Wajah Afifah nampak
berbunga-bunga. Tak disangkanya, pagi itu Ia mendapat tawaran modal untuk
pengembangan “bisnis” telur asin yang sudah Ia tekuni selama + setahun belakangan.
Selama ini, setiap kali Ia “kulak”
telur mentah, Ia harus “deposit” uang sejumlah 5 juta rupiah untuk mendapat jatah sekitar 3000 biji telur yang akan
diolahnya menjadi telur asin.
Lalu, dari mana tawaran modal
itu berasal ?
Pagi itu, Pudji, fasilitator
Kelurahan Manyar Sabrangan, Mulyorejo, Surabaya bersama beberapa Pengurus Bank
Sampah Manyar Mandiri, Manyar Sabrangan mendatangi rumah Afifah untuk
menyampaikan kabar gembira tersebut.
Menurut Pudji, inisiatif
ini lahir karena melihat omset Bank Sampah Manyar Mandiri yang terus menanjak
tiap bulannya. Bank Sampah yang baru berjalan selama + 5 bulan itu, sudah
mampu mengumpulkan omset lebih dari 5 juta rupiah.
“Sebenarnya pengurus
sempat menawarkan pinjaman kepada nasabah, tapi hanya sedikit yang berminat
karena kebanyakan ingin uangnya ditabung. Daripada omsetnya nganggur, kan bisa memberi manfaat untuk
pengembangan usaha Bu Afifah”, ujar Pudji.
Menariknya lagi, menurut
Pudji, pinjaman modal tersebut tidak dikenakan bunga. Menurutnya, ini adalah
salah satu cara untuk memotivasi warga, bahwa dengan menjadi nasabah Bank
Sampah Mandiri, Ia akan mendapat banyak manfaat. Targetnya adalah membiasakan
pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.
Lalu, apa yang membuat
omset Bank Sampah Manyar Mandiri melesat begitu cepat ? Ya, kebiasaan memilah
sampah, sebenarnya telah lama dilakukan warga setempat. Terlebih, Bank Sampah
Manyar Mandiri didukung penuh oleh berbagai kalangan yang ada. Tidak hanya dari
kalangan ibu, aparat setempat seperti RT dan RW juga mendukung. Bahkan, remaja
Karang Taruna (Kartar) ikut andil dalam program lingkungan maupun bank sampah.
Diutarakan Pudji, dulu,
hasil penjualan sampah 70% masuk kas lingkungan, yang 30% masuk kas Kartar. Ini
sudah menjadi kesepakatan warga, karena anak-anak Kartar ikut andil dalam
pemilahan dan pengepakan sampah terpilah. Namun, setelah adanya Sistem Bank
Sampah, yang mana hasil penjualan sampah dikembalikan pada nasabah, warga makin
semangat. Ini merupakan buah dari terpilihnya RW 3 Kelurahan Manyar Sabrangan
sebagai salah satu wilayah percontohan Program Community Centre Surabaya.
“Kami pun menyesuaikan
pembagian hasil penjualan sampah, jadinya untuk nasabah 90%, untuk kas Kartar
10%. Bagi kami, ini tidak jadi masalah, karena didasarkan kesepakatan warga dan
kegiatan Kartar juga tetap berjalan”.
Motivasi warga untuk
menjadi nasabah pun berlipat. Hingga akhir Maret 2012, nasabah Bank Sampah
Mandiri tercatat sejumlah 183 orang. Bahkan, kini Bank Sampah Mandiri memiliki
cabang di salah satu RT.
Banyaknya nasabah, membuat
Bank Sampah Manyar Mandiri kini buka seminggu sekali, tiap Hari Minggu. “Dulu,
kami buka dua minggu sekali, sekarang seminggu sekali tiap Hari Minggu. Tak
jarang, kami harus buka sampai jam 3 sore untuk melayani nasabah. Kami tidak
ingin mengecewakan nasabah yang sudah semangat memilah sampah”, ujar Andik,
salah satu anggota Kartar yang juga pengurus Bank Sampah Manyar Mandiri.
Hal ini, membuat
kreatifitas Andik muncul. Untuk efisiensi waktu dan tenaga, Ia membuat sistem
administrasi di komputer untuk memudahkan pencatatan data bank sampah. “Kini,
semua proses bank sampah sudah komputerisasi. Pengurus cukup sekali saja
mengisi data jenis dan berat sampah serta nama nasabah yang menabung, maka data
sudah terintegrasi ke buku besar, data mingguan, bulanan”.
Diakui Andik, sistem
komputerisasi ini memudahkan siapapun yang ingin mengetahui data detil Bank
Sampah Manyar Mandiri, kapan pun juga, hanya dengan menulis nama nasabah.
Bahkan, bank sampah ini kerap mendapat kunjungan dari wilayah lain di Surabaya
maupun luar kota yang ingin belajar tentang sistem bank sampah.