Kreatif nian ibu-ibu kader lingkungan
di RW 2 Kelurahan Jeruk, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya ini. Banyaknya
budidaya lele yang dikembangkan oleh masyarakat
sekitar, membuahkan ide bagi mereka untuk memanfaatkan “ikan berkumis tipis”
itu, tidak
sekedar menjadi lauk saat makan. Namun, mulai ujung kumis hingga
ekornya, semua
diolah menjadi aneka manakan ringan.
Dagingnya yang empuk, dijadikan bahan dasar membuat isi abon, lemper dan pastel. Sedangkan
kulitnya, dijadikan keripik. Dari sekian menu makanan itu, abon lele menjadi menu
andalan yang laku keras. Adalah Imron, Ketua RT 3
/ RW 2 Kelurahan Jeruk,
penggagas usaha aneka makanan
ringan dari lele tersebut. Bersama sang istri, usaha ini sebenarnya telah
digelutinya selama sekitar dua tahun belakangan.
Seiring waktu, usahanya pun terus berkembang. Terlebih,
sejak RW 2 Kelurahan Jeruk menjadi salah satu wilayah percontohan Program
Community Centre. Program inisiasi Yayasan Unilever Indonesia, bekerjasama
dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh LSM Wehasta dan
Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya itu, “singgah” di RW 2 Kelurahan
Jeruk, pertengahan 2011 lalu.
Terpilihnya RW 2 Jeruk menjadi wilayah percontohan, seakan
membawa berkah bagi “usaha rumahan” Imron dan istri tersebut. Sejak saat itu,
warga mengembangkan sistem bank sampah yang merupakan “pintu masuk” Program
Community Centre. Dalam kurun waktu dua bulan, Bank Sampah Jeruk Ceria mampu menjaring
lebih dari 100 nasabah, omset dan reduksi sampah pun kian meningkat dari waktu
ke waktu.
Moncernya bank sampah
di wilayah eks pedesaan di kawasan Surabaya Barat itu pun menarik perhatian
banyak kalangan. Bank Sampah Jeruk Ceria makin sering mendapat kunjungan dari
wilayah yang ingin mengembangkan sistem bank sampah. Makanan ringan dari lele
pun, selalu disajikan saat tamu berkunjung.
Hingga suatu hari, salah satu media televisi lokal datang
meliput profil Bank Sampah Jeruk Ceria. Sajian makanan ringan dari olahan lele yang
dikembangkan Imron, tak luput dari bidikan kamera dan ikut diliput pula. Tak
lama setelah tayang di televisi, Imron kebanjiran order. “Banyak orang yang memesan makanan lele saya, karena melihat
siaran profil di tv”, begitu ujar Imron.
Merasa usahanya makin berkembang, Ia pun mengajak warga
sekitar yang notabene nasabah Bank Sampah Jeruk Ceria untuk menjadi “karyawan”
nya. Omsetnya pun meningkat tajam. Sejak saat itu, penjualannya mencapai 3 – 4 juta
rupiah perbulan. “Lumayan, dalam sebulan bisa dapat laba bersih 1,5 – 2 juta rupiah
setelah dipotong biaya operasional dan gaji lima orang karyawan. Dalam
seminggu, kita membutuhkan sedikitnya 25 kg lele”, ujarnya.
Belakangan, usaha mengolah lele menjadi makanan ringan
itu menjadi usaha bersama warga sekitar. Makanan berbahan dasar “si kumis
tipis” itu, diberi merk “Abon Lele Jeruk Ceria”, sama dengan nama bank sampah
disitu. Selain menerima pesanan, Ia juga menjual ke toko, warung
dan pasar di sekitar Kelurahan Jeruk. “Alhamdulillaah, sejak adanya Program
Community Centre dan bank sampah, warga mendapat tambahan pemasukan”, pungkas
Imron. Saat ini, Ia juga mengembangkan krupuk lele, yang diakuinya terasa gurih
khas lele.
Berawal dari bank sampah, kini Kelurahan Jeruk memiliki
produk unggulan baru hasil olahan “si kumis tipis”, guna membantu perekonomian
masyarakat sekitar. Haha...
Info pemesanan hubungi : 03172619052



0 komentar:
Posting Komentar