Penyelenggara dan Pendukung Community Center surabaya
Yayasan Unilever Indonesia bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya serta LSM Wehasta
5 Pilar Program Community Centre Surabaya
5 Pilar tersebut diantaranya Lingkungan, Ekonomi, Komunikasi, Sanitasi dan Nutrisi.
Focus Group Discussion
Focus Group Discussion sistem bank sampah di wilayah Community Centre Surabaya, oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya.
Workshop IT dan Penulisan Kreatif
Seorang ibu anggota kelompok kerja pilar komunikasi saat “Workshop IT dan Penulisan Kreatif” di Ruang Pertemuan Kampoeng Ilmu Surabaya, 22 Oktober 2011.
Kamis, 05 Januari 2012
Hari Aksi Wilayah Surabaya Barat
Rangkaian Hari Aksi Community Centre, pungkas di RW 5 Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri. Sebagai pamungkas, sajian Hari Aksi wilayah Surabaya Barat itu memang cukup menarik.
Aula RW 5, sore (30/11/2011) itu pun dibuat sesak oleh fasilitator, kader lingkungan, lurah dan camat se-wilayah Surabaya Barat. Hadir juga Pengurus Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. Tak ketinggalan, pengurus bank sampah dari 9 wilayah Community Centre Surabaya lainnya. Mereka sengaja diundang untuk mensosialisasikan bank sampah, melalui aneka tampilan semacam parodi maupun parikan.
Dyah Katarina, selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya juga hadir sekaligus meresmikan “Bank Sampah Lidah Harapan”, Kelurahan Lidah Wetan. Di depan bank sampah, sepasang merpati diterbangkan oleh Dyah Katarina bersama pengurus bank sampah, menandai peresmian tersebut.
Wilayah yang terletak di kawasan Perumahan Lembah Harapan itu, memang sudah sejak lama melakukan pemilahan sampah. Namun, sejak enam bulan belakangan, adanya Program Community Centre membawa banyak perubahan. Sejak saat itu, setiap dua minggu sekali, warga (nasabah, Red) menyetorkan sampah kering yang sudah terpilah sesuai jenisnya dari rumah, ke bank sampah.
Kini, Bank Sampah Lidah Harapan memiliki tiga cabang, yaitu di RT 1, 2 dan 3. Dari ketiga cabang itu, jika dikomulatifkan, setiap bulan omzetnya sekitar 800 ribu rupiah. Bahkan tak jarang juga, mencapai satu juta lebih.
“Sejak menjalankan sistem bank sampah, tiap bulan nasabah bank kami selalu bertambah”, ujar Nurjali Sang Manager. Sejalan dengan Nurjali, saat simulasi sistem bank sampah, Ibu Suladi, dari divisi administrasi mengaku, bahwa Ia selalu mencatat setiap perkembangan bank sampah, baik itu hasil penjualan, omzet hingga berapa reduksi sampah dan apa saja jenisnya.
“Jadi, kalau sewaktu-waktu ada yang ingin tahu perkembangan bank sampah, kita sudah siap dengan data-datanya”, ujar Ibu Heru, salah seorang pengurus bank sampah menambahkan. Kini, Bank Sampah Lidah Harapan telah memiliki 135 nasabah dan omzetnya lebih dari 4 juta rupiah.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang program lingkungan maupun Community Centre di Kelurahan Lidah Wetan itu, ada juga blog community centre, yaitu di www.lidahwetan-community.blogspot.com.
Di akhir Hari Aksi wilayah Surabaya Barat itu, Dyah Katarina menggambarkan kekagumannya atas Program Community Centre dan sistem bank sampah di kawasan perumahan tersebut. Di sebuah kanvas, Ia menulis “Ayo ubah sampah menjadi berkah. Mari berlomba-lomba menjaga lingkungan kita tetap bersih dan hijau. Ubah mindset, bahwa sampah harus dibuang, tapi harus dikelola dengan cerdas”.
