Selamat Datang di Blog Community Centre Surabaya

www.communitycentresby.blogspot.com.

Penyelenggara dan Pendukung Community Center surabaya

Yayasan Unilever Indonesia bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya serta LSM Wehasta

5 Pilar Program Community Centre Surabaya

5 Pilar tersebut diantaranya Lingkungan, Ekonomi, Komunikasi, Sanitasi dan Nutrisi.

Focus Group Discussion

Focus Group Discussion sistem bank sampah di wilayah Community Centre Surabaya, oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya.

Workshop IT dan Penulisan Kreatif

Seorang ibu anggota kelompok kerja pilar komunikasi saat “Workshop IT dan Penulisan Kreatif” di Ruang Pertemuan Kampoeng Ilmu Surabaya, 22 Oktober 2011.

Rabu, 29 Agustus 2012

Surabaya Dilanda "Demam" Bank Sampah

“Demam” ini disebabkan oleh “virus” yang penyebarannya sangat cepat. Ditandai gejala omset meningkat dan menurunnya volume sampah. Jika “demam” berlanjut, segera hubungi fasilitator setempat agar ditangani menggunakan “Sistem Bank Sampah”

Bak jamur di musim hujan. Program Bank Sampah makin digemari oleh warga Surabaya. Pasca dilakukan Sosialisasi Program Lingkungan dan Bank Sampah 2012 sekitar April lalu, hingga pertengahan tahun ini, telah terbentuk puluhan bank sampah baru di Surabaya.
Bahkan, jumlah bank sampah tersebut, niscaya akan terus bertambah. Mengingat, beberapa perusahaan dan instansi di Surabaya juga memiliki program bank sampah, sebagai bagian dari kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) nya.
Hal ini tidak terlepas dari inisiasi Yayasan Unilever Indonesia (YUI), yang pada 2011 lalu menggagas Program Community Centre. Program kerjasama YUI dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh LSM Wehasta serta Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya tersebut, menjadikan sistem bank sampah sebagai “pintu masuk” program.
Capaian dan keberhasilan program bank sampah di 10 wilayah percontohan Program Community Centre, sepertinya mampu “menggelitik” wilayah lain di Surabaya untuk mengembangkan program serupa.
Lalu, apa menariknya program bank sampah, hingga begitu digemari ? Ya, salah satu alternatif solusi penanganan sampah an organik ini, telah terbukti manfaatnya. Tidak hanya dampak signifikannya bagi reduksi sampah, namun manfaat ekonomisnya yang nyata.
Sebagai contoh, dari sekian bank sampah di wilayah Community Centre misalnya. Selama kurun waktu sekitar setahun berjalan, dari sedikitnya 100 nasabah mereka mampu mereduksi + 6 ton sampah an organik dan meraup omset sedikitnya Rp 6 juta ! Hal ini tidak berlebihan, manakala tiap bulannya mereka mampu mereduksi sedikitnya 500 kg sampah an organik dengan hasil penjualan + Rp 500 ribu.
Seperti pada Bank Sampah Manyar Mandiri. Bank sampah berlokasi di RW 3, Kelurahan Manyar Sabrangan, Kecamatan Mulyorejo itu, hingga Agustus 2012, telah memiliki 214 nasabah. Sesuai kesepakatan, pembagian uang tabungan sampah akan dilakukan menjelang Lebaran. “Belum genap setahun, total hasil penjualan sampah di Manyar Mandiri, ada sekitar 19 juta rupiah”, ujar Puji, Fasilitator Kelurahan Manyar Sabrangan.
Dyah Katarina, selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya menyampaikan, “Sistem bank sampah merupakan salah satu cara menangani sampah an organik, yang mudah dilakukan dan memberi keuntungan bagi warga. Hasilnya pun nyata, yaitu berkurangnya volume sampah dan menambah saldo tabungan warga”.
Nah, dengan merebaknya “virus” bank sampah di Surabaya, bagaimana cara penanganannya ? Hal ini harus ditangani dengan baik, agar keberlangsungan program tetap terjaga. Beruntungnya, di Surabaya telah terbentuk bank sampah percontohan di wilayah Community Centre. Bank sampah di wilayah tersebut, menerapkan yang namanya “sistem bank sampah”. Inilah “resep mujarab”, sehingga mereka sukses meraup omset dan mereduksi sampah dari rumah tangga hingga kini.
Sistem Bank Sampah inilah yang menjadi standarisasi atau konsep dasar pengembangan Program Bank Sampah. Seperti yang diutarakan Wihartuti Dwi Rahayu, selaku Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. “Banyaknya bank sampah, berkontribusi untuk mereduksi jumlah sampah yang dibuang ke LPA (Lahan Pembuangan Akhir, Red). Yang penting, secara sistem, bisa berjalan secara seragam”, ujar wanita yang akrab dipanggil Bu Agus itu.
Menurutnya, makin banyak pihak yang mengembangkan Program Bank Sampah adalah hal yang bagus. Ia berharap, program tersebut bisa disinergikan dengan Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. Hal ini akan memudahkan fasilitator melakukan pendampingan serta monitoring dan evaluasi bank sampah yang ada di Surabaya.
Nah, jika saja “virus” bank sampah sudah menyebar ke seluruh wilayah Surabaya, bisa dibayangkan berapa banyak reduksi sampah juga nilai ekonomis yang dihasilkan ?

