Selamat Datang di Blog Community Centre Surabaya

www.communitycentresby.blogspot.com.

Penyelenggara dan Pendukung Community Center surabaya

Yayasan Unilever Indonesia bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya serta LSM Wehasta

5 Pilar Program Community Centre Surabaya

5 Pilar tersebut diantaranya Lingkungan, Ekonomi, Komunikasi, Sanitasi dan Nutrisi.

Focus Group Discussion

Focus Group Discussion sistem bank sampah di wilayah Community Centre Surabaya, oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya.

Workshop IT dan Penulisan Kreatif

Seorang ibu anggota kelompok kerja pilar komunikasi saat “Workshop IT dan Penulisan Kreatif” di Ruang Pertemuan Kampoeng Ilmu Surabaya, 22 Oktober 2011.

Jumat, 25 Mei 2012

Berkah Bank Sampah Bagi “Si Kumis Tipis”

Kreatif nian ibu-ibu kader lingkungan di RW 2 Kelurahan Jeruk, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya ini. Banyaknya budidaya lele yang dikembangkan oleh masyarakat sekitar, membuahkan ide bagi mereka untuk memanfaatkan “ikan berkumis tipis” itu, tidak sekedar menjadi lauk saat makan. Namun, mulai ujung kumis hingga ekornya, semua diolah menjadi aneka manakan ringan.

Dagingnya yang empuk, dijadikan bahan dasar membuat isi abon, lemper dan pastel. Sedangkan kulitnya, dijadikan keripik. Dari sekian menu makanan itu, abon lele menjadi menu andalan yang laku keras. Adalah Imron, Ketua RT 3 / RW 2 Kelurahan Jeruk, penggagas usaha aneka makanan ringan dari lele tersebut. Bersama sang istri, usaha ini sebenarnya telah digelutinya selama sekitar dua tahun belakangan.

Seiring waktu, usahanya pun terus berkembang. Terlebih, sejak RW 2 Kelurahan Jeruk menjadi salah satu wilayah percontohan Program Community Centre. Program inisiasi Yayasan Unilever Indonesia, bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh LSM Wehasta dan Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya itu, “singgah” di RW 2 Kelurahan Jeruk, pertengahan 2011 lalu.

Terpilihnya RW 2 Jeruk menjadi wilayah percontohan, seakan membawa berkah bagi “usaha rumahan” Imron dan istri tersebut. Sejak saat itu, warga mengembangkan sistem bank sampah yang merupakan “pintu masuk” Program Community Centre. Dalam kurun waktu dua bulan, Bank Sampah Jeruk Ceria mampu menjaring lebih dari 100 nasabah, omset dan reduksi sampah pun kian meningkat dari waktu ke waktu.

Moncernya bank sampah di wilayah eks pedesaan di kawasan Surabaya Barat itu pun menarik perhatian banyak kalangan. Bank Sampah Jeruk Ceria makin sering mendapat kunjungan dari wilayah yang ingin mengembangkan sistem bank sampah. Makanan ringan dari lele pun, selalu disajikan saat tamu berkunjung.

Hingga suatu hari, salah satu media televisi lokal datang meliput profil Bank Sampah Jeruk Ceria. Sajian makanan ringan dari olahan lele yang dikembangkan Imron, tak luput dari bidikan kamera dan ikut diliput pula. Tak lama setelah tayang di televisi, Imron kebanjiran order. “Banyak orang yang memesan makanan lele saya, karena melihat siaran profil di tv”, begitu ujar Imron.

Merasa usahanya makin berkembang, Ia pun mengajak warga sekitar yang notabene nasabah Bank Sampah Jeruk Ceria untuk menjadi “karyawan” nya. Omsetnya pun meningkat tajam. Sejak saat itu, penjualannya mencapai 3 – 4 juta rupiah perbulan. “Lumayan, dalam sebulan bisa dapat laba bersih 1,5 – 2 juta rupiah setelah dipotong biaya operasional dan gaji lima orang karyawan. Dalam seminggu, kita membutuhkan sedikitnya 25 kg lele”, ujarnya.

