Selamat Datang di Blog Community Centre Surabaya

www.communitycentresby.blogspot.com.

Penyelenggara dan Pendukung Community Center surabaya

Yayasan Unilever Indonesia bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya serta LSM Wehasta

5 Pilar Program Community Centre Surabaya

5 Pilar tersebut diantaranya Lingkungan, Ekonomi, Komunikasi, Sanitasi dan Nutrisi.

Focus Group Discussion

Focus Group Discussion sistem bank sampah di wilayah Community Centre Surabaya, oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya.

Workshop IT dan Penulisan Kreatif

Seorang ibu anggota kelompok kerja pilar komunikasi saat “Workshop IT dan Penulisan Kreatif” di Ruang Pertemuan Kampoeng Ilmu Surabaya, 22 Oktober 2011.

Rabu, 23 November 2011

Hari Aksi Wilayah Surabaya Timur


Baru dua bulan berjalan, bank sampah ini sudah menghasilkan omzet sekitar Rp 1,8 juta dengan nasabah mencapai 75 orang.

Bagaimana bisa pengurus Bank Sampah Manyar Mandiri, Kelurahan Manyar Sabrangan mencapainya ?
Afifah, Sang Manager pun membeberkan berbagai trik, saat simulasi sistem bank sampah di Hari Aksi Community Centre wilayah Surabaya Timur, Rabu (16/11/2011).

Ini adalah Hari Aksi "edisi kedua", yaitu di wilayah Manyar Sabrangan. Dyah Katarina, selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya hadir kala itu. Hadir juga, fasilitator dan lurah maupun camat se-wilayah Surabaya Timur.

Dalam sambutannya, Dyah Katarina menyampaikan, "Kita layak berbangga memiliki masyarakat dengan jiwa partisipatif yang tinggi, seperti disini. Khususnya di bidang lingkungan, melalui bank sampah. Masyarakat pun mendapat keuntungan ekonomis dari sampah. Salut untuk warga Manyar Sabrangan".

Sejalan dengan itu, Afifah mengakui bahwa, kebiasaan memilah sampah sebenarnya sudah dilakukan sejak lama, tapi sifatnya masih global. "Sejak ada sistem bank sampah, hasilnya dikembalikan pada nasabah, sesuai sampah yang disetornya. Selain administrasinya juga makin rapi", ujar Afifah.

Lebih lanjut dijelaskannya, pengurus bank sampah Manyar Mandiri, selain dari kalangan ibu-ibu kader lingkungan, juga Karang Taruna. Kalangan muda usia ini pun, perannya cukup dominan. Tiap Hari Minggu, dua minggu sekali saat bank dibuka, Karang Taruna lah yang melakukan pencatatan dan penimbangan sampah. "Kadang hingga siang hari kita baru selesai, padahal bank sudah buka sejak jam 8 pagi", ujar Andik salah seorang pengurus dari Karang Taruna.

Karena inilah, nasabah sepakat jika hasil penjualan sampah, sejumlah 90% untuk nasabah dan 10% untuk kas Karang Taruna. Pihak bank juga memberi fasilitas pinjaman bagi nasabah. "Apa ada, bank memberi kredit, tapi bayarnya pakai larakan (baca : sampah,Red)?, adanya ya di bank sampah", ujar Afifah disambut tawa audiens.

Seusai simulasi, peserta digiring melihat display produk unggulan "asli bikinan" warga Manyar Sabrangan. Diantaranya, souvenir dan hiasan berbahan dasar sampah plastik yang dilelehkan, ada juga telur asin buatan warga setempat.

Berlanjut meninjau bank sampah. Disini, Dyah Katarina sempat menorehkan kalimat motivasi di atas kanvas.
Bertolak dari bank sampah, "menu" berikutnya adalah meninjau water treatment. Alat ini dimanfaatkan warga untuk mengolah air limbah rumah tangga, menjadi lebih bersih dan tak berbau. Gunanya untuk menyiram tanaman.