Senin, 30 Juli 2012

“MITOS” Bank Sampah vs “SISTEM” Bank Sampah

Program Bank Sampah bak angin segar di tengah problematika sampah yang kerap dihadapi oleh kebanyakan kota besar di Indonesia. Adalah “sistem bank sampah” yang kini mencuat menjadi “primadona” baru program lingkungan berkelanjutan di beberapa daerah di Indonesia.
Sebelum “sang primadona” ditemukan dan disambut sorak sorai di atas “panggungnya” seperti saat ini, Ia telah melalui beragam dinamika (sebut saja : proses pencarian bentuk).
Ketika “sistem bank sampah”, sebagai “formula” baru dapat berjalan selaras dengan kebutuhan dan memberi nilai tambah ekonomis bagi masyarakat pelaku bank sampah, budaya “Membuang Sampah Sembarangan” pun sendirinya akan usang oleh jaman. Ia tergantikan oleh jargon “Sampah Jika Diolah, Akan Mendatangkan Berkah”.
Namun demikian, Sistem Bank Sampah masih harus dihadapkan dengan beragam “Mitos” Bank Sampah yang kerap dijumpai di masyarakat. Berikut adalah beberapa "mitos" tentang bank sampah, yang niscaya dapat terpatahkan oleh “Sistem” Bank Sampah.
***
1.   Bank Sampah adalah “bangunan” tempat penampungan sampah terpilah.
Hal ini tidak sepenuhnya benar. Ini adalah “Sistem Bank Sampah”, bukan sekedar “Bank Sampah” yang dipahami sebagai bangunan fisik.
Adanya bangunan sifatnya hanya mendukung. Jadi bukan berarti jika tidak memiliki bangunan, maka sistem bank sampah tidak bisa dijalankan. Sekali lagi, ini adalah “sistem”. Niscaya bisa berjalan meski tidak memilliki bangunan khusus untuk bank sampah.
Kuncinya adalah, dalam sistem bank sampah, warga (nasabah) telah melakukan pemilahan sampah an organik menurut jenisnya sejak dari rumah.
Ini penting, untuk memberi kemudahan (mensiasati) tidak adanya bangunan (tempat) penampungan sampah terpilah, diantaranya :
a.   Setiap selesai sampah ditimbang sesuai jenis, pada proses pengepakan/pengemasan sampah terpilah dari seluruh nasabah, pengurus tinggal memasukkannya pada glangsing besar dan pengepul tinggal mengangkut saja. Akan beda kondisinya jika sampah tidak terpilah sejak dari rumah, akan memakan tempat dan waktu, sehingga sampah akan bertumpuk dalam waktu relatif lebih lama.
b.   Tidak adanya tempat penampungan (bangunan fisik) juga terpecahkan oleh adanya pengepul dengan jadwal pengambilan rutin dan terjadwal. Sehingga, lebih cepat sampah terangkut, lebih baik.
Dengan begini, “mitos” bahwa program bank sampah bisa berjalan jika ada tempat (bangunan fisik) penampungan sampah pun, terpatahkan!
2.   Bank Sampah baru bisa berjalan jika ada lahan kosong yang luas
Ini juga “mitos” yang pemahamannya mirip dengan anggapan bahwa program bank sampah membutuhkan “bangunan fisik” sebagai bank sampah.
Nyatanya, di beberapa wilayah (di gang sempit sekalipun), bisa menerapkan “sistem bank sampah”. Solusinya yaitu dengan menutup gang sementara (hanya dalam hitungan jam saja), selama proses bank sampah berjalan.
Hal ini sangat memungkinkan, mengingat proses bank sampah kebanyakan dilakukan hanya dua kali dalam sebulan (2 minggu sekali). Dalam hitungan jam, jika sampah sudah terpilah sejak dari rumah, maka makin cepat pula sampah dapat terangkut oleh pengepul. Sampah tidak akan menumpuk terlalu lama.
Dengan begini, “mitos” bahwa program bank sampah bisa berjalan jika ada lahan kosong yang luas pun, terpatahkan!
3.   Masyarakat akan kesulitan atau “malas” memilah sampah sesuai jenis sejak dari rumah.
Awalnya, hal ini (memilah sampah) sepertinya hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki pemahaman, bahwa sampah dapat diolah jika dipilah, sehingga tidak mencemari llingkungan.
Adanya sistem bank sampah, masyarakat niscaya mendapat “dorongan” lebih untuk memilah sampah sejak dari rumah. Karena hasil (Rp) penjualan sampah akan dikembalikan pada “si pemilik sampah”, dalam bentuk tabungan.
Niscaya, nilai ekonomis yang didapat oleh “si pemilik sampah”, sebanding dengan upaya yang “hanya” semudah memasukkan sampah an organik ke wadah yang disediakan di tiap rumah. Daripada dibuang, lebih baik diolah agar jadi uang, bukan?
Dengan begini, “mitos” bahwa masyarakat akan kesulitan atau “malas” memilah sampah sesuai jenis sejak dari rumah pun, terpatahkan!
4.   Menjadi pengurus Bank Sampah adalah hal yang merepotkan
Anggapan demikian akan muncul, karena Anda belum mencoba menerapkan sistem bank sampah. Sebelum ada sistem bank sampah, masyarakat hanya mengumpulkan sampah an organik dalam kondisi tercampur. Sehingga memberatkan pengurus untuk urusan memilah sampah seluruh warga.
Di sistem bank sampah, nasabah membawa sampah sudah dalam kondisi terpilah (disendirikan menurut jenisnya). Niscaya, akan menyederhanakan tugas pengurus dari segi waktu dan tenaga. Terlebih, ada buku administrasi yang memudahkan pengurus mendata sampah yang ditabung.
“Mitos” bahwa, menjadi pengurus Bank Sampah adalah hal yang merepotkan pun, terpatahkan!
5.   Administrasi Sistem Bank Sampah sulit dipahami dan dijalankan
Sistem Bank Sampah menggunakan 3 macam buku, yaitu Buku Tabungan Nasabah, Buku Besar dan Buku Register. Ketiganya adalah bagian dari “Sistem”.
Buku Tabungan, bentuk dan isinya sama dengan bank pada umumnya, plus catatan jenis sampah apa saja yang dibawa nasabah ketika menabung. Jika Anda pernah menabung di bank, niscaya Anda akan dengan mudah mengisi Buku Tabungan Bank Sampah. Sedangkan pengisian Buku Besar, adalah tinggal memindahkan data di Buku Tabungan seluruh nasabah. Buku Register, hanyalah buku yang berisi data seluruh nasabah (Nama, Alamat, Nomor Induk, Jumlah Orang Tiap KK).
Itu saja, mudah bukan? Justru, adanya bentuk administrasi semacam ini, niscaya dapat menjaga kepercayaan antara nasabah dan pengurus.
Jadi, “mitos” bahwa, administrasi Sistem Bank Sampah sulit dipahami dan dijalankan pun, terpatahkan!
6.   Ada kekhawatiran jika sampah sudah terkumpul, lalu tidak ada yang mengambil
Pengepul sampah kering, niscaya tetap ada, terlepas ada atau tidak sistem bank sampah. Karena jual beli sampah, adalah “ladang bisnis” yang menguntungkan.
Menariknya sistem bank sampah, Ia tidak hanya memberi manfaat bagi nasabah, namun juga “keuntungan berlipat” bagi pengepul. Mengapa?
Karena dengan sistem bank sampah, akan “menyederhanakan” pekerjaan pengepul, diantaranya :
-     Sampah sudah terpilah dan sudah terkumpul (di-packing) sesuai jenis di Bank Sampah.
-     Sampah hasil pemilahan warga relatif kondisinya lebih bersih.
-     Pengepul mendapatkan sampah terpilah secara rutin, dalam skala besar pula.
Kondisi ini, niscaya menjadi “daya tarik” pengepul untuk mendapat kesempatan mengangkut sampah di wilayah yang menerapkan sistem bank sampah.
Jadi “mitos” bahwa, ada kekhawatiran jika sampah sudah terkumpul, lalu tidak ada yang mengambil pun, terpatahkan!
***
Sistem Bank Sampah, lebih pada bagaimana sampah dikelola melalui alur yang sistematis. Mulai jejaknya dari hulu sampai hilir, hingga kemanfaatannya bagi masyarakat, lingkungan dan dampak sosialnya.
Karena ini sebuah "sistem", niscaya bisa “beradaptasi” dan diterapkan secara efektif di berbagai kondisi wilayah yang beragam sekalipun.
Sistem Bank Sampah, juga menegaskan bahwa, “sampah” yang selama ini kerap dipandang sebelah mata, ternyata bisa diolah menjadi berkah.
Nyatanya, beberapa anggapan bahwa program bank sampah sulit dijalankan, semua hanyalah “mitos” belaka. Dapat terpatahkan oleh “sistem” bank sampah.
Menurut Anda, masih ada lagi kah "mitos" tentang bank sampah yang belum terpecahkan ?