Belakangan, usaha mengolah lele menjadi makanan ringan itu menjadi usaha bersama warga sekitar. Makanan berbahan dasar “si kumis tipis” itu, diberi merk “Abon Lele Jeruk Ceria”, sama dengan nama bank sampah disitu. Selain menerima pesanan, Ia juga menjual ke toko, warung dan pasar di sekitar Kelurahan Jeruk. “Alhamdulillaah, sejak adanya Program Community Centre dan bank sampah, warga mendapat tambahan pemasukan”, pungkas Imron. Saat ini, Ia juga mengembangkan krupuk lele, yang diakuinya terasa gurih khas lele.

Berawal dari bank sampah, kini Kelurahan Jeruk memiliki produk unggulan baru hasil olahan “si kumis tipis”, guna membantu perekonomian masyarakat sekitar. Haha...

Info pemesanan hubungi : 03172619052

Selasa, 15 Mei 2012

”Berpikir Global, Memetakan Lokal” Dengan Green Map, Ansos dan PRA

Setelah dua hari (12,13/05/2012) Workshop "Pengenalan Green Map, Ansos dan PRA" di Villa Nasta Inn, Trawas, Mojokerto, niscaya kapasitas Pengurus Paguyuban Fasilitator Lingkungan Surabaya akan meningkat. Fasilitator seakan diajak berpikir global melalui pemetaan lokal, dalam "meracik" program lingkungan.
Hal ini sejalan dengan kebutuhan fasilitator sesuai perannya di Program Community Centre 2012, dimana fasilitator masuk dalam struktur pelaksana program. Ia lah yang akan “mengawal” program sejak awal, hingga pendampingan maupun monitoring dan evaluasi.
“Green Map” sangat membantu dalam pemetaan wilayah binaan. Terlebih, sistem bank sampah, sebagai bagian dari Pilar Lingkungan di Program Community Centre, akan direplikasi ke seluruh wilayah Surabaya.
Green Map sendiri merupakan peta tentang potensi alam, budaya dan elemen kehidupan keberlanjutan suatu kawasan. Baik yang bersifat positif maupun negatif dan dibuat oleh komunitas atau masyarakat setempat, dengan menggunakan ikon peta hijau (green map).
"Saya pikir, fasilitator lingkungan adalah orang yang tepat untuk membuat Green Map Surabaya dengan tema lingkungan. Tidak ada yang lebih memahami wilayah, dibandingkan Bapak/Ibu sekalian. Dari banyak pengalaman, Green Map bisa dijadikan dasar dan rekomendasi dari komunitas, untuk menyusun sebuah program”, ujar Catur, dari PPLH Bali sekaligus anggota komunitas Green Map Indonesia yang kala itu menjadi narasumber.
Materi Green Map semakin lengkap saat narasumber berikutnya Abyz Wigati, seorang aktivis pemberdayaan masyarakat dari Institut Pertanian Malang, memaparkan tentang Ansos dan PRA. Disini para fasilitator diajarkan membuat dua macam tools (baca : alat, Red), yaitu Diagram Venn dan Kalender Musim. 
“Tools” yang pertama, yaitu Dengan Diagram Venn. Disini kita bisa melihat seberapa “besar” dan seberapa “dekat” kontribusi lembaga-lembaga yang ada di masyarakat, terhadap sebuah komunitas. Semua disimbolkan dengan gambar lingkaran. Komunitas, disimbolkan dengan gambar lingkaran yang terbesar.
Sedangkan lembaga yang ada di komunitas, disimbolkan dengan lingkaran yang lebih kecil dari lingkaran komunitas. Makin besar lingkaran sebuah lembaga, artinya makin besar kontribusinya terhadap komunitas dan sebaliknya. Makin dekat jarak peletakannya, artinya makin dekat pula keberadaan program dari sebuah lembaga terhadap komunitas. “Melalui Diagram Venn, kita akan lebih mudah dan cermat melihat potensi yang ada di sekeliling kita”, ujar Wigati.
“Tools” berikutnya adalah “Kalender Musim”, bentuknya seperti tabel yang berisi kegiatan atau kebiasaan di suatu wilayah dalam setahun dan dilakukan secara rutin, sehingga membentuk pola kebiasaan masyarakat di suatu wilayah. Kalender Musim, akan bermanfaat ketika kita merencanakan program atau kegiatan di suatu wilayah, termasuk penjadwalannya.
“Workshop kali ini merupakan hal baru bagi fasilitator dan sangat bermanfaat untuk menyusun program yang lebih terencana dan terarah”, ujar Wihartuti Dwi Rahayu selaku Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. Ia pun mengutarakan keinginannya dapat membuat Green Map bertema Bank Sampah Surabaya.

