![]() |
| Testimoni tiap pengurus bank sampah community centre |
Itulah yang terjadi saat 10 manager bank sampah dan pengurus wilayah Community Centre berkumpul dalam Develop Bank Sampah, Senin (10/10/2011).
Pendapat mereka pun bermacam-macam dengan adanya sistem bank sampah. Seperti yang diutarakan Made, Manager Bank Sampah "Bersih Ceria", Kelurahan Bulak Banteng. "Sejak menjalankan sistem bank sampah, warga makin semangat memilah, karena uangnya dikembalikan meski ditabung terlebih dahulu", ujar wanita yang juga berprofesi sebagai guru lingkungan hidup itu.
Ia pun bercerita, bahwa para nasabah juga melakukan kegiatan simpan pinjam dari modal tabungan para nasabah. Layaknya sebuah bank, jika nasabah ingin mengajukan kredit, Ia harus mengisi surat perjanjian dengan pihak bank. Besaran kreditnya pun, ditentukan dari hasil verifikasi dan persetujuan sang manager.
Mirip dengan Bank Sampah Bersih Ceria, Bank Sampah Lidah Harapan, Kelurahan Lidah Wetan pun melakukan hal yang sama. Bank Sampah Lidah Harapan, memiliki form khusus untuk aplikasi "kredit". Ada pula tips dari Bank Sampah Euphorbia, Kelurahan Gading. Untuk "menggenjot" omzet, pengurus juga menjaring nasabah dari sekolah TK yang lokasinya tak jauh dari bank sampah. "Kami ingin membiasakan sejak dini budaya memilah sampah pada anak-anak. Selain itu, otomatis orang tua si anak juga menjadi nasabah", ujar Misigiono salah seorang pengurus bank sampah Euphorbia.
Lebih lanjut, Wihartuti Dwi Rahayu, selaku Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya, tak ketinggalan menyampaikan tips tentang sistem bank sampah. "Menjalankan sistem bank sampah sebenarnya tidaklah sulit, tergantung strateginya. Asalkan, sampah kering sudah terpilah sejak dari rumah sesuai jenisnya", ujar wanita yang akrab disapa Bu Agus itu.
Untuk memudahkan administrasi, di bank sampah bisa dilakukan tiga proses. Pada meja 1, nasabah bisa mengambil secarik kertas untuk absen sekaligus menulis jenis sampah kering apa saja yang dibawa. Kemudian, di meja 2 dilakukan penimbangan sampah kering untuk mengetahui berat (kg) sampahnya. Barulah di meja 3, nasabah menyerahkan hasil penimbangan, yaitu berisi berat (Kg) dan tabungan (Rp) sampahnya untuk direkap di buku besar.
Saat ditanya, apakah sistem bank sampah bisa diterapkan khususnya oleh warga Surabaya, Ia mengatakan, "Jika ada kemauan dari berbagai unsur terkait dalam memberi edukasi, memfasilitasi dan aplikasi program, saya kira bisa", begitu pungkasnya. (fjr_kkek)




0 komentar:
Posting Komentar