Oleh :
Fajar Ramdhani
(Environment Program Team-Unilever Indonesia Foundation)

Jumat, 20 Juli 2012

Menuai “Ceria” Hasil Tabungan Sampah Setahun

Sore itu (18/07/2012), Kantor Bank Sampah “Bersih Ceria”, di RW 2 Kelurahan Bulak Banteng, didatangi puluhan nasabahnya. Bukan lantaran ingin berdemo, namun para nasabah yang kebanyakan ibu-ibu itu, akan menerima tabungan sampahnya yang ditabung selama kurun waktu setahun belakangan.
Peristiwa ini baru pertama kali terjadi di Bank Sampah Bersih Ceria, salah satu bank sampah di wilayah Program Community Centre Surabaya. Sumringah, jelas itulah ekspresi yang terpancar di setiap raut wajah para nasabah. Sore itu, mereka benar-benar membuktikan jargon yang kerap mereka dengar, bahwa “Sampah Jika Dikelola, Akan Mendatangkan Berkah”. Jerih payah nasabah selama setahun memilah sampah sesuai jenis sejak dari rumah pun, terbayar lunas.
Seperti diketahui, sejak menjalankan sistem bank sampah, hasil penjualan sampah di Bank Sampah Bersih Ceria akan dikembalikan ke nasabah, setelah satu tahun sejak bank sampah berdiri. Terhitung saat pertama kali menjual sampah pada tanggal 17 Juli 2011, begitu sistem bank sampah dijalankan di RW 2 Bulak Banteng. Hal ini merupakan kesepakatan para nasabah.
“Waduh dapat berapa ya, semoga cukup untuk Megengan (budaya tasyakuran menjelang Bulan Suci Ramadhan, Red),ujar Wayan, salah seorang nasabah yang juga pengurus Bank Sampah Bersih Ceria. Ibu satu anak ini sudah menjadi nasabah sejak Bank Sampah Bersih Ceria berdiri.
Sejalan dengan Wayan, Ni G.A Made sang Manager mengamini. “Memang kebanyakan nasabah mengaku uangnya akan dipakai untuk belanja keperluan megengan, jadi kami sebagai pengurus memilih waktu yang tepat untuk membagikannya. Semua ini berdasarkan kesepakatan nasabah“, ujar Made.
Genap setahun, Bank Sampah Bersih Ceria telah meraup omzet sejumlah Rp 6 juta dan memiliki 82 nasabah. Tiap bulan, rata-rata mampu mereduksi sampah an organik sekitar 500 kg. Tabungan yang diperoleh nasabah pun beragam. Menurut Made, minimal seorang nasabah setidaknya mendapat Rp 40 ribu. Bahkan, ada juga yang meraup hingga ratusan ribu rupiah. Wow!
Heni Lestari, selaku pendamping Program Community Centre mengatakan, “Ibu-ibu, berapapun yang didapat oleh nasabah, itu adalah hasil kerja keras selama satu tahun. Bisa saja cukup, bisa juga sangat kurang. Namun yang utama disini adalah penyelamatan lingkungan. Uang yang diperoleh, hal itu adalah bonus bagi nasabah”.
Heni melanjutkan, yang terpenting dalam menjalankan sistem bank sampah, adalah adanya rasa saling percaya antara nasabah dan pengurus. Dengan begitu, program bisa berjalan dengan baik dan berkembang.
Seperti yang dirasakan Made selama setahun menjadi Manager Bank Sampah Bersih Ceria. Menurutnya, waktu satu tahun masih merupakan tahap pembelajaran, yang terpenting adalah kemauan untuk mencoba dan terus belajar. Awalnya, kebanyakan nasabah belum tahu cara memilah sampah. Tapi sekarang nasabah sudah pintar semua.
“Nah, sudah dapat ilmu, dapat uang tabungan dari sampah lagi. Terima kasih buat Unilever, PKK Kota, Wehasta dan Paguyuban Fasilitator yang selama setahun ini telah membimbing kami. Semoga Bank Sampah Bersih Ceria bisa terus eksis, nasabah dan reduksi sampah bertambah, lingkungan juga semakin bersih”, ujar Made penuh semangat.
Genap setahun berjalan, nasabah Bank Sampah Bersih Ceria pun akhirnya menuai ceria.
Tetap ceria ya!

