu. Jadilah bank sampah ini dinamakan “Girly” alias pinggir kali.
Menurut Sampuri, pemilahan sampah sudah dilakukan sejak lama. Namun, dulu uang hasil penjualan sampah dimasukkan kas RT atau kas lingkungan. “Kami juga pernah rekreasi ke Jogja berkat tabungan sampah. Kala itu warga menyebutnya rekreasi naik sampah”, kenang Sampuri.
Hingga Yayasan Unilever Indonesia mengembangkan Program Community Centre pada 2011, dengan tahap awal membentuk sistem bank sampah. Jambangan RW 3 pun menjadi salah satu wilayah percontohan, meski masuknya belakangan dibanding wilayah Community Centre lainnya.
Namun begitu, perkembangan Bank Sampah Girly tak kalah dengan “saudara tua” Community Centre lainnya. Jika dirata-rata, Bank Sampah Girly tiap bulan meraup omset 1 juta rupiah dan mereduksi + 700 kg sampah an organik.
 “Kami menerima Program Community Centre di RW 3 Jambangan dengan senang hati. Terlebih, ini sifatnya bukan lomba namun program pendampingan jangka panjang”, ujar Sri Suwati, Manager Bank Sampah Girly. Ditambahkan oleh wanita yang akrab dipanggil Bu Bakar ini, warga senang dan termotivasi sejak adanya sistem bank sampah, karena dalam setahun hasil penjualan sampah akan dikembalikan ke warga.
Setelah berjalan selama 8 bulan, pengurus berinisiatif “memutar” uang tabungan sampah warga, yaitu melalui kegiatan simpan pinjam. “Selama ini, warga kerap didatangi bank thitil (pinjaman dengan bunga harian, Red) yang biasa memberi hutang pada warga dengan bunga yang tinggi dan memberatkan.
Namun, sejak adanya simpan pinjam dari Bank Sampah Girly, nasabah sangat senang. Pinjaman bisa diangsur selama 12 minggu dengan bunga 10 %, dari hasil menabung sampah pula”, ujar Bu Bakar penuh semangat.
Diakuinya, selama ini operasional bank sampah dilakukan oleh pengurus secara sukarela. Ini semua agar bank sampah bisa berjalan dengan baik dan warga terus semangat memilah sampah.
Inilah yang memantik ide dari Bu Bakar dan pengurus bank sampah membuka usaha catering “Girly”. “Alhamdulillaah, selama dua bulan berjalan, keuntungannya lumayan. Bisa menambah uang belanja ibu-ibu pengurus Bank Sampah Girly”, ujar Bu Bakar.
Ia berharap, usaha catering Girly juga bisa membantu ibu-ibu yang selama ini bekerja sosial menjadi pengurus bank sampah. “Syukur alhamdulillaah, hingga kini Bank Sampah Girly tetap berjalan dengan baik dan makin memberi manfaat, tak hanya bagi nasabah, namun juga bagi pengurus”, pungkas Bu Bakar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More