Jumat, 04 Mei 2012

Alkisah Sistem Bank Sampah, Sejak Green and Clean Hingga Community Centre

Jika bank pada umumnya, dikenal sebagai tempat untuk menabung uang. Jika bank sampah, apa yang ada dalam benak Anda?

Berawal pada tahun 2001 di Surabaya. Ketika itu, Yayasan Unilever Indonesia, menginisiasi sebuah program lingkungan berkelanjutan berbasis masyarakat, dengan membentuk satu wilayah percontohan. Ini merupakan implementasi Program CSR (Corporate Social Responsibility) PT Unilever Indonesia Tbk di bidang lingkungan.
Program ini kemudian lebih dikenal dengan nama Green and Clean. Program ini sarat dengan kampanye dan edukasi lingkungan yang digulirkan melalui pendampingan. Ada tiga prinsip yang diterapkan dalam setiap Program Yayasan Unilever Indonesia, yaitu "Think Big, Start Small dan Move Fast".
Artinya, program diawali dengan mimpi dan tujuan besar, lalu membentuk percontohan yang akan dijadikan model dan bergerak cepat dengan melakukan replikasi program di berbagai wilayah. Hingga awal 2012, Program Green and Clean pun telah dikembangkan di 10 kota besar di Indonesia.
Pentingnya pendampingan oleh Yayasan Unilever Indonesia, yaitu menjadikan Program Green and Clean, terasa begitu kental dengan partisipasi dan swadaya masyarakat. Sebuah kontribusi sosial yang potensial untuk menyokong upaya peningkatan kualitas lingkungan kota secara berkelanjutan.
Satu hal yang menjadi perhatian Program Green and Clean, adalah permasalahan sampah. Ya, sampah. Ia kerap dipandang sebelah mata dari sisi dampak negatif yang ditimbulkannya. Ia pula salah satu problematika lingkungan yang kerap dihadapi oleh kota-kota besar di Indonesia.
Namun, pernahkan Anda berpikir, bahwa sampah bisa diolah menjadi berkah? Paradigma inilah yang coba didorong oleh Yayasan Unilever Indonesia, melalui pendampingan berkelanjutan. Stigma negatif tentang sampah pun, perlahan mulai bergeser. Masyarakat lebih memaknai sampah secara lebih positif. Sampah yang awalnya hanya dibuang begitu saja, kemudian dipilah agar bisa diolah dan tidak mencemari lingkungan.
Seiring perjalanannya, Program Green and Clean pun, menorehkan ragam inspirasi tentang pengelolaan sampah. Salah satu yang digagas adalah Sistem Bank Sampah. Sebuah manajemen pengelolaan sampah, yang selain potensial mengurangi timbulan sampah rumah tangga, juga berdampak ekonomis bagi masyarakat.

Sistem bank sampah inilah yang menjadi "pintu masuk" Program Community Centre Surabaya. Ia akan bergulir dan menjadi "benang merah", hingga terbentuk sistem di semua pilar yang ada di Community Centre.
***
Sistem bank sampah, kini seakan menjadi "primadona" baru program lingkungan berkelanjutan di banyak kota di Indonesia. Terlebih, bank sampah menjadi program nasional Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Nah, di 10 kota besar dimana Yayasan Unilever Indonesia menggulirkan Program Green and Clean, tengah dikembangkan sistem bank sampah, yang dibentuk di beberapa wilayah percontohan.
Jika saja, sistem bank sampah dikembangkan di seluruh kota di Indonesia. Program ini akan memberi kontribusi signifikan pada sisi lingkungan juga ekonomis. Menariknya lagi, program ini digerakkan oleh partisipasi masyarakat. Dengan begitu, sistem bank sampah bisa memberi harapan bagi kelangsungan program lingkungan secara jangka panjang.
Menarik bukan? Silakan mencoba...

Tertarik Menjalankan Sistem Bank Sampah? Begini Caranya...