Selasa, 17 Juli 2012

Kecil-Kecil Jadi Nasabah Bank Sampah

“Aku bisa bermain kapan saja. Tapi saat ada penimbangan di Bank Sampah Flamboyan, aku akan datang dan membantu Ibu”. Mungkin kalimat tersebut yang ada di benak Raihan kala itu. 

Bocah berusia 7 tahun itu, tampak menghampiri sang Ibu yang sedang “bertugas” di bank sampah. Disaat teman-teman sebayanya sibuk bermain, Ia malah “ikut-ikutan sibuk” di bank sampah.
“Awalnya saya kira Ia datang ke bank sampah untuk minta uang jajan ke ibunya, eh ternyata Ia membawa buku tabungan dan sampah yang sudah terpilah dari rumah”, ujar Tri Mulyono, pendamping program bank sampah dari LSM Wehasta.
Ibunda Raihan, Elly Indrawati adalah Sekretaris Bank Sampah Flamboyan di RW 2 Ngaglik Baru, Kelurahan Kapasari, Kecamatan Genteng. Mungkin saja, sifat peduli lingkungan Raihan lantaran mewarisi sifat sang ibunda yang pengurus bank sampah.
Bank Sampah Flamboyan sendiri, baru berjalan ­+ satu bulan belakangan. Merupakan salah satu bank sampah baru di Program Community Centre 2012. Penjualan dilakukan 2 minggu sekali dan kini telah memiliki 43 nasabah. Dari situ, Bank Sampah Flamboyan telah mereduksi 400 kg sampah an organik dan berhasil meraup omset Rp 379.100,-.
“Ikut sibuk” di bank sampah seperti ini, bukan pengalaman pertama bagi bocah yang duduk di kelas 2 SDN KAPASARI VIII ini. Setiap Bank Sampah Flamboyan buka, Ia selalu datang membawa buku tabungan dan sampah terpilah. Bahkan, Ia juga “turut andil” membantu pengurus mengemas sampah terpilah dari para nasabah. “Mau bantu ibu, biar rumah bersih, kampung juga bersih, nanti uangnya bisa untuk tambahan sekolah”, akunya polos saat ditanya alasan mengapa ikut sibuk di bank sampah.
Selama dua kali penjualan sampah, kebiasaan Raihan, setelah menyetor sampah Ia tak lantas pulang. Dibantunya para pengurus bank sampah, misalnya menempatkan sampah yang sudah ditimbang sesuai jenis hingga saat sampah dijual ke pengepul.
Diakui beberapa tetangga Raihan, bocah ini memang pintar, juara kelas pula. Saat penerimaan Rapor Kenaikan Kelas beberapa minggu lalu, Raihan mendapat Rangking 1 di kelasnya.
Apa yang dilakukan Raihan, tampak sederhana. Entah disadarinya atau tidak, Raihan telah menjadi bagian sebuah pekerjaan besar dan mulia, yaitu penyelamatan lingkungan.
Tetap semangat dan ajak teman-temanmu ya Han!
(Tri M)

Selasa, 10 Juli 2012

Si “Girly”, Tebar Manfaat Dari Pinggir Kali

Bank sampah ini, tak hanya namanya yang menarik. Namun, beberapa hal yang dilakukan pengurus demi menjaga sistem bank sampah dapat berjalan dengan baik dan makin bermanfaat pun, juga menarik dicermati.
Berlokasi di RW 3 Kelurahan Jambangan, bank sampah ini dinamakan “Girly”. Diakui Sampuri, salah seorang pengurusnya, nama ini dipilih lantaran keberadaan bank sampah yang di pinggir kali (Sungai, Red). Selain itu, motor penggerak bank sampah mayoritas adalah ibu-ibu. Jadilah bank sampah ini dinamakan “Girly” alias pinggir kali.
Menurut Sampuri, pemilahan sampah sudah dilakukan sejak lama. Namun, dulu uang hasil penjualan sampah dimasukkan kas RT atau kas lingkungan. “Kami juga pernah rekreasi ke Jogja berkat tabungan sampah. Kala itu warga menyebutnya rekreasi naik sampah”, kenang Sampuri.
Hingga Yayasan Unilever Indonesia mengembangkan Program Community Centre pada 2011, dengan tahap awal membentuk sistem bank sampah. Jambangan RW 3 pun menjadi salah satu wilayah percontohan, meski masuknya belakangan dibanding wilayah Community Centre lainnya.
Namun begitu, perkembangan Bank Sampah Girly tak kalah dengan “saudara tua” Community Centre lainnya. Jika dirata-rata, Bank Sampah Girly tiap bulan meraup omset 1 juta rupiah dan mereduksi + 700 kg sampah an organik.
 “Kami menerima Program Community Centre di RW 3 Jambangan dengan senang hati. Terlebih, ini sifatnya bukan lomba namun program pendampingan jangka panjang”, ujar Sri Suwati, Manager Bank Sampah Girly. Ditambahkan oleh wanita yang akrab dipanggil Bu Bakar ini, warga senang dan termotivasi sejak adanya sistem bank sampah, karena dalam setahun hasil penjualan sampah akan dikembalikan ke warga.
Setelah berjalan selama 8 bulan, pengurus berinisiatif “memutar” uang tabungan sampah warga, yaitu melalui kegiatan simpan pinjam. “Selama ini, warga kerap didatangi bank thitil (pinjaman dengan bunga harian, Red) yang biasa memberi hutang pada warga dengan bunga yang tinggi dan memberatkan.
Namun, sejak adanya simpan pinjam dari Bank Sampah Girly, nasabah sangat senang. Pinjaman bisa diangsur selama 12 minggu dengan bunga 10 %, dari hasil menabung sampah pula”, ujar Bu Bakar penuh semangat.
Diakuinya, selama ini operasional bank sampah dilakukan oleh pengurus secara sukarela. Ini semua agar bank sampah bisa berjalan dengan baik dan warga terus semangat memilah sampah.
Inilah yang memantik ide dari Bu Bakar dan pengurus bank sampah membuka usaha catering “Girly”. “Alhamdulillaah, selama dua bulan berjalan, keuntungannya lumayan. Bisa menambah uang belanja ibu-ibu pengurus Bank Sampah Girly”, ujar Bu Bakar.
Ia berharap, usaha catering Girly juga bisa membantu ibu-ibu yang selama ini bekerja sosial menjadi pengurus bank sampah. “Syukur alhamdulillaah, hingga kini Bank Sampah Girly tetap berjalan dengan baik dan makin memberi manfaat, tak hanya bagi nasabah, namun juga bagi pengurus”, pungkas Bu Bakar.

