Kamis, 05 Januari 2012

Kunjungan Corporate Secretary PT Unilever Indonesia, Di Wilayah Community Centre Surabaya


"Tuku kelengkeng di pangan dewe, Community Centre Genteng memang oye", kalimat pantun ini terlontar dari Sancoyo Antarikso, Corporate Secretary PT Unilever Indonesia Tbk di tengah dialog bersama warga RW 8 Genteng Candirejo, Kelurahan Genteng, Surabaya.
Siang itu, Sabtu (10/12/2011), Ia bersama dr Leo Indarwahono, Manager Program Kesehatan Yayasan Unilever Indonesia berkunjung ke salah satu diantara 10 wilayah percontohan Program Community Centre Surabaya itu.
Senada dengan Sancoyo, dr Leo pun mengucap, "Luar biasa!" setelah keliling kampung, meninjau penerapan sistem bank sampah, proses pembuatan produk unggulan dan bagaimana wilayah itu mengolah sampah rumah tangga.
Di sela kedua "tamu istimewa" itu meninjau administrasi bank sampah, Wiwik, Manager Bank Sampah Gencar Mandiri menjelaskan bagaimana sistem bank sampah berjalan disitu.
"Pemilahan sampah, sudah kami lakukan sejak 2007. Saat itu, hasil pemilahan sampah masih dicatat secara global. Namun, sejak sekitar lima bulan belakangan, pemilahan sampah dicatat secara perorangan. Berapa kilogram dan rupiah yang dihasilkan nasabah, tercatat detil sesuai jenisnya. Tiap nasabah juga punya buku tabungan, jadi Ia tahu berapa nilai tabungan sampahnya di Bank Sampah Gencar Mandiri", ujar Wiwik.
Dijelaskannya, penjualan sampah dilakukan dua minggu sekali. Nasabah membawa sampah yang sudah terpilah sesuai jenis sejak dari rumah masing-masing. Wiwik juga mengakui, sejak adanya sistem baru ini, warga makin giat memilah sampah, nasabah juga bertambah tiap bulannya. Layaknya bank pada umumnya, nasabah pun mendapat "fasilitas". Untuk memenuhinya, pengurus bank adalah "memutar" dana tabungan para nasabah. Diwujudkan berupa simpan pinjam dan pelayanan kredit sembako maupun kebutuhan lain sesuai permintaan nasabah.
"Ini semua menggunakan uang hasil sampah. Ada bunganya juga, sehingga omzet bank sampah terus bertambah. Semua ini dari kesepakatan para nasabah", begitu ujar Wiwik.
Di sistem bank sampah seperti ini, juga diberlakukan Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib yang dibayarkan dengan hasil tabungan sampah. Hal ini lantaran, menurut Wiwik, ke depan, bank sampah ini ingin dijadikan koperasi.
Selepas meninjau bank sampah, "menu" berikutnya adalah proses pembuatan aneka makanan dan minuman olahan dari belimbing wuluh. Buah berwarna hijau ini, memang banyak ditanam oleh warga dan menjadi ikon Genteng Candirejo. Warga mengolahnya menjadi sirup, selai dan manisan. Ada juga sinom dan jamu produksi Kelompok Tani Candirejo.
Melihat potensi yang ada di Genteng, tak salah jika Sancoyo sempat berucap pantun seperti di atas. Ia mengaku kagum. Menurutnya, apa yang dilakukan disini benar-benar luar biasa, warga pun mendapat manfaat.
Senada yang disampaikannya saat dialog, "Bahwa keberadaan sebuah perusahaan, selain menjalankan kegiatan usaha juga harus memperhatikan dampak dan manfaatnya bagi lingkungan serta pertumbuhan masyarakat. Dan ini adalah sebuah keniscayaan", begitu tegasnya.
Sebelum meninggalkan lokasi, Ia pun sempat menyaksikan blog community centre Genteng. Acara kunjungan yang baru saja berlangsung, saat itu juga sudah tampil di www.genteng-community.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More