Apa yang ada dalam benak Anda, saat mendengar kata "sampah"?
Apakah sampah selalu Anda identikkan dengan efek negatif yang ditimbulkannya ?
Persepsi seseorang terhadap sesuatu, sangat mempengaruhi cara seseorang memperlakukan sesuatu itu.
Begitu pula dengan "sampah". Apapun yang dipersepsikan sebagai sampah, niscaya akan diperlakukan layaknya sampah pula. Dibuang begitu saja dan tidak diolah, layaknya barang yang tidak punya nilai guna.
Lain halnya, jika "sampah" di-persepsi-kan sebagai barang berharga. Ia akan diperlakukan layaknya barang bernilai guna yang memiliki nilai jual. Inilah yang terjadi pada Sistem Bank Sampah. Sebuah manajemen atau alur pengelolaan sampah, khususnya an organik, yang dilakukan sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Sampah dikelola secara kolektif dan sistematis, sehingga bisa memberikan manfaat bagi lingkungan juga berdampak ekonomis bagi masyarakat.
Sama halnya dengan bank pada umumnya, bank sampah juga dikelola secara profesional. Ia pun memiliki nasabah, pengurus, sistem administrasi dan aturan lainnya. Bedanya adalah, jika bank pada umumnya yang ditabung adalah uang, maka di bank sampah, yang ditabung adalah sampah.
***
Bagaimana cara menjalankan Sistem Bank Sampah ?
Semua berawal dari pemilahan sampah. Syaratnya, sampah kering, wajib dipilah atau disendirikan menurut jenisnya, sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Maka itulah, tiap rumah wajib memiliki sarana untuk menampung sampah terpilah. Semacam glangsing, plastik besar atau sejenisnya.
Dalam kurun waktu yang disepakati, secara rutin, nasabah membawa sampahnya yang sudah terpilah, untuk disetorkan ke bank sampah. Nasabah adalah warga atau masyarakat yang secara rutin menabung sampahnya di bank sampah. Selain itu, Ia juga terikat dengan peraturan maupun kesepakatan yang ada pada sistem bank sampah.
Buku yang dibawa nasabah, saat datang ke bank sampah, adalah Buku Tabungan Nasabah. Buku ini berisi catatan berapa rupiah jumlah tabungannya di bank sampah, catatan jenis sampah apa saja yang dibawa beserta berat masing-masing.
Sesampainya di bank sampah, nasabah akan melalui proses TIGA LANGKAH. Langkah Pertama, nasabah absen terlebih dahulu sekaligus mencatat jenis sampah apa saja yang dibawa. Kemudian di Langkah Kedua, sampahnya akan ditimbang sesuai jenis, sembari itu pengurus bank mencatat berat tiap jenis sampah tersebut. Langkah Ketiga, nasabah membawa Buku Tabungannya ke pengurus bank sampah, untuk dituliskan berapa rupiah sampah yang dihasilkan pada penjualan saat itu. Di langkah ketiga pula, pada Buku Besar, pengurus mencatat berapa kilogram dan rupiah yang dihasilkan dari sampah yang ditabung tiap nasabah.
Proses di bank sampah selesai, nasabah pulang. Ia pun sudah mengetahui berapa rupiah dan jenis maupun berat sampah yang ditabung. Begitu juga, data tersebut sudah direkap oleh pengurus di Buku Besar.
Mudah bukan ? Selamat mencoba...