Selasa, 26 Juni 2012

Belajar Nulis ? Pakai Rumus ATM Saja

Dewi, Ibu berusia sekitar 60 tahun itu akhirnya berhasil membuat sebuah karya tulis” dari sebuah peraga berupa bunga plastik di atas pot. Dengan menerapkan "Rumus ATM", di atas secarik kertas, dalam waktu 10 menit, Ia pun berhasil merangkai sedikitnya 4 paragraf tulisan.
Ia bersama perwakilan dari 10 wilayah Community Centre Surabaya lainnya, Kamis (14/06/2012), mengikuti Pelatihan Blog dan Penulisan Kreatif. Development Kelompok Kerja Pilar Komunikasi dalam Program Community Centre ini, ditujukan agar tiap wilayah bisa intens mengembangkan blog yang dimiliki. Selama ini, pengelola blog Community Centre kerap mengalami kendala tentang bagaimana cara mengawali membuat tulisan.
Seperti halnya Dewi, menulis adalah pengalaman baru bagi ibu rumah tangga paruh baya itu. Ada juga Sutanto, pria yang akrab dipanggil Kung Tanto lantaran seluruh rambutnya telah memutih ini, juga "berhasil" merangkai tulisan. Rumus ATM, membuat Koordinator Fasilitator Wilayah Surabaya Timur ini, mampu membukukan empat paragraf tulisan. Menariknya, Ia membaca tulisannya dengan nada, alias di-lagu-kan. Jadilah seluruh peserta ikut dalam lantunan "lagu" Kung Tanto.
Dengan "rumus ATM", baik Dewi, Sutanto maupun peserta lainnya, menemukan cara mudah membuat sebuah tulisan. Lalu, seperti apa sebenarnya "Rumus ATM" itu? ATM, diartikan sebagai Amati, Tulis dan Modifikasi.
Bunga plastik di atas pot itulah yang dijadikan "obyek" latihan menulis. Ia di-Amati dari berbagai sudut, baik ciri fisik seperti warna, bentuk, kegunaan, asal-usul dan lain sebagainya. Kemudian, hasil pengamatan di-Tulis kata perkata sebagai data awal penyusunan tulisan. Data-data itulah yang kemudian di-Modifikasi dan dirangkai menjadi sebuah tulisan.
“Hanya dari hal sederhana, seperti bunga plastik di atas pot pun bisa disusun sebuah tulisan. Bayangkan jika kita menerapkan Rumus ATM untuk kegiatan bank sampah di wilayah Bapak/Ibu, akan ada banyak data yang bisa ditulis untuk menjadi inspirasi baru bagi pembaca tulisan Bapak/Ibu", ujar Fajar Ramdhani dari Environment Team Yayasan Unilever Indonesia yang kala itu menjadi narasumber penulisan kreatif.
Menurut Fajar, menulis adalah selera dan orisinilitas. Setiap orang memiliki gagasan dan cara menulis yang berbeda-beda, semua adalah proses. "Bagus atau jelek itu relatif, yang penting Bapak/Ibu harus mencoba dulu, karena jika tidak, maka tidak akan lahir sebuah tulisan. Kita tak pernah tahu, manakala orang lain mendapat inspirasi dari tulisan kita, bukan?", ujar Fajar.
Bertolak dari pelatihan ini, setiap blog di wilayah Community Centre akan dikompetisikan. Rubrik yang ada di tiap blog, akan diseragamkan, juga akan diamati blog yang sering berkomentar atau dikomentari. Ini ditujukan, agar tiap pengelola blog Community Centre terpacu memanfaatkan media online sebagai salah satu sarana "promosi" kampungnya.
Kita tunggu karya-karya tulis berikutnya ya..

Jumat, 25 Mei 2012

Berkah Bank Sampah Bagi “Si Kumis Tipis”

Kreatif nian ibu-ibu kader lingkungan di RW 2 Kelurahan Jeruk, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya ini. Banyaknya budidaya lele yang dikembangkan oleh masyarakat sekitar, membuahkan ide bagi mereka untuk memanfaatkan “ikan berkumis tipis” itu, tidak sekedar menjadi lauk saat makan. Namun, mulai ujung kumis hingga ekornya, semua diolah menjadi aneka manakan ringan.

Dagingnya yang empuk, dijadikan bahan dasar membuat isi abon, lemper dan pastel. Sedangkan kulitnya, dijadikan keripik. Dari sekian menu makanan itu, abon lele menjadi menu andalan yang laku keras. Adalah Imron, Ketua RT 3 / RW 2 Kelurahan Jeruk, penggagas usaha aneka makanan ringan dari lele tersebut. Bersama sang istri, usaha ini sebenarnya telah digelutinya selama sekitar dua tahun belakangan.

Seiring waktu, usahanya pun terus berkembang. Terlebih, sejak RW 2 Kelurahan Jeruk menjadi salah satu wilayah percontohan Program Community Centre. Program inisiasi Yayasan Unilever Indonesia, bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh LSM Wehasta dan Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya itu, “singgah” di RW 2 Kelurahan Jeruk, pertengahan 2011 lalu.

Terpilihnya RW 2 Jeruk menjadi wilayah percontohan, seakan membawa berkah bagi “usaha rumahan” Imron dan istri tersebut. Sejak saat itu, warga mengembangkan sistem bank sampah yang merupakan “pintu masuk” Program Community Centre. Dalam kurun waktu dua bulan, Bank Sampah Jeruk Ceria mampu menjaring lebih dari 100 nasabah, omset dan reduksi sampah pun kian meningkat dari waktu ke waktu.

