Bak jamur di musim hujan. Program Bank Sampah makin digemari oleh warga Surabaya. Pasca dilakukan Sosialisasi Program Lingkungan dan Bank Sampah 2012 sekitar April lalu, hingga pertengahan tahun ini, telah terbentuk puluhan bank sampah baru di Surabaya.
Bahkan, jumlah bank sampah tersebut, niscaya akan terus bertambah. Mengingat, beberapa perusahaan dan instansi di Surabaya juga memiliki program bank sampah, sebagai bagian dari kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) nya.
Hal ini tidak terlepas dari inisiasi Yayasan Unilever Indonesia (YUI), yang pada 2011 lalu menggagas Program Community Centre. Program kerjasama YUI dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh LSM Wehasta serta Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya tersebut, menjadikan sistem bank sampah sebagai “pintu masuk” program.
Capaian dan keberhasilan program bank sampah di 10 wilayah percontohan Program Community Centre, sepertinya mampu “menggelitik” wilayah lain di Surabaya untuk mengembangkan program serupa.
Lalu, apa menariknya program bank sampah, hingga begitu digemari ? Ya, salah satu alternatif solusi penanganan sampah an organik ini, telah terbukti manfaatnya. Tidak hanya dampak signifikannya bagi reduksi sampah, namun manfaat ekonomisnya yang nyata.
Sebagai contoh, dari sekian bank sampah di wilayah Community Centre misalnya. Selama kurun waktu sekitar setahun berjalan, dari sedikitnya 100 nasabah mereka mampu mereduksi + 6 ton sampah an organik dan meraup omset sedikitnya Rp 6 juta ! Hal ini tidak berlebihan, manakala tiap bulannya mereka mampu mereduksi sedikitnya 500 kg sampah an organik dengan hasil penjualan + Rp 500 ribu.
Seperti pada Bank Sampah Manyar Mandiri. Bank sampah berlokasi di RW 3, Kelurahan Manyar Sabrangan, Kecamatan Mulyorejo itu, hingga Agustus 2012, telah memiliki 214 nasabah. Sesuai kesepakatan, pembagian uang tabungan sampah akan dilakukan menjelang Lebaran. “Belum genap setahun, total hasil penjualan sampah di Manyar Mandiri, ada sekitar 19 juta rupiah”, ujar Puji, Fasilitator Kelurahan Manyar Sabrangan.
Dyah Katarina, selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya menyampaikan, “Sistem bank sampah merupakan salah satu cara menangani sampah an organik, yang mudah dilakukan dan memberi keuntungan bagi warga. Hasilnya pun nyata, yaitu berkurangnya volume sampah dan menambah saldo tabungan warga”.
Nah, dengan merebaknya “virus” bank sampah di Surabaya, bagaimana cara penanganannya ? Hal ini harus ditangani dengan baik, agar keberlangsungan program tetap terjaga. Beruntungnya, di Surabaya telah terbentuk bank sampah percontohan di wilayah Community Centre. Bank sampah di wilayah tersebut, menerapkan yang namanya “sistem bank sampah”. Inilah “resep mujarab”, sehingga mereka sukses meraup omset dan mereduksi sampah dari rumah tangga hingga kini.
Sistem Bank Sampah inilah yang menjadi standarisasi atau konsep dasar pengembangan Program Bank Sampah. Seperti yang diutarakan Wihartuti Dwi Rahayu, selaku Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. “Banyaknya bank sampah, berkontribusi untuk mereduksi jumlah sampah yang dibuang ke LPA (Lahan Pembuangan Akhir, Red). Yang penting, secara sistem, bisa berjalan secara seragam”, ujar wanita yang akrab dipanggil Bu Agus itu.
Menurutnya, makin banyak pihak yang mengembangkan Program Bank Sampah adalah hal yang bagus. Ia berharap, program tersebut bisa disinergikan dengan Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. Hal ini akan memudahkan fasilitator melakukan pendampingan serta monitoring dan evaluasi bank sampah yang ada di Surabaya.
Nah, jika saja “virus” bank sampah sudah menyebar ke seluruh wilayah Surabaya, bisa dibayangkan berapa banyak reduksi sampah juga nilai ekonomis yang dihasilkan ?
