Melajulah Kencang Program Bank Sampah Surabaya

Replikasi Program Bank Sampah di Surabaya, sepertinya akan melaju kencang di tahun 2012. Tak berlebihan kiranya, saat melihat antusias fasilitator Surabaya di acara "Sosialisasi Pengembangan Program Lingkungan dan Bank Sampah Surabaya 2012".
Terlebih, adanya Program Community Centre 2011 lalu, telah memberi "bekal" cukup, dengan terbentuknya 10 wilayah percontohan dengan penerapan sistem bank sampah yang cukup baik. Banyak wilayah di Surabaya yang ingin mengembangkan sistem bank sampah, juga merujuk ke 10 wilayah Community Centre tersebut.
Acara yang merupakan rangkaian Program Community Centre 2012 ini, sengaja mengumpulkan seluruh fasilitator Kota Surabaya untuk menyamakan persepsi tentang pengembangan bank sampah di Surabaya. Selain fasilitator, hadir pula Dyah Katarina, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan Aditya Waskita, Sekretaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya.
Dalam sambutannya, Dyah menyampaikan dukungannya terhadap Program Bank Sampah maupun Community Centre. "Program bank sampah sejalan dan bisa disinergikan dengan program kerja PKK di Pokja 3 dan 4 yang membidangi program lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. PKK Kota sangat mendukung program ini", ujar Dyah.
Saat ini di Surabaya memang banyak yang mengembangkan Program Bank Sampah. Sejalan dengan hal itu, Wihartuti Dwi Rahayu, Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya, menilai ini peluang yang bagus.
Menurut wanita yang kerap dipanggil Bu Agus ini, bank sampah yang sudah ataupun yang akan dibentuk, perlu diseragamkan sistemnya, sehingga memudahkan dalam melakukan evaluasi. "Selama ini, banyak wilayah yang ingin mengembangkan bank sampah, karenanya pendampingan fasilitator sangat penting, khususnya dalam pembentukan sistem dan administrasi", ujar Bu Agus.
Pun demikian yang disampaikan Aditya Waskita, "Administrasi sistem bank sampah, akan memudahkan melihat capaian bank sampah, baik dari segi reduksi sampah dan omset. Ini juga yang menjadi perhatian Tim Adipura".
Tak ketinggalan, Sisyantoko, selaku Ketua Wehasta sebagai mitra Yayasan Unilever Indonesia dalam menjalankan Program Community Centre Surabaya, memaparkan tahapan pembentukan sistem bank sampah. Tak ayal, di akhir kegiatan, para fasilitator saling berebut form pengajuan pembentukan bank sampah yang dibagikan kala itu.
Kita nantikan, akan melaju sekencang apa Program Bank Sampah Surabaya di 2012 ini.

Menanti “Sentuhan Dingin” Fasilitator di Community Centre 2012

Sebuah program di masyarakat, niscaya akan berkelanjutan manakala program tersebut sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Terlebih, masyarakat bisa memahami bahwa program itu akan tumbuh dari, oleh dan untuk mereka.
Pemahaman inilah yang ingin dikuatkan dalam Program Community Centre Surabaya di 2012 ini. Program yang di-inisiasi Yayasan Unilever Indonesia sejak 2011 ini, bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya, dan didukung oleh LSM Wehasta dan Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya.
"Kami melihat, potensi yang ada di Surabaya cukup besar, terlebih dari segi peran serta masyarakatnya. Hal ini terwakili melalui peran fasilitator dalam Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya", ujar Ima Novita Rachmasari, selaku Environment Project Officer Yayasan Unilever Indonesia.
Program Community Centre 2012 pun, akan memberikan porsi besar kepada fasilitator melalui wadah Paguyuban, untuk meningkatkan peran dan kapasitasnya. Sebenarnya, peran fasilitator telah nampak pada program yang sama di tahun 2011. Namun di tahun ini, fasilitator akan terlibat lebih dalam, yaitu masuk struktur pelaksana Program Community Centre 2012.
"Kami ingin mengajak fasilitator sejak tahap perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi program. Ini seiring dengan kapasitas fasilitator yang terus meningkat dari waktu ke waktu", ujar Ima.
Jadilah struktur "pengurus" Program Community Centre terbentuk dari hasil diskusi dengan 35 Pengurus Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya. Di jajaran penasehat program, adalah Wihartuti Dwi Rahayu yang notabene adalah Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya.
Koordinator Program Community Centre, adalah M Tohir, yang saat ini menjabat Korwil Fasilitator Surabaya Timur. Ia dan seorang wakilnya, akan berkoordinasi dengan 5 orang fasilitator yang masing-masing ditunjuk sebagai Penanggung Jawab Program di tiap wilayah (Utara, Selatan, Pusat, Timur, Barat). Struktur pengurus program juga dilengkapi dengan Humas yang bertanggung jawab sebagai "jubir" program.
Seperti apa Program Community Centre 2012 dengan “sentuhan dingin” fasilitator ? Kita nantikan.