Moncernya bank sampah di wilayah eks pedesaan di kawasan Surabaya Barat itu pun menarik perhatian banyak kalangan. Bank Sampah Jeruk Ceria makin sering mendapat kunjungan dari wilayah yang ingin mengembangkan sistem bank sampah. Makanan ringan dari lele pun, selalu disajikan saat tamu berkunjung.

Hingga suatu hari, salah satu media televisi lokal datang meliput profil Bank Sampah Jeruk Ceria. Sajian makanan ringan dari olahan lele yang dikembangkan Imron, tak luput dari bidikan kamera dan ikut diliput pula. Tak lama setelah tayang di televisi, Imron kebanjiran order. “Banyak orang yang memesan makanan lele saya, karena melihat siaran profil di tv”, begitu ujar Imron.

Merasa usahanya makin berkembang, Ia pun mengajak warga sekitar yang notabene nasabah Bank Sampah Jeruk Ceria untuk menjadi “karyawan” nya. Omsetnya pun meningkat tajam. Sejak saat itu, penjualannya mencapai 3 – 4 juta rupiah perbulan. “Lumayan, dalam sebulan bisa dapat laba bersih 1,5 – 2 juta rupiah setelah dipotong biaya operasional dan gaji lima orang karyawan. Dalam seminggu, kita membutuhkan sedikitnya 25 kg lele”, ujarnya.

Belakangan, usaha mengolah lele menjadi makanan ringan itu menjadi usaha bersama warga sekitar. Makanan berbahan dasar “si kumis tipis” itu, diberi merk “Abon Lele Jeruk Ceria”, sama dengan nama bank sampah disitu. Selain menerima pesanan, Ia juga menjual ke toko, warung dan pasar di sekitar Kelurahan Jeruk. “Alhamdulillaah, sejak adanya Program Community Centre dan bank sampah, warga mendapat tambahan pemasukan”, pungkas Imron. Saat ini, Ia juga mengembangkan krupuk lele, yang diakuinya terasa gurih khas lele.

Berawal dari bank sampah, kini Kelurahan Jeruk memiliki produk unggulan baru hasil olahan “si kumis tipis”, guna membantu perekonomian masyarakat sekitar. Haha...

Info pemesanan hubungi : 03172619052

Selasa, 15 Mei 2012

”Berpikir Global, Memetakan Lokal” Dengan Green Map, Ansos dan PRA

Setelah dua hari (12,13/05/2012) Workshop "Pengenalan Green Map, Ansos dan PRA" di Villa Nasta Inn, Trawas, Mojokerto, niscaya kapasitas Pengurus Paguyuban Fasilitator Lingkungan Surabaya akan meningkat. Fasilitator seakan diajak berpikir global melalui pemetaan lokal, dalam "meracik" program lingkungan.
Hal ini sejalan dengan kebutuhan fasilitator sesuai perannya di Program Community Centre 2012, dimana fasilitator masuk dalam struktur pelaksana program. Ia lah yang akan “mengawal” program sejak awal, hingga pendampingan maupun monitoring dan evaluasi.
“Green Map” sangat membantu dalam pemetaan wilayah binaan. Terlebih, sistem bank sampah, sebagai bagian dari Pilar Lingkungan di Program Community Centre, akan direplikasi ke seluruh wilayah Surabaya.
Green Map sendiri merupakan peta tentang potensi alam, budaya dan elemen kehidupan keberlanjutan suatu kawasan. Baik yang bersifat positif maupun negatif dan dibuat oleh komunitas atau masyarakat setempat, dengan menggunakan ikon peta hijau (green map).
"Saya pikir, fasilitator lingkungan adalah orang yang tepat untuk membuat Green Map Surabaya dengan tema lingkungan. Tidak ada yang lebih memahami wilayah, dibandingkan Bapak/Ibu sekalian. Dari banyak pengalaman, Green Map bisa dijadikan dasar dan rekomendasi dari komunitas, untuk menyusun sebuah program”, ujar Catur, dari PPLH Bali sekaligus anggota komunitas Green Map Indonesia yang kala itu menjadi narasumber.
Materi Green Map semakin lengkap saat narasumber berikutnya Abyz Wigati, seorang aktivis pemberdayaan masyarakat dari Institut Pertanian Malang, memaparkan tentang Ansos dan PRA. Disini para fasilitator diajarkan membuat dua macam tools (baca : alat, Red), yaitu Diagram Venn dan Kalender Musim. 
“Tools” yang pertama, yaitu Dengan Diagram Venn. Disini kita bisa melihat seberapa “besar” dan seberapa “dekat” kontribusi lembaga-lembaga yang ada di masyarakat, terhadap sebuah komunitas. Semua disimbolkan dengan gambar lingkaran. Komunitas, disimbolkan dengan gambar lingkaran yang terbesar.
Sedangkan lembaga yang ada di komunitas, disimbolkan dengan lingkaran yang lebih kecil dari lingkaran komunitas. Makin besar lingkaran sebuah lembaga, artinya makin besar kontribusinya terhadap komunitas dan sebaliknya. Makin dekat jarak peletakannya, artinya makin dekat pula keberadaan program dari sebuah lembaga terhadap komunitas. “Melalui Diagram Venn, kita akan lebih mudah dan cermat melihat potensi yang ada di sekeliling kita”, ujar Wigati.
“Tools” berikutnya adalah “Kalender Musim”, bentuknya seperti tabel yang berisi kegiatan atau kebiasaan di suatu wilayah dalam setahun dan dilakukan secara rutin, sehingga membentuk pola kebiasaan masyarakat di suatu wilayah. Kalender Musim, akan bermanfaat ketika kita merencanakan program atau kegiatan di suatu wilayah, termasuk penjadwalannya.
“Workshop kali ini merupakan hal baru bagi fasilitator dan sangat bermanfaat untuk menyusun program yang lebih terencana dan terarah”, ujar Wihartuti Dwi Rahayu selaku Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. Ia pun mengutarakan keinginannya dapat membuat Green Map bertema Bank Sampah Surabaya.

