Sebelum “sang
primadona” ditemukan dan disambut sorak sorai di atas “panggungnya” seperti
saat ini, Ia telah melalui beragam dinamika (sebut saja : proses pencarian
bentuk).
Ketika “sistem
bank sampah”, sebagai “formula” baru dapat berjalan selaras dengan kebutuhan
dan memberi nilai tambah ekonomis bagi masyarakat pelaku bank sampah, budaya
“Membuang Sampah Sembarangan” pun sendirinya akan usang oleh jaman. Ia
tergantikan oleh jargon “Sampah Jika Diolah, Akan Mendatangkan Berkah”.
Namun
demikian, Sistem
Bank Sampah masih harus dihadapkan dengan beragam “Mitos” Bank Sampah yang
kerap dijumpai di masyarakat. Berikut adalah beberapa "mitos" tentang bank sampah, yang niscaya
dapat terpatahkan oleh “Sistem” Bank Sampah.
***
1.
Bank Sampah adalah
“bangunan” tempat penampungan sampah terpilah.
Hal ini tidak sepenuhnya benar. Ini
adalah “Sistem Bank Sampah”, bukan sekedar “Bank Sampah” yang dipahami sebagai
bangunan fisik.
Adanya bangunan sifatnya hanya mendukung.
Jadi bukan berarti jika tidak memiliki bangunan, maka sistem bank sampah tidak
bisa dijalankan. Sekali lagi, ini adalah “sistem”. Niscaya bisa berjalan meski
tidak memilliki bangunan khusus untuk bank sampah.
Kuncinya adalah, dalam sistem bank
sampah, warga (nasabah) telah melakukan pemilahan sampah an organik menurut
jenisnya sejak dari rumah.
Ini penting, untuk memberi kemudahan
(mensiasati) tidak adanya bangunan (tempat) penampungan sampah terpilah,
diantaranya :
a. Setiap selesai sampah ditimbang
sesuai jenis, pada proses pengepakan/pengemasan sampah terpilah dari seluruh
nasabah, pengurus tinggal memasukkannya pada glangsing besar dan pengepul
tinggal mengangkut saja. Akan beda kondisinya jika sampah tidak terpilah sejak
dari rumah, akan memakan tempat dan waktu, sehingga sampah akan bertumpuk dalam
waktu relatif lebih lama.
b. Tidak adanya tempat
penampungan (bangunan fisik) juga terpecahkan oleh adanya pengepul dengan
jadwal pengambilan rutin dan terjadwal. Sehingga, lebih cepat sampah terangkut,
lebih baik.
Dengan begini, “mitos” bahwa program
bank sampah bisa berjalan jika ada tempat (bangunan fisik) penampungan sampah
pun, terpatahkan!
2.
Bank Sampah baru bisa berjalan
jika ada lahan kosong yang luas
Ini juga “mitos” yang pemahamannya mirip
dengan anggapan bahwa program bank sampah membutuhkan “bangunan fisik” sebagai
bank sampah.
Nyatanya, di beberapa wilayah (di gang
sempit sekalipun), bisa menerapkan “sistem bank sampah”. Solusinya yaitu dengan
menutup gang sementara (hanya dalam hitungan jam saja), selama proses bank
sampah berjalan.
Hal ini sangat memungkinkan, mengingat
proses bank sampah kebanyakan dilakukan hanya dua kali dalam sebulan (2 minggu
sekali). Dalam hitungan jam, jika sampah sudah terpilah sejak dari rumah, maka
makin cepat pula sampah dapat terangkut oleh pengepul. Sampah tidak akan menumpuk
terlalu lama.
Dengan begini, “mitos” bahwa program
bank sampah bisa berjalan jika ada lahan kosong yang luas pun, terpatahkan!
3.
Masyarakat akan kesulitan atau
“malas” memilah sampah sesuai jenis sejak dari rumah.
Awalnya, hal ini (memilah sampah) sepertinya
hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki pemahaman, bahwa sampah dapat
diolah jika dipilah, sehingga tidak mencemari llingkungan.
Adanya sistem bank sampah, masyarakat
niscaya mendapat “dorongan” lebih untuk memilah sampah sejak dari rumah. Karena
hasil (Rp) penjualan sampah akan dikembalikan pada “si pemilik sampah”, dalam
bentuk tabungan.
Niscaya, nilai ekonomis yang didapat
oleh “si pemilik sampah”, sebanding dengan upaya yang “hanya” semudah
memasukkan sampah an organik ke wadah yang disediakan di tiap rumah. Daripada
dibuang, lebih baik diolah agar jadi uang, bukan?