Berkah Melimpah Di Bank Sampah Manyar Mandiri

Wajah Afifah nampak berbunga-bunga. Tak disangkanya, pagi itu Ia mendapat tawaran modal untuk pengembangan “bisnis” telur asin yang sudah Ia tekuni selama + setahun belakangan. Selama ini, setiap kali Ia “kulak” telur mentah, Ia harus “deposit” uang sejumlah 5 juta rupiah untuk mendapat jatah sekitar 3000 biji telur yang akan diolahnya menjadi telur asin.
Lalu, dari mana tawaran modal itu berasal ?
Pagi itu, Pudji, fasilitator Kelurahan Manyar Sabrangan, Mulyorejo, Surabaya bersama beberapa Pengurus Bank Sampah Manyar Mandiri, Manyar Sabrangan mendatangi rumah Afifah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut.
Menurut Pudji, inisiatif ini lahir karena melihat omset Bank Sampah Manyar Mandiri yang terus menanjak tiap bulannya. Bank Sampah yang baru berjalan selama + 5 bulan itu, sudah mampu mengumpulkan omset lebih dari 5 juta rupiah.
“Sebenarnya pengurus sempat menawarkan pinjaman kepada nasabah, tapi hanya sedikit yang berminat karena kebanyakan ingin uangnya ditabung. Daripada omsetnya nganggur, kan bisa memberi manfaat untuk pengembangan usaha Bu Afifah”, ujar Pudji.
Menariknya lagi, menurut Pudji, pinjaman modal tersebut tidak dikenakan bunga. Menurutnya, ini adalah salah satu cara untuk memotivasi warga, bahwa dengan menjadi nasabah Bank Sampah Mandiri, Ia akan mendapat banyak manfaat. Targetnya adalah membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.
Lalu, apa yang membuat omset Bank Sampah Manyar Mandiri melesat begitu cepat ? Ya, kebiasaan memilah sampah, sebenarnya telah lama dilakukan warga setempat. Terlebih, Bank Sampah Manyar Mandiri didukung penuh oleh berbagai kalangan yang ada. Tidak hanya dari kalangan ibu, aparat setempat seperti RT dan RW juga mendukung. Bahkan, remaja Karang Taruna (Kartar) ikut andil dalam program lingkungan maupun bank sampah.
Diutarakan Pudji, dulu, hasil penjualan sampah 70% masuk kas lingkungan, yang 30% masuk kas Kartar. Ini sudah menjadi kesepakatan warga, karena anak-anak Kartar ikut andil dalam pemilahan dan pengepakan sampah terpilah. Namun, setelah adanya Sistem Bank Sampah, yang mana hasil penjualan sampah dikembalikan pada nasabah, warga makin semangat. Ini merupakan buah dari terpilihnya RW 3 Kelurahan Manyar Sabrangan sebagai salah satu wilayah percontohan Program Community Centre Surabaya.
“Kami pun menyesuaikan pembagian hasil penjualan sampah, jadinya untuk nasabah 90%, untuk kas Kartar 10%. Bagi kami, ini tidak jadi masalah, karena didasarkan kesepakatan warga dan kegiatan Kartar juga tetap berjalan”.
Motivasi warga untuk menjadi nasabah pun berlipat. Hingga akhir Maret 2012, nasabah Bank Sampah Mandiri tercatat sejumlah 183 orang. Bahkan, kini Bank Sampah Mandiri memiliki cabang di salah satu RT.
Banyaknya nasabah, membuat Bank Sampah Manyar Mandiri kini buka seminggu sekali, tiap Hari Minggu. “Dulu, kami buka dua minggu sekali, sekarang seminggu sekali tiap Hari Minggu. Tak jarang, kami harus buka sampai jam 3 sore untuk melayani nasabah. Kami tidak ingin mengecewakan nasabah yang sudah semangat memilah sampah”, ujar Andik, salah satu anggota Kartar yang juga pengurus Bank Sampah Manyar Mandiri.
Hal ini, membuat kreatifitas Andik muncul. Untuk efisiensi waktu dan tenaga, Ia membuat sistem administrasi di komputer untuk memudahkan pencatatan data bank sampah. “Kini, semua proses bank sampah sudah komputerisasi. Pengurus cukup sekali saja mengisi data jenis dan berat sampah serta nama nasabah yang menabung, maka data sudah terintegrasi ke buku besar, data mingguan, bulanan”.
Diakui Andik, sistem komputerisasi ini memudahkan siapapun yang ingin mengetahui data detil Bank Sampah Manyar Mandiri, kapan pun juga, hanya dengan menulis nama nasabah. Bahkan, bank sampah ini kerap mendapat kunjungan dari wilayah lain di Surabaya maupun luar kota yang ingin belajar tentang sistem bank sampah.

