Rabu, 16 November 2011

Saat Sampah Tak Lagi Menjadi "Sampah"

Persepsi seseorang terhadap sesuatu, sangat mempengaruhi cara seseorang memperlakukan sesuatu itu.

Menangani persoalan sampah artinya persoalan merubah paradigma. Kebanyakan orang mempersepsikan sampah, identik dengan efek negatif yang ditimbulkannya. Padahal ada kalanya, sebenarnya sampah tidak selalu berujung dengan bau, kotor, sumber masalah, penyakit, banjir dan dampak negatif lainnya. Seperti halnya pada program Bank Sampah. Disini, sampah (khususnya an organik) dikelola sedemikian rupa dengan cara yang dinamakan "Sistem Bank Sampah". Sampah diperlakukan layaknya barang berharga yang bernilai jual. Dikelola secara sistematis, mulai hulu hingga hilir. Sejak dari sumbernya (rumah tangga), hingga manfaatnya dikembalikan lagi pada sumbernya. 

Untuk jenis sampah organik pun, jika dikelola juga membawa berkah, berupa kompos sebagai "suplay vitamin" bagi tanaman. Bahkan, konon kompos dari pengolahan sampah rumah tangga, memiliki kandungan "vitamin" yang lebih baik dibanding kompos produksi pabrik, lantaran kelengkapan unsur di dalamnya.
Ternyata, ada sisi lain dari sampah yang tak selamanya negatif. Manakala sistem bank sampah ini berjalan, sampah pun bisa menjadi berkah.
Jika seperti ini, masihkah kita selamanya menganggap sampah itu "sampah"?

Lagi-lagi semua itu tergantung pada "persepsi". Mengulang kalimat di atas "Persepsi seseorang terhadap sesuatu, sangat mempengaruhi cara seseorang memperlakukan sesuatu itu". (fjr_kakek)

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More