Jumat, 25 Mei 2012

Berkah Bank Sampah Bagi “Si Kumis Tipis”

Kreatif nian ibu-ibu kader lingkungan di RW 2 Kelurahan Jeruk, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya ini. Banyaknya budidaya lele yang dikembangkan oleh masyarakat sekitar, membuahkan ide bagi mereka untuk memanfaatkan “ikan berkumis tipis” itu, tidak sekedar menjadi lauk saat makan. Namun, mulai ujung kumis hingga ekornya, semua diolah menjadi aneka manakan ringan.


Dagingnya yang empuk, dijadikan bahan dasar membuat isi abon, lemper dan pastel. Sedangkan kulitnya, dijadikan keripik. Dari sekian menu makanan itu, abon lele menjadi menu andalan yang laku keras. Adalah Imron, Ketua RT 3 / RW 2 Kelurahan Jeruk, penggagas usaha aneka makanan ringan dari lele tersebut. Bersama sang istri, usaha ini sebenarnya telah digelutinya selama sekitar dua tahun belakangan.

Seiring waktu, usahanya pun terus berkembang. Terlebih, sejak RW 2 Kelurahan Jeruk menjadi salah satu wilayah percontohan Program Community Centre. Program inisiasi Yayasan Unilever Indonesia, bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh LSM Wehasta dan Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya itu, “singgah” di RW 2 Kelurahan Jeruk, pertengahan 2011 lalu.

Terpilihnya RW 2 Jeruk menjadi wilayah percontohan, seakan membawa berkah bagi “usaha rumahan” Imron dan istri tersebut. Sejak saat itu, warga mengembangkan sistem bank sampah yang merupakan “pintu masuk” Program Community Centre. Dalam kurun waktu dua bulan, Bank Sampah Jeruk Ceria mampu menjaring lebih dari 100 nasabah, omset dan reduksi sampah pun kian meningkat dari waktu ke waktu.

Moncernya bank sampah di wilayah eks pedesaan di kawasan Surabaya Barat itu pun menarik perhatian banyak kalangan. Bank Sampah Jeruk Ceria makin sering mendapat kunjungan dari wilayah yang ingin mengembangkan sistem bank sampah. Makanan ringan dari lele pun, selalu disajikan saat tamu berkunjung.

Hingga suatu hari, salah satu media televisi lokal datang meliput profil Bank Sampah Jeruk Ceria. Sajian makanan ringan dari olahan lele yang dikembangkan Imron, tak luput dari bidikan kamera dan ikut diliput pula. Tak lama setelah tayang di televisi, Imron kebanjiran order. “Banyak orang yang memesan makanan lele saya, karena melihat siaran profil di tv”, begitu ujar Imron.

Merasa usahanya makin berkembang, Ia pun mengajak warga sekitar yang notabene nasabah Bank Sampah Jeruk Ceria untuk menjadi “karyawan” nya. Omsetnya pun meningkat tajam. Sejak saat itu, penjualannya mencapai 3 – 4 juta rupiah perbulan. “Lumayan, dalam sebulan bisa dapat laba bersih 1,5 – 2 juta rupiah setelah dipotong biaya operasional dan gaji lima orang karyawan. Dalam seminggu, kita membutuhkan sedikitnya 25 kg lele”, ujarnya.

Belakangan, usaha mengolah lele menjadi makanan ringan itu menjadi usaha bersama warga sekitar. Makanan berbahan dasar “si kumis tipis” itu, diberi merk “Abon Lele Jeruk Ceria”, sama dengan nama bank sampah disitu. Selain menerima pesanan, Ia juga menjual ke toko, warung dan pasar di sekitar Kelurahan Jeruk. “Alhamdulillaah, sejak adanya Program Community Centre dan bank sampah, warga mendapat tambahan pemasukan”, pungkas Imron. Saat ini, Ia juga mengembangkan krupuk lele, yang diakuinya terasa gurih khas lele.

Berawal dari bank sampah, kini Kelurahan Jeruk memiliki produk unggulan baru hasil olahan “si kumis tipis”, guna membantu perekonomian masyarakat sekitar. Haha...

Info pemesanan hubungi : 03172619052

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More