Kunjungan Corporate Secretary PT Unilever Indonesia, Di Wilayah Community Centre Surabaya
"Tuku kelengkeng di pangan dewe, Community Centre Genteng memang oye", kalimat pantun ini terlontar dari Sancoyo Antarikso, Corporate Secretary PT Unilever Indonesia Tbk di tengah dialog bersama warga RW 8 Genteng Candirejo, Kelurahan Genteng, Surabaya.
Siang itu, Sabtu (10/12/2011), Ia bersama dr Leo Indarwahono, Manager Program Kesehatan Yayasan Unilever Indonesia berkunjung ke salah satu diantara 10 wilayah percontohan Program Community Centre Surabaya itu.
Senada dengan Sancoyo, dr Leo pun mengucap, "Luar biasa!" setelah keliling kampung, meninjau penerapan sistem bank sampah, proses pembuatan produk unggulan dan bagaimana wilayah itu mengolah sampah rumah tangga.
Di sela kedua "tamu istimewa" itu meninjau administrasi bank sampah, Wiwik, Manager Bank Sampah Gencar Mandiri menjelaskan bagaimana sistem bank sampah berjalan disitu.
"Pemilahan sampah, sudah kami lakukan sejak 2007. Saat itu, hasil pemilahan sampah masih dicatat secara global. Namun, sejak sekitar lima bulan belakangan, pemilahan sampah dicatat secara perorangan. Berapa kilogram dan rupiah yang dihasilkan nasabah, tercatat detil sesuai jenisnya. Tiap nasabah juga punya buku tabungan, jadi Ia tahu berapa nilai tabungan sampahnya di Bank Sampah Gencar Mandiri", ujar Wiwik.
Dijelaskannya, penjualan sampah dilakukan dua minggu sekali. Nasabah membawa sampah yang sudah terpilah sesuai jenis sejak dari rumah masing-masing. Wiwik juga mengakui, sejak adanya sistem baru ini, warga makin giat memilah sampah, nasabah juga bertambah tiap bulannya. Layaknya bank pada umumnya, nasabah pun mendapat "fasilitas". Untuk memenuhinya, pengurus bank adalah "memutar" dana tabungan para nasabah. Diwujudkan berupa simpan pinjam dan pelayanan kredit sembako maupun kebutuhan lain sesuai permintaan nasabah.
"Ini semua menggunakan uang hasil sampah. Ada bunganya juga, sehingga omzet bank sampah terus bertambah. Semua ini dari kesepakatan para nasabah", begitu ujar Wiwik.
Di sistem bank sampah seperti ini, juga diberlakukan Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib yang dibayarkan dengan hasil tabungan sampah. Hal ini lantaran, menurut Wiwik, ke depan, bank sampah ini ingin dijadikan koperasi.
Selepas meninjau bank sampah, "menu" berikutnya adalah proses pembuatan aneka makanan dan minuman olahan dari belimbing wuluh. Buah berwarna hijau ini, memang banyak ditanam oleh warga dan menjadi ikon Genteng Candirejo. Warga mengolahnya menjadi sirup, selai dan manisan. Ada juga sinom dan jamu produksi Kelompok Tani Candirejo.
Melihat potensi yang ada di Genteng, tak salah jika Sancoyo sempat berucap pantun seperti di atas. Ia mengaku kagum. Menurutnya, apa yang dilakukan disini benar-benar luar biasa, warga pun mendapat manfaat.
Senada yang disampaikannya saat dialog, "Bahwa keberadaan sebuah perusahaan, selain menjalankan kegiatan usaha juga harus memperhatikan dampak dan manfaatnya bagi lingkungan serta pertumbuhan masyarakat. Dan ini adalah sebuah keniscayaan", begitu tegasnya.
Sebelum meninggalkan lokasi, Ia pun sempat menyaksikan blog community centre Genteng. Acara kunjungan yang baru saja berlangsung, saat itu juga sudah tampil di www.genteng-community.blogspot.com