Dengan begini, “mitos” bahwa masyarakat
akan kesulitan atau “malas” memilah sampah sesuai jenis sejak dari rumah pun,
terpatahkan!
4.
Menjadi pengurus Bank Sampah
adalah hal yang merepotkan
Anggapan demikian akan muncul, karena
Anda belum mencoba menerapkan sistem bank sampah. Sebelum ada sistem bank
sampah, masyarakat hanya mengumpulkan sampah an organik dalam kondisi tercampur.
Sehingga memberatkan pengurus untuk urusan memilah sampah seluruh warga.
Di sistem bank sampah, nasabah membawa
sampah sudah dalam kondisi terpilah (disendirikan menurut jenisnya). Niscaya,
akan menyederhanakan tugas pengurus dari segi waktu dan tenaga. Terlebih, ada
buku administrasi yang memudahkan pengurus mendata sampah yang ditabung.
“Mitos” bahwa, menjadi pengurus Bank
Sampah adalah hal yang merepotkan pun, terpatahkan!
5.
Administrasi Sistem Bank
Sampah sulit dipahami dan dijalankan
Sistem Bank Sampah menggunakan 3 macam
buku, yaitu Buku Tabungan Nasabah, Buku Besar dan Buku Register. Ketiganya
adalah bagian dari “Sistem”.
Buku Tabungan, bentuk dan isinya sama
dengan bank pada umumnya, plus catatan jenis sampah apa saja yang dibawa
nasabah ketika menabung. Jika Anda pernah menabung di bank, niscaya Anda akan
dengan mudah mengisi Buku Tabungan Bank Sampah. Sedangkan pengisian Buku Besar,
adalah tinggal memindahkan data di Buku Tabungan seluruh nasabah. Buku
Register, hanyalah buku yang berisi data seluruh nasabah (Nama, Alamat, Nomor
Induk, Jumlah Orang Tiap KK).
Itu saja, mudah bukan? Justru, adanya
bentuk administrasi semacam ini, niscaya dapat menjaga kepercayaan antara nasabah
dan pengurus.
Jadi, “mitos” bahwa, administrasi
Sistem Bank Sampah sulit dipahami dan dijalankan pun, terpatahkan!
6.
Ada kekhawatiran jika sampah
sudah terkumpul, lalu tidak ada yang mengambil
Pengepul sampah kering, niscaya tetap
ada, terlepas ada atau tidak sistem bank sampah. Karena jual beli sampah,
adalah “ladang bisnis” yang menguntungkan.
Menariknya sistem bank sampah, Ia
tidak hanya memberi manfaat bagi nasabah, namun juga “keuntungan berlipat” bagi
pengepul. Mengapa?
Karena dengan sistem bank sampah, akan
“menyederhanakan” pekerjaan pengepul, diantaranya :
- Sampah sudah terpilah dan
sudah terkumpul (di-packing) sesuai
jenis di Bank Sampah.
- Sampah hasil pemilahan warga
relatif kondisinya lebih bersih.
- Pengepul mendapatkan sampah
terpilah secara rutin, dalam skala besar pula.
Kondisi ini, niscaya menjadi “daya
tarik” pengepul untuk mendapat kesempatan mengangkut sampah di wilayah yang
menerapkan sistem bank sampah.
Jadi “mitos” bahwa, ada kekhawatiran
jika sampah sudah terkumpul, lalu tidak ada yang mengambil pun, terpatahkan!
***
Sistem
Bank Sampah, lebih pada bagaimana
sampah dikelola melalui alur yang sistematis. Mulai jejaknya dari hulu sampai
hilir, hingga kemanfaatannya bagi masyarakat, lingkungan dan dampak sosialnya.
Karena ini sebuah
"sistem", niscaya bisa “beradaptasi” dan diterapkan
secara efektif di berbagai kondisi
wilayah
yang beragam sekalipun.
Sistem Bank
Sampah, juga menegaskan
bahwa, “sampah” yang selama ini kerap dipandang sebelah mata, ternyata bisa
diolah menjadi berkah.
Nyatanya, beberapa anggapan
bahwa program bank sampah sulit dijalankan, semua hanyalah “mitos” belaka. Dapat terpatahkan oleh “sistem” bank sampah.
Menurut Anda, masih ada lagi kah "mitos" tentang bank sampah yang belum terpecahkan ?
Oleh :
Fajar
Ramdhani
(Environment
Program Team-Unilever Indonesia Foundation)



2 komentar:
Salam sukses untuk Bank Sampah
Sukses juga untuk Kampung Gemilang dengan Bank Sampah dan Kampung Cyber nya, semoga makin "gemilang"..Salam dari Surabaya untuk kawan-kawan di Banjarmasin
Posting Komentar