Sore
itu (18/07/2012), Kantor Bank Sampah “Bersih Ceria”, di RW 2 Kelurahan Bulak
Banteng, didatangi puluhan nasabahnya. Bukan lantaran ingin berdemo, namun para
nasabah yang kebanyakan ibu-ibu itu, akan menerima tabungan sampahnya yang
ditabung selama kurun waktu setahun belakangan.
Peristiwa
ini baru pertama kali terjadi di Bank Sampah Bersih Ceria, salah satu bank
sampah di wilayah Program Community Centre Surabaya. Sumringah, jelas itulah ekspresi yang terpancar di setiap raut
wajah para nasabah. Sore itu, mereka benar-benar membuktikan jargon yang kerap
mereka dengar, bahwa “Sampah Jika
Dikelola, Akan Mendatangkan Berkah”. Jerih payah nasabah selama setahun
memilah sampah sesuai jenis sejak dari rumah pun, terbayar lunas.
Seperti
diketahui, sejak menjalankan sistem bank sampah, hasil penjualan sampah di Bank
Sampah Bersih Ceria akan dikembalikan ke nasabah, setelah satu tahun sejak bank
sampah berdiri. Terhitung saat pertama kali menjual sampah pada tanggal 17 Juli
2011, begitu sistem bank sampah dijalankan di RW 2 Bulak Banteng. Hal ini
merupakan kesepakatan para nasabah.
“Waduh
dapat berapa ya, semoga cukup untuk Megengan
(budaya tasyakuran menjelang Bulan Suci Ramadhan, Red),” ujar Wayan, salah
seorang nasabah yang juga pengurus Bank Sampah Bersih Ceria. Ibu satu anak ini sudah menjadi nasabah sejak Bank Sampah Bersih
Ceria berdiri.
Sejalan
dengan Wayan, Ni G.A Made sang Manager mengamini. “Memang kebanyakan nasabah mengaku uangnya akan dipakai untuk belanja keperluan
megengan, jadi kami sebagai pengurus memilih waktu yang tepat untuk
membagikannya. Semua ini berdasarkan kesepakatan nasabah“, ujar Made.
Genap
setahun, Bank Sampah Bersih Ceria telah meraup omzet sejumlah Rp 6 juta dan memiliki
82 nasabah. Tiap bulan, rata-rata mampu mereduksi sampah an organik sekitar 500
kg. Tabungan yang diperoleh nasabah pun beragam. Menurut Made, minimal seorang
nasabah setidaknya mendapat Rp 40 ribu. Bahkan, ada juga yang meraup hingga ratusan
ribu rupiah. Wow!
Heni
Lestari, selaku pendamping Program Community Centre mengatakan, “Ibu-ibu, berapapun
yang didapat oleh nasabah, itu adalah hasil kerja keras selama satu tahun. Bisa
saja cukup, bisa juga sangat kurang. Namun yang utama disini adalah
penyelamatan lingkungan. Uang yang diperoleh, hal itu adalah bonus bagi nasabah”.
Heni
melanjutkan, yang terpenting dalam menjalankan sistem bank sampah, adalah adanya
rasa saling percaya antara nasabah dan pengurus. Dengan begitu, program bisa
berjalan dengan baik dan berkembang.
Seperti
yang dirasakan Made selama setahun menjadi Manager Bank Sampah Bersih Ceria.
Menurutnya, waktu satu tahun masih merupakan tahap pembelajaran, yang
terpenting adalah kemauan untuk mencoba dan terus belajar. Awalnya, kebanyakan
nasabah belum tahu cara memilah sampah. Tapi sekarang nasabah sudah pintar
semua.
“Nah,
sudah dapat ilmu, dapat uang tabungan dari sampah lagi. Terima kasih buat
Unilever, PKK Kota, Wehasta dan Paguyuban Fasilitator yang selama setahun ini
telah membimbing kami. Semoga Bank Sampah Bersih Ceria bisa terus eksis,
nasabah dan reduksi sampah bertambah, lingkungan juga semakin bersih”, ujar
Made penuh semangat.
Genap
setahun berjalan, nasabah Bank Sampah Bersih Ceria pun akhirnya menuai ceria.
Tetap
ceria ya!



4 komentar:
selamat, semoga berfaedah dan membawa berkah.
Amiiiin...Sistem Bank Sampah membawa berkah untuk semua. Kawan-kawan di Community Centre Gading dan yang lainnya, jika ada cerita serupa yang menarik, silakan sharring ke kami ya untuk diangkat di blog Community Centre
Semangaaaat!!
Alhamdulillah Manyar sudah,, tp di blognya sendiri... hehehe
Siiip mantap...
Posting Komentar