![]() |
Di sisi
lain, "si bungsu" ini ternyata juga merupakan "saudara
tertua".
Bagaimana
bisa ?
Pasalnya,
di kawasan Surabaya Selatan yang terletak di sekitar Bantaran Sungai Brantas
inilah, sejak 2001 lalu, program lingkungan dan sampah mandiri bermula.
Maka tak
heran, jika waktu dua bulan, cukup baginya untuk "merekrut" sekitar
30 nasabah dan omzet hampir mencapai 1 juta rupiah. Sistem bank sampah pun
dijalankan dengan membentuk Bank Sampah "Girly".
Menurut
Ibu Bakar, Sang Manager, nama tersebut sengaja dipilih karena pengurus bank
sampah kebanyakan dari kalangan ibu. "Lagi pula, wilayah
ini kan berada di pinggir kali, jadi
kami singkat menjadi Girly", ujar Bu Bakar saat simulasi sistem bank
sampah, di hadapan warga setempat, fasilitator Surabaya Selatan dan Dyah
Katarina, selaku Ketua Tim Penggeak PKK Kota Surabaya yang menghadiri Hari Aksi
ketika itu.
Diakuinya,
kegiatan pemilahan sampah awalnya memang sempat mengalami "pasang
surut". Namun, sejak adanya sistem bank sampah, dengan pencatatan
perorangan, warga kembali termotivasi menyetorkan sampahnya. "Kami sangat
terbantu Program Community Centre dan sistem bank sampah bisa diterima oleh
warga", ujar Bu Bakar.
Dalam
kesempatan tersebut, Dyah Katarina juga meninjau sekaligus meresmikan Bank
Sampah "Girly".
Selain
bank sampah, warga juga mengembangkan kreasi daur ulang dan minuman rosella sebagai produk unggulan. Dyah Katarina juga sempat
melihat blog Community Centre Jambangan. Blog beralamatkan
www.jambangan-community.blogspot.com ini dikembangkan oleh Karang Taruna setempat.
Di akhir
Hari Aksi, Dyah berpesan agar apapun yang dikembangkan disini, bisa terus
dipertahankan dan ditingkatkan demi memberi manfaat untuk warga.




0 komentar:
Posting Komentar