Jumat, 04 Mei 2012

Berkah Melimpah Di Bank Sampah Manyar Mandiri

Wajah Afifah nampak berbunga-bunga. Tak disangkanya, pagi itu Ia mendapat tawaran modal untuk pengembangan “bisnis” telur asin yang sudah Ia tekuni selama + setahun belakangan. Selama ini, setiap kali Ia “kulak” telur mentah, Ia harus “deposit” uang sejumlah 5 juta rupiah untuk mendapat jatah sekitar 3000 biji telur yang akan diolahnya menjadi telur asin.

Lalu, dari mana tawaran modal itu berasal ?
Pagi itu, Pudji, fasilitator Kelurahan Manyar Sabrangan, Mulyorejo, Surabaya bersama beberapa Pengurus Bank Sampah Manyar Mandiri, Manyar Sabrangan mendatangi rumah Afifah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut.
Menurut Pudji, inisiatif ini lahir karena melihat omset Bank Sampah Manyar Mandiri yang terus menanjak tiap bulannya. Bank Sampah yang baru berjalan selama + 5 bulan itu, sudah mampu mengumpulkan omset lebih dari 5 juta rupiah.
“Sebenarnya pengurus sempat menawarkan pinjaman kepada nasabah, tapi hanya sedikit yang berminat karena kebanyakan ingin uangnya ditabung. Daripada omsetnya nganggur, kan bisa memberi manfaat untuk pengembangan usaha Bu Afifah”, ujar Pudji.
Menariknya lagi, menurut Pudji, pinjaman modal tersebut tidak dikenakan bunga. Menurutnya, ini adalah salah satu cara untuk memotivasi warga, bahwa dengan menjadi nasabah Bank Sampah Mandiri, Ia akan mendapat banyak manfaat. Targetnya adalah membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.
Lalu, apa yang membuat omset Bank Sampah Manyar Mandiri melesat begitu cepat ? Ya, kebiasaan memilah sampah, sebenarnya telah lama dilakukan warga setempat. Terlebih, Bank Sampah Manyar Mandiri didukung penuh oleh berbagai kalangan yang ada. Tidak hanya dari kalangan ibu, aparat setempat seperti RT dan RW juga mendukung. Bahkan, remaja Karang Taruna (Kartar) ikut andil dalam program lingkungan maupun bank sampah.
Diutarakan Pudji, dulu, hasil penjualan sampah 70% masuk kas lingkungan, yang 30% masuk kas Kartar. Ini sudah menjadi kesepakatan warga, karena anak-anak Kartar ikut andil dalam pemilahan dan pengepakan sampah terpilah. Namun, setelah adanya Sistem Bank Sampah, yang mana hasil penjualan sampah dikembalikan pada nasabah, warga makin semangat. Ini merupakan buah dari terpilihnya RW 3 Kelurahan Manyar Sabrangan sebagai salah satu wilayah percontohan Program Community Centre Surabaya.
“Kami pun menyesuaikan pembagian hasil penjualan sampah, jadinya untuk nasabah 90%, untuk kas Kartar 10%. Bagi kami, ini tidak jadi masalah, karena didasarkan kesepakatan warga dan kegiatan Kartar juga tetap berjalan”.
Motivasi warga untuk menjadi nasabah pun berlipat. Hingga akhir Maret 2012, nasabah Bank Sampah Mandiri tercatat sejumlah 183 orang. Bahkan, kini Bank Sampah Mandiri memiliki cabang di salah satu RT.
Banyaknya nasabah, membuat Bank Sampah Manyar Mandiri kini buka seminggu sekali, tiap Hari Minggu. “Dulu, kami buka dua minggu sekali, sekarang seminggu sekali tiap Hari Minggu. Tak jarang, kami harus buka sampai jam 3 sore untuk melayani nasabah. Kami tidak ingin mengecewakan nasabah yang sudah semangat memilah sampah”, ujar Andik, salah satu anggota Kartar yang juga pengurus Bank Sampah Manyar Mandiri.
Hal ini, membuat kreatifitas Andik muncul. Untuk efisiensi waktu dan tenaga, Ia membuat sistem administrasi di komputer untuk memudahkan pencatatan data bank sampah. “Kini, semua proses bank sampah sudah komputerisasi. Pengurus cukup sekali saja mengisi data jenis dan berat sampah serta nama nasabah yang menabung, maka data sudah terintegrasi ke buku besar, data mingguan, bulanan”.
Diakui Andik, sistem komputerisasi ini memudahkan siapapun yang ingin mengetahui data detil Bank Sampah Manyar Mandiri, kapan pun juga, hanya dengan menulis nama nasabah. Bahkan, bank sampah ini kerap mendapat kunjungan dari wilayah lain di Surabaya maupun luar kota yang ingin belajar tentang sistem bank sampah.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More