Jumat, 04 Mei 2012

Alkisah Sistem Bank Sampah, Sejak Green and Clean Hingga Community Centre

Jika bank pada umumnya, dikenal sebagai tempat untuk menabung uang. Jika bank sampah, apa yang ada dalam benak Anda?

Berawal pada tahun 2001 di Surabaya. Ketika itu, Yayasan Unilever Indonesia, menginisiasi sebuah program lingkungan berkelanjutan berbasis masyarakat, dengan membentuk satu wilayah percontohan. Ini merupakan implementasi Program CSR (Corporate Social Responsibility) PT Unilever Indonesia Tbk di bidang lingkungan.
Program ini kemudian lebih dikenal dengan nama Green and Clean. Program ini sarat dengan kampanye dan edukasi lingkungan yang digulirkan melalui pendampingan. Ada tiga prinsip yang diterapkan dalam setiap Program Yayasan Unilever Indonesia, yaitu "Think Big, Start Small dan Move Fast".
Artinya, program diawali dengan mimpi dan tujuan besar, lalu membentuk percontohan yang akan dijadikan model dan bergerak cepat dengan melakukan replikasi program di berbagai wilayah. Hingga awal 2012, Program Green and Clean pun telah dikembangkan di 10 kota besar di Indonesia.
Pentingnya pendampingan oleh Yayasan Unilever Indonesia, yaitu menjadikan Program Green and Clean, terasa begitu kental dengan partisipasi dan swadaya masyarakat. Sebuah kontribusi sosial yang potensial untuk menyokong upaya peningkatan kualitas lingkungan kota secara berkelanjutan.
Satu hal yang menjadi perhatian Program Green and Clean, adalah permasalahan sampah. Ya, sampah. Ia kerap dipandang sebelah mata dari sisi dampak negatif yang ditimbulkannya. Ia pula salah satu problematika lingkungan yang kerap dihadapi oleh kota-kota besar di Indonesia.
Namun, pernahkan Anda berpikir, bahwa sampah bisa diolah menjadi berkah? Paradigma inilah yang coba didorong oleh Yayasan Unilever Indonesia, melalui pendampingan berkelanjutan. Stigma negatif tentang sampah pun, perlahan mulai bergeser. Masyarakat lebih memaknai sampah secara lebih positif. Sampah yang awalnya hanya dibuang begitu saja, kemudian dipilah agar bisa diolah dan tidak mencemari lingkungan.
Seiring perjalanannya, Program Green and Clean pun, menorehkan ragam inspirasi tentang pengelolaan sampah. Salah satu yang digagas adalah Sistem Bank Sampah. Sebuah manajemen pengelolaan sampah, yang selain potensial mengurangi timbulan sampah rumah tangga, juga berdampak ekonomis bagi masyarakat.

Sistem bank sampah inilah yang menjadi "pintu masuk" Program Community Centre Surabaya. Ia akan bergulir dan menjadi "benang merah", hingga terbentuk sistem di semua pilar yang ada di Community Centre.
***
Sistem bank sampah, kini seakan menjadi "primadona" baru program lingkungan berkelanjutan di banyak kota di Indonesia. Terlebih, bank sampah menjadi program nasional Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Nah, di 10 kota besar dimana Yayasan Unilever Indonesia menggulirkan Program Green and Clean, tengah dikembangkan sistem bank sampah, yang dibentuk di beberapa wilayah percontohan.
Jika saja, sistem bank sampah dikembangkan di seluruh kota di Indonesia. Program ini akan memberi kontribusi signifikan pada sisi lingkungan juga ekonomis. Menariknya lagi, program ini digerakkan oleh partisipasi masyarakat. Dengan begitu, sistem bank sampah bisa memberi harapan bagi kelangsungan program lingkungan secara jangka panjang.
Menarik bukan? Silakan mencoba...

Tertarik Menjalankan Sistem Bank Sampah? Begini Caranya...

Apa yang ada dalam benak Anda, saat mendengar kata "sampah"?
Apakah sampah selalu Anda identikkan dengan efek negatif yang ditimbulkannya ?
Persepsi seseorang terhadap sesuatu, sangat mempengaruhi cara seseorang memperlakukan sesuatu itu.
Begitu pula dengan "sampah". Apapun yang dipersepsikan sebagai sampah, niscaya akan diperlakukan layaknya sampah pula. Dibuang begitu saja dan tidak diolah, layaknya barang yang tidak punya nilai guna.
Lain halnya, jika "sampah" di-persepsi-kan sebagai barang berharga. Ia akan diperlakukan layaknya barang bernilai guna yang memiliki nilai jual. Inilah yang terjadi pada Sistem Bank Sampah. Sebuah manajemen atau alur pengelolaan sampah, khususnya an organik, yang dilakukan sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Sampah dikelola secara kolektif dan sistematis, sehingga bisa memberikan manfaat bagi lingkungan juga berdampak ekonomis bagi masyarakat.
Sama halnya dengan bank pada umumnya, bank sampah juga dikelola secara profesional. Ia pun memiliki nasabah, pengurus, sistem administrasi dan aturan lainnya. Bedanya adalah, jika bank pada umumnya yang ditabung adalah uang, maka di bank sampah, yang ditabung adalah sampah.
***
Bagaimana cara menjalankan Sistem Bank Sampah ?
Semua berawal dari pemilahan sampah. Syaratnya, sampah kering, wajib dipilah atau disendirikan menurut jenisnya, sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Maka itulah, tiap rumah wajib memiliki sarana untuk menampung sampah terpilah. Semacam glangsing, plastik besar atau sejenisnya.
Dalam kurun waktu yang disepakati, secara rutin, nasabah membawa sampahnya yang sudah terpilah, untuk disetorkan ke bank sampah. Nasabah adalah warga atau masyarakat yang secara rutin menabung sampahnya di bank sampah. Selain itu, Ia juga terikat dengan peraturan maupun kesepakatan yang ada pada sistem bank sampah.
Buku yang dibawa nasabah, saat datang ke bank sampah, adalah Buku Tabungan Nasabah. Buku ini berisi catatan berapa rupiah jumlah tabungannya di bank sampah, catatan jenis sampah apa saja yang dibawa beserta berat masing-masing.
Sesampainya di bank sampah, nasabah akan melalui proses TIGA LANGKAH. Langkah Pertama, nasabah absen terlebih dahulu sekaligus mencatat jenis sampah apa saja yang dibawa. Kemudian di Langkah Kedua, sampahnya akan ditimbang sesuai jenis, sembari itu pengurus bank mencatat berat tiap jenis sampah tersebut. Langkah Ketiga, nasabah membawa Buku Tabungannya ke pengurus bank sampah, untuk dituliskan berapa rupiah sampah yang dihasilkan pada penjualan saat itu. Di langkah ketiga pula, pada Buku Besar, pengurus mencatat berapa kilogram dan rupiah yang dihasilkan dari sampah yang ditabung tiap nasabah.
Proses di bank sampah selesai, nasabah pulang. Ia pun sudah mengetahui berapa rupiah dan jenis maupun berat sampah yang ditabung. Begitu juga, data tersebut sudah direkap oleh pengurus di Buku Besar.
Mudah bukan ? Selamat mencoba...