Hingga sampai di "suguhan" terakhir, Karang Taruna menunjukkan blog milik Manyar Sabrangan. Begitu klik manyarsabrangan-community.blogspot.com, muncul acara Hari Aksi yang baru berlangsung. Tak ketinggalan, Dyah Katarina pun menulis komentar di blog tersebut.

Rabu, 16 November 2011

Hari Aksi Wilayah Surabaya Utara

Masih terbayang, begitu menggebu dan fasihnya Ibu Made, Manager Bank Sampah Bersih Ceria-Bulak Banteng bercerita tentang sistem bank sampah di wilayahnya. Masih terbayang juga, mimik serius ibu-ibu Tim Penggerak PKK Kota Surabaya menyimak simulasi sistem bank sampah. Belum lagi, antusias fasilitator se-Surabaya Utara mengerubuti pengurus Bank Sampah Bersih Ceria. Layaknya reporter, mereka menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang pembukuan dalam sistem bank sampah. Ada juga produk unggulan asli bikinan warga Bulak Banteng, seperti olahan makanan dari lele, keripik bayam dan sinom.

Hingga menjelang sore hari, mereka berkunjung meninjau Bank Sampah Bersih Ceria. Disitu pula, dari sebuah proyektor, pengunjung disuguhi blog yang memuat aktifitas di Bank Sampah Bersih Ceria. Acara Hari Aksi yang baru saja berlangsung pun, sudah diunggah ke www.bulakbanteng-community.blogspot.com milik wilayah Community Centre Bulak Banteng.
Itulah suasana Hari Aksi Community Centre "edisi perdana", yaitu di wilayah Surabaya Utara pada Rabu (9/11/2011).

Sejak dimulai pukul 3 sore, mendung kelam bergelayut, namun acara Hari Aksi Community Centre tetap bergulir begitu hangat dan asik. "Senang rasanya, saya jadi tahu tentang bank sampah. Saya akan coba lakukan di wilayah saya", ujar salah seorang fasilitator Surabaya Utara.
Hari Aksi Community Centre, digelar bergiliran sekali di 5 titik Surabaya (Utara, Selatan,Pusat, Timur, Barat). Disini, masyarakat bisa mempelajari bagaimana Program Community Centre berjalan di suatu wilayah, khususnya tentang sistem bank sampah.

Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya cukup apresiatif dengan diadakannya Hari Aksi. Seperti yang diutarakan Widya Wilopo, perwakilan TP PKK Kota Surabaya, "Di TP PKK Kota Surabaya juga terdapat Pokja yang membidangi lingkungan, karenanya PKK Kota Surabaya mendukung adanya Community Centre".

Saat Sampah Tak Lagi Menjadi "Sampah"

Persepsi seseorang terhadap sesuatu, sangat mempengaruhi cara seseorang memperlakukan sesuatu itu.

Menangani persoalan sampah artinya persoalan merubah paradigma. Kebanyakan orang mempersepsikan sampah, identik dengan efek negatif yang ditimbulkannya. Padahal ada kalanya, sebenarnya sampah tidak selalu berujung dengan bau, kotor, sumber masalah, penyakit, banjir dan dampak negatif lainnya. Seperti halnya pada program Bank Sampah. Disini, sampah (khususnya an organik) dikelola sedemikian rupa dengan cara yang dinamakan "Sistem Bank Sampah". Sampah diperlakukan layaknya barang berharga yang bernilai jual. Dikelola secara sistematis, mulai hulu hingga hilir. Sejak dari sumbernya (rumah tangga), hingga manfaatnya dikembalikan lagi pada sumbernya. 

Untuk jenis sampah organik pun, jika dikelola juga membawa berkah, berupa kompos sebagai "suplay vitamin" bagi tanaman. Bahkan, konon kompos dari pengolahan sampah rumah tangga, memiliki kandungan "vitamin" yang lebih baik dibanding kompos produksi pabrik, lantaran kelengkapan unsur di dalamnya.
Ternyata, ada sisi lain dari sampah yang tak selamanya negatif. Manakala sistem bank sampah ini berjalan, sampah pun bisa menjadi berkah.
Jika seperti ini, masihkah kita selamanya menganggap sampah itu "sampah"?