Euforia Kerinduan di Penghujung Tahun 2011


Penghujung tahun 2011, menjadi momen bagi Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya untuk “merapatkan barisan”, menatap program lingkungan Surabaya di 2012.
Selama dua hari (23,24/12/2011), Pengurus Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya, seakan mendapat “refleksi akhir tahun” di acara develop yang dikemas outbond.
“Refleksi akhir tahun” inipun terkemas ciamik. Diawali dialog interaktif “Peran Sosial Di Masyarakat”, bersama Dyah Katarina, Ketua Tim Pengrak PKK Kota Surabaya. Dialog pun menjadi tak ubahnya “ajang curhat” lingkungan.
Disambung kemudian, materi motivasi “Bekerja Dengan Hati” oleh Dhony Firmansyah, seorang Bio Motivator. Di akhir materi, isak tangis pun pecah, seakan para fasilitator meresapi betul bahwa yang mereka lakukan selama ini adalah “Bekerja Dengan Hati”.
Suasana makin akrab, saat “motivator” berikutnya adalah Bambang Dwi Hartono, Wakil Walikota Surabaya. Kehadiran figur yang selama ini punya andil besar dalam program lingkungan berkelanjutan di Surabaya itu pun, ikut larut bersama fasilitator dalam riuh lantunan bait lagu “kemesraan” hingga penghujung malam.
“Euforia kerinduan” pun tersaji selama dua hari develop Pengurus Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya itu. Seakan memberi energi baru bagi fasilitator, menatap program lingkungan Surabaya di 2012.

Kamis, 03 Mei 2012

Aksi Ibu-Ibu "Girly" Di Hari Aksi Surabaya Selatan


Diantara 10 wilayah Community Centre Surabaya, Jambangan RW 3 memiliki keunikan tersendiri. Wilayah ini, tergolong "bungsu" dalam Program Community Centre. Lantaran, sebelum menjadi "tuan rumah" Hari Aksi wilayah Surabaya Selatan (23/11/2011), sistem bank sampah, sebagai pengembangan kegiatan pemilahan sampah warga, baru berjalan dua bulan disitu.
Di sisi lain, "si bungsu" ini ternyata juga merupakan "saudara tertua".
Bagaimana bisa ?
Pasalnya, di kawasan Surabaya Selatan yang terletak di sekitar Bantaran Sungai Brantas inilah, sejak 2001 lalu, program lingkungan dan sampah mandiri bermula.
Maka tak heran, jika waktu dua bulan, cukup baginya untuk "merekrut" sekitar 30 nasabah dan omzet hampir mencapai 1 juta rupiah. Sistem bank sampah pun dijalankan dengan membentuk Bank Sampah "Girly".
Menurut Ibu Bakar, Sang Manager, nama tersebut sengaja dipilih karena pengurus bank sampah kebanyakan dari kalangan ibu. "Lagi pula, wilayah ini kan berada di pinggir kali, jadi kami singkat menjadi Girly", ujar Bu Bakar saat simulasi sistem bank sampah, di hadapan warga setempat, fasilitator Surabaya Selatan dan Dyah Katarina, selaku Ketua Tim Penggeak PKK Kota Surabaya yang menghadiri Hari Aksi ketika itu.
Diakuinya, kegiatan pemilahan sampah awalnya memang sempat mengalami "pasang surut". Namun, sejak adanya sistem bank sampah, dengan pencatatan perorangan, warga kembali termotivasi menyetorkan sampahnya. "Kami sangat terbantu Program Community Centre dan sistem bank sampah bisa diterima oleh warga", ujar Bu Bakar.
Dalam kesempatan tersebut, Dyah Katarina juga meninjau sekaligus meresmikan Bank Sampah "Girly".
Selain bank sampah, warga juga mengembangkan kreasi daur ulang dan minuman rosella sebagai produk unggulan. Dyah Katarina juga sempat melihat blog Community Centre Jambangan. Blog beralamatkan www.jambangan-community.blogspot.com ini dikembangkan oleh Karang Taruna setempat.
Di akhir Hari Aksi, Dyah berpesan agar apapun yang dikembangkan disini, bisa terus dipertahankan dan ditingkatkan demi memberi manfaat untuk warga.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More