Melajulah Kencang Program Bank Sampah Surabaya

Replikasi Program Bank Sampah di Surabaya, sepertinya akan melaju kencang di tahun 2012. Tak berlebihan kiranya, saat melihat antusias fasilitator Surabaya di acara "Sosialisasi Pengembangan Program Lingkungan dan Bank Sampah Surabaya 2012".
Terlebih, adanya Program Community Centre 2011 lalu, telah memberi "bekal" cukup, dengan terbentuknya 10 wilayah percontohan dengan penerapan sistem bank sampah yang cukup baik. Banyak wilayah di Surabaya yang ingin mengembangkan sistem bank sampah, juga merujuk ke 10 wilayah Community Centre tersebut.
Acara yang merupakan rangkaian Program Community Centre 2012 ini, sengaja mengumpulkan seluruh fasilitator Kota Surabaya untuk menyamakan persepsi tentang pengembangan bank sampah di Surabaya. Selain fasilitator, hadir pula Dyah Katarina, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan Aditya Waskita, Sekretaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya.
Dalam sambutannya, Dyah menyampaikan dukungannya terhadap Program Bank Sampah maupun Community Centre. "Program bank sampah sejalan dan bisa disinergikan dengan program kerja PKK di Pokja 3 dan 4 yang membidangi program lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. PKK Kota sangat mendukung program ini", ujar Dyah.
Saat ini di Surabaya memang banyak yang mengembangkan Program Bank Sampah. Sejalan dengan hal itu, Wihartuti Dwi Rahayu, Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya, menilai ini peluang yang bagus.
Menurut wanita yang kerap dipanggil Bu Agus ini, bank sampah yang sudah ataupun yang akan dibentuk, perlu diseragamkan sistemnya, sehingga memudahkan dalam melakukan evaluasi. "Selama ini, banyak wilayah yang ingin mengembangkan bank sampah, karenanya pendampingan fasilitator sangat penting, khususnya dalam pembentukan sistem dan administrasi", ujar Bu Agus.
Pun demikian yang disampaikan Aditya Waskita, "Administrasi sistem bank sampah, akan memudahkan melihat capaian bank sampah, baik dari segi reduksi sampah dan omset. Ini juga yang menjadi perhatian Tim Adipura".
Tak ketinggalan, Sisyantoko, selaku Ketua Wehasta sebagai mitra Yayasan Unilever Indonesia dalam menjalankan Program Community Centre Surabaya, memaparkan tahapan pembentukan sistem bank sampah. Tak ayal, di akhir kegiatan, para fasilitator saling berebut form pengajuan pembentukan bank sampah yang dibagikan kala itu.
Kita nantikan, akan melaju sekencang apa Program Bank Sampah Surabaya di 2012 ini.

Menanti “Sentuhan Dingin” Fasilitator di Community Centre 2012

Sebuah program di masyarakat, niscaya akan berkelanjutan manakala program tersebut sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Terlebih, masyarakat bisa memahami bahwa program itu akan tumbuh dari, oleh dan untuk mereka.
Pemahaman inilah yang ingin dikuatkan dalam Program Community Centre Surabaya di 2012 ini. Program yang di-inisiasi Yayasan Unilever Indonesia sejak 2011 ini, bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya, dan didukung oleh LSM Wehasta dan Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya.
"Kami melihat, potensi yang ada di Surabaya cukup besar, terlebih dari segi peran serta masyarakatnya. Hal ini terwakili melalui peran fasilitator dalam Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya", ujar Ima Novita Rachmasari, selaku Environment Project Officer Yayasan Unilever Indonesia.
Program Community Centre 2012 pun, akan memberikan porsi besar kepada fasilitator melalui wadah Paguyuban, untuk meningkatkan peran dan kapasitasnya. Sebenarnya, peran fasilitator telah nampak pada program yang sama di tahun 2011. Namun di tahun ini, fasilitator akan terlibat lebih dalam, yaitu masuk struktur pelaksana Program Community Centre 2012.
"Kami ingin mengajak fasilitator sejak tahap perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi program. Ini seiring dengan kapasitas fasilitator yang terus meningkat dari waktu ke waktu", ujar Ima.
Jadilah struktur "pengurus" Program Community Centre terbentuk dari hasil diskusi dengan 35 Pengurus Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. Di jajaran penasehat program, adalah Wihartuti Dwi Rahayu yang notabene adalah Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya.
Koordinator Program Community Centre, adalah M Tohir, yang saat ini menjabat Korwil Fasilitator Surabaya Timur. Ia dan seorang wakilnya, akan berkoordinasi dengan 5 orang fasilitator yang masing-masing ditunjuk sebagai Penanggung Jawab Program di tiap wilayah (Utara, Selatan, Pusat, Timur, Barat). Struktur pengurus program juga dilengkapi dengan Humas yang bertanggung jawab sebagai "jubir" program.
Seperti apa Program Community Centre 2012 dengan “sentuhan dingin” fasilitator ? Kita nantikan.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More