Lagi-lagi semua itu tergantung pada "persepsi". Mengulang kalimat di atas "Persepsi seseorang terhadap sesuatu, sangat mempengaruhi cara seseorang memperlakukan sesuatu itu". (fjr_kakek)

Jumat, 04 November 2011

Kembangkan Blog Inspiratif Community Centre

Ketua TP PKK saat membuka Workshop IT dan Penulisan Kreatif 
Salah satu pilar yang dikembangkan dalam Program Community Centre adalah Komunikasi. Melalui pilar komunikasi, wilayah Community Centre diharapkan bisa mengembangkan jaringan lewat dunia maya untuk menunjang pengembangan wilayah.

Bertempat di Kampoeng Ilmu Surabaya, selama dua hari (21-22/10/2011), para kelompok kerja pilar komunikasi Community Centre mengikuti Workshop Penulisan Kreatif dan IT. Sebagai narasumber penulisan kreatif adalah Diana AV Sasa, seorang penulis buku dan Hetty Palestina, salah seorang Redaktur Harian Radar Surabaya. Sedangkan workshop IT disampaikan oleh Putut Hermawan dari Jasawebsite.com.

Acara dibuka oleh Dyah Katarina, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya. Dalam sambutannya Ia mengatakan, "Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan secara bertanggung jawab dan efektif. Saya berharap melalui workshop ini, peserta bisa menulis hal positif tentang kampungnya agar menjadi inspirasi".

Seorang ibu saat Workshop IT dan penulisan kreatif
Workshop tersebut tak hanya diikuti kalangan muda usia yang dipandang melek IT. Beberapa diantaranya adalah ibu-ibu kader lingkungan penggerak bank sampah di wilayahnya. Salah satunya adalah Wiwiek, kader lingkungan dari wilayah Community Centre Gundih. "Kalau urusan milah-milah sampah, saya udah biasa. Tapi kalau masalah internet, saya ini gaptek (gagap teknologi, Red), tapi saya tak mau kalah dengan anak-anak muda, saya pun ingin bisa", ujarnya penuh semangat.

Usai workshop, sepuluh wilayah Community Centre pun memiliki blog masing-masing. Blog ini akan dikelola oleh kelompok kerja pilar komunikasi. Besar harapan, perjalanan program Community Centre tiap wilayah bisa diakses dan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas. (fjr_kkek)

Sistem Bank Sampah, Sederhana dan Mudah Dilakukan


Testimoni tiap pengurus bank sampah community centre
Seakan tak mau kalah, para manager bersautan tentang omzet, jumlah nasabah dan bagaimana perkembangan bank nya masing-masing. Tak ketinggalan juga reduksi sampah, kendala dan tips menjalankan sistem bank sampah.
Itulah yang terjadi saat 10 manager bank sampah dan pengurus wilayah Community Centre berkumpul dalam Develop Bank Sampah, Senin (10/10/2011).
Pendapat mereka pun bermacam-macam dengan adanya sistem bank sampah. Seperti yang diutarakan Made, Manager Bank Sampah "Bersih Ceria", Kelurahan Bulak Banteng. "Sejak menjalankan sistem bank sampah, warga makin semangat memilah, karena uangnya dikembalikan meski ditabung terlebih dahulu", ujar wanita yang juga berprofesi sebagai guru lingkungan hidup itu.
Ia pun bercerita, bahwa para nasabah juga melakukan kegiatan simpan pinjam dari modal tabungan para nasabah. Layaknya sebuah bank, jika nasabah ingin mengajukan kredit, Ia harus mengisi surat perjanjian dengan pihak bank. Besaran kreditnya pun, ditentukan dari hasil verifikasi dan persetujuan sang manager.
Mirip dengan Bank Sampah Bersih Ceria, Bank Sampah Lidah Harapan, Kelurahan Lidah Wetan pun melakukan hal yang sama. Bank Sampah Lidah Harapan, memiliki form khusus untuk aplikasi "kredit". Ada pula tips dari Bank Sampah Euphorbia, Kelurahan Gading. Untuk "menggenjot" omzet, pengurus juga menjaring nasabah dari sekolah TK yang lokasinya tak jauh dari bank sampah. "Kami ingin membiasakan sejak dini budaya memilah sampah pada anak-anak. Selain itu, otomatis orang tua si anak juga menjadi nasabah", ujar Misigiono salah seorang pengurus bank sampah Euphorbia.
Lebih lanjut, Wihartuti Dwi Rahayu, selaku Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya, tak ketinggalan menyampaikan tips tentang sistem bank sampah. "Menjalankan sistem bank sampah sebenarnya tidaklah sulit, tergantung strateginya. Asalkan, sampah kering sudah terpilah sejak dari rumah sesuai jenisnya", ujar wanita yang akrab disapa Bu Agus itu.
Untuk memudahkan administrasi, di bank sampah bisa dilakukan tiga proses. Pada meja 1, nasabah bisa mengambil secarik kertas untuk absen sekaligus menulis jenis sampah kering apa saja yang dibawa. Kemudian, di meja 2 dilakukan penimbangan sampah kering untuk mengetahui berat (kg) sampahnya. Barulah di meja 3, nasabah menyerahkan hasil penimbangan, yaitu berisi berat (Kg) dan tabungan (Rp) sampahnya untuk direkap di buku besar.
Saat ditanya, apakah sistem bank sampah bisa diterapkan khususnya oleh warga Surabaya, Ia mengatakan, "Jika ada kemauan dari berbagai unsur terkait dalam memberi edukasi, memfasilitasi dan aplikasi program, saya kira bisa", begitu pungkasnya. (fjr_kkek)

Sistem Bank Sampah, “Pintu Masuk” Community Centre Surabaya

Focus Group Discussion sistem bank sampah di Community Centre Surabaya
"Kader lingkungan, apa kabaar!", begitu pekiknya. Saat itu, Wihartuti Dwi Rahayu, Ketua Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya dan beberapa pengurusnya baru saja tiba di salah satu calon wilayah pilot project Program Community Centre.
Kala itu, beberapa wilayah di Surabaya memang sedang dipantau perkembangan program bank sampahnya. Ini dilakukan setelah sebulan sebelumnya diadakan pelatihan teknis sistem bank sampah disitu.
Sistem bank sampah, merupakan "pintu masuk" di pilar lingkungan, tahap awal bagi penentuan wilayah pilot project Program Community Centre. Tak hanya itu, calon wilayah pilot project pun harus melampaui target omzet, nasabah dan reduksi sampah melalui sistem bank sampah.
Seperti diketahui, Program Community Centre memiliki lima pilar, diantaranya Lingkungan, Ekonomi, Komunikasi, Sanitasi dan Nutrisi. Program ini diinisiasi oleh Yayasan Unilever Indonesia, bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan didukung oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya serta LSM Wehasta.
Community Centre merupakan program berkelanjutan, pendekatannya adalah dengan model pendampingan. Sejak awal disosialisasikan, tiap wilayah di lima titik Surabaya (Utara, Selatan, Pusat, Timur dan Barat) berhak mengajukan dan mempresentasikan program kerja Community Centre.
Pendampingan sistem bank sampah oleh Paguyuban Fasilitator Lingkungan Kota Surabaya
Tiap wilayah kemudian melakukan bedah lingkungan dan mendapat pendampingan. Hingga ditentukan wilayah pilot project Community Centre. Tiap lima titik Surabaya, masing-masing terdapat dua wilayah pilot project, sehingga ada sepuluh wilayah Community Centre se-Surabaya. Terbentuknya wilayah “model” Community Centre di tiap titik Surabaya, akan memudahkan proses pembelajaran bagi wilayah di sekitarnya.
Seperti yang diutarakan Wihartuti Dwi Rahayu, “Saya berharap, ke depan tiap kecamatan di Surabaya memiliki satu wilayah yang menjadi percontohan sistem bank sampah. Idealnya, wilayah ini akan menjadi dampingan fasilitator setempat”. Ia pun berharap, fasilitator bisa berperan secara berkesinambungan. (fjr